Rupiah Tertekan ke 18.046 terhadap Dolar AS, Sentimen The Fed Membebani

Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih lesu pada perdagangan Senin, (19/10/2026).

Diterbitkan 19 Oktober 2026, 18:52 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Senin, (19/10/2026). Analis menilai, tekanan rupiah terhadap dolar AS dipicu potensi pengetatan kebijakan the Federal Reserve (the Fed) lebih lanjut.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Senin pekan ini turun 19 poin atau 0,11% menjadi 18.046 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 18.027 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp 18.050 per dolar AS dari sebelumnya Rp 18.052 per dolar AS.

“Pernyataan terkini dari pejabat the Federal Reserve mengisyaratkan mereka tetap terbuka terhadap pengetatan kebijakan lebih lanjut, meskipun belum ada sinyal kuat mengenai kenaikan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober,” kata dia.

Mengutip Anadolu, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan kembali komitmen bank sentral tersebut terhadap stabilitas harga, namun ia enggan memberikan sinyal mengenai keputusan kebijakan yang akan diambil dalam pertemuan-pertemuan yang tersisa tahun ini.

Dalam perbincangan dengan Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF), Kristalina Georgieva, di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Bangkok, Thailand, Warsh menyatakan bahwa The Fed telah menarik sebagian akomodasi moneternya sekitar satu bulan yang lalu.

Dirinya menuturkan perkembangan yang terjadi sejak pertemuan bulan September secara umum sesuai dengan ekspektasi. Warsh menambahkan bahwa para pengambil kebijakan akan mengevaluasi data mengenai output, ketenagakerjaan, dan inflasi saat menentukan langkah kebijakan pada pertemuan bulan Oktober dan Desember mendatang.

Dia memilih untuk tidak mendahului keputusan dalam pertemuan-pertemuan tersebut, seraya menyebut pendekatannya sebagai bagian dari babak baru di The Fed.

Di samping itu, sentimen juga berasal dari pembicaraan antara AS dan Iran masih menemui jalan buntu, sementara ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Ansarullah di Yaman terus meningkat.

“Di tengah situasi ini, para pelaku pasar secara luas memperkirakan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun,” ujar Ibrahim.

 

Rupiah Tersengat Sentimen MSCI dan Harga Minyak

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada pembukaan perdagangan Senin (19/10/2026) ke level 18.035 per dolar AS. Analis menilai rupiah masih menghadapi tekanan dari dalam negeri dan luar negeri, termasuk kekhawatiran investor terhadap pasar modal Indonesia serta meningkatnya ketegangan geopolitik yang mendorong harga minyak dunia.

Meski demikian, langkah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) diharapkan dapat membantu memulihkan kepercayaan pasar.

Pada pembukaan hari ini, rupiah tercatat melemah 8 poin atau 0,04 persen ke level 18.035 per dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi 18.027 per dolar AS.

Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut di tengah berbagai sentimen yang memengaruhi pasar keuangan.

“Rupiah diperkirakan masih dalam tekanan internal maupun eksternal, walau sanksi OJK (Otoritas Jasa Keuangan) serta hearing BEI (Bursa Efek Indonesia) mungkin dapat membantu memulihkan kepercayaan pasar,” ujarnya dikutip dari Antara.

Salah satu sentimen domestik yang menjadi perhatian investor adalah laporan konsultasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai potensi perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia.

 

 

Sorotan MSCI

MSCI mengusulkan agar status Indonesia diubah dari Emerging Market atau pasar berkembang menjadi Standalone Market atau pasar mandiri. Masukan dari pelaku pasar akan diterima hingga 30 April 2027, sedangkan keputusan final diharapkan dapat ditetapkan sebelum 30 Juni 2027.

Dalam laporan tersebut, MSCI menyebut belum terdapat kemajuan yang cukup dan konsisten di seluruh pasar ekuitas Indonesia berdasarkan masukan yang diterima dari pelaku pasar.

MSCI juga menyoroti kekhawatiran terkait disfungsi pasar, termasuk dugaan praktik perdagangan yang terkoordinasi serta belum memadainya bukti penegakan aturan.

Kondisi ini menjadi perhatian karena kepercayaan investor terhadap transparansi dan integritas pasar modal turut memengaruhi keputusan investasi. Ketidakpastian tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap aset keuangan Indonesia, termasuk rupiah.

 

Konflik Geopolitik Dorong Harga Minyak

Dari sisi global, peningkatan ketegangan di Timur Tengah atau Asia Barat serta perang Rusia-Ukraina kembali menjadi perhatian pasar. Konflik tersebut berpotensi mengganggu pasokan energi dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Lukman menyoroti perkembangan konflik di kedua kawasan yang dapat memengaruhi sentimen pasar keuangan.

“Di Timteng tentunya serangan Iran pada kapal-kapal di Selat Hormuz dan di Eropa, Rusia dan Ukraina meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak,” ucap Lukman.

Kenaikan harga minyak berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah, terutama melalui kebutuhan dolar AS untuk pembayaran impor energi. Di tengah ketidakpastian geopolitik, pergerakan harga komoditas dan perubahan preferensi investor terhadap aset berisiko juga dapat memengaruhi nilai tukar.

Dengan mempertimbangkan faktor domestik dan global tersebut, Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang 17.950 per dolar AS hingga 18.100 per dolar AS.

Proyeksi tersebut menunjukkan rupiah masih berpotensi bergerak fluktuatif. Perkembangan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia, kebijakan otoritas keuangan, serta situasi geopolitik akan menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati dalam pergerakan rupiah selanjutnya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6