Makna di Balik Simbolisme Pemakaman Ali Khamenei

Rangkaian upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei selama sepekan sarat dengan simbolisme.

Diterbitkan 07 Juli 2026, 13:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Teheran - Rangkaian upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei selama sepekan sarat dengan simbolisme yang diarahkan untuk memperkuat pesan-pesan keagamaan dan politik yang mendukung pemerintah.

Dikutip dari Aljazeera, Selasa (7/7/2026), melalui narasi resmi yang disusun secara cermat hingga demonstrasi yang telah diorganisasi, pemerintah Iran membangun citra persatuan di kalangan para pendukungnya. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mempertegas legitimasi pemerintahan Republik Islam yang telah berkuasa sejak Revolusi Iran 1979.

Prosesi pemakaman diawali dengan masa berkabung selama tiga hari di Teheran. Setelah itu, iring-iringan jenazah akan melintasi sejumlah kota di Iran dan Irak dalam rute yang dipenuhi simbol-simbol yang merepresentasikan perjalanan hidup Khamenei sekaligus nilai-nilai penting dalam Islam Syiah.

Khamenei menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989 hingga tewas dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu. Kepemimpinan kemudian beralih kepada putranya, Mojtaba Khamenei, yang resmi menjadi kepala negara pada Maret lalu.

Sejak kematian Khamenei, pemerintah Iran secara konsisten menekankan narasi bahwa ia gugur sebagai seorang "syahid". Otoritas setempat juga mendorong anggapan bahwa berkabung atas wafatnya Khamenei merupakan kewajiban seluruh bangsa.

Slogan resmi yang diusung dalam rangkaian pemakaman berbunyi "Kita Harus Bangkit". Kalimat tersebut terpampang di berbagai spanduk dan gambar yang dibawa para pelayat di Iran. Sementara untuk publik internasional dan masyarakat berbahasa Arab, pemerintah menggunakan slogan "Bangkitlah karena Allah". Kedua slogan itu merujuk pada ayat Al-Qur'an yang mengajak umat Islam bangkit memperjuangkan tujuan yang bersifat ilahiah.

 

Kepalan Tangan Menjadi Simbol Perlawanan

Ilustrasi kepalan tangan Khamenei dengan latar merah dan hitam menjadi simbol paling menonjol dalam rangkaian pemakaman. Gambar tersebut digunakan secara luas dalam materi propaganda pemerintah sejak kematiannya.

Simbol itu berakar dari sebuah pesan singkat yang dikaitkan dengan Mojtaba Khamenei. Pesan tersebut menjadi satu-satunya komunikasi yang dikaitkan dengannya sejak ia menggantikan sang ayah sebagai pemimpin tertinggi.

Dalam pesan yang dirilis pada 12 Maret, sesaat sebelum tewasnya Kepala Keamanan Ali Larijani, Mojtaba menyebut dirinya "mendengar bahwa tangan Khamenei yang masih sehat tetap mengepal".

Pernyataan itu merujuk pada kondisi Ayatollah Ali Khamenei yang kehilangan fungsi lengan kanannya akibat luka serpihan bom dan luka bakar dalam upaya pembunuhan pada 1981.

Demi alasan keamanan dan untuk menghindari potensi serangan, Mojtaba Khamenei diperkirakan tidak akan menghadiri seluruh rangkaian pemakaman ayahnya.

Penggunaan warna hitam dan merah dalam berbagai atribut upacara juga memiliki makna tersendiri. Kedua warna tersebut melambangkan duka cita, kesyahidan, sekaligus seruan untuk melakukan pembalasan.

"Dalam lautan manusia yang mengiringi pemimpin mereka menuju peristirahatan terakhir, terdengar dua seruan utama, yaitu perlawanan terhadap musuh dan pembalasan atas darah pemimpin Iran yang gugur sebagai syahid," demikian pernyataan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pada Minggu sore.

 

Bendera Merah

Bendera merah berukuran raksasa juga dikibarkan di Grand Mosalla, kompleks keagamaan terbesar di Teheran, tempat jenazah Khamenei disemayamkan pada Sabtu dan Minggu untuk penghormatan terakhir serta pelaksanaan salat jenazah sebelum prosesi utama pada Senin.

Di atas bendera itu tertulis kalimat berbahasa Arab, "Wahai para penuntut balas Hussein". Simbol tersebut menghubungkan kematian Khamenei dengan peristiwa Karbala di Irak, tempat cucu Nabi Muhammad SAW, Hussein bin Ali, terbunuh sekitar 1.300 tahun lalu.

Narasi tersebut memperkuat pesan bahwa pembalasan terhadap Amerika Serikat dan Israel diposisikan sebagai kewajiban religius. Meski demikian, hingga kini belum jelas bentuk respons yang akan ditempuh pemerintah Iran.

Ketika Jenderal Qassem Soleimani tewas akibat serangan udara Amerika Serikat pada 2020, Iran membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di Irak tanpa menimbulkan korban jiwa. Saat itu, militer Iran menegaskan bahwa pengusiran pasukan Amerika dari kawasan Timur Tengah tetap menjadi strategi balasan jangka panjang mereka.

 

Rute Pemakaman Sarat Makna Ideologis

Rute yang dipilih untuk mengiringi jenazah Khamenei juga mengandung pesan simbolis yang kuat. Perjalanan dimulai dari Kota Qom di selatan Teheran, kemudian berlanjut ke Najaf dan Karbala di Irak—dua kota suci bagi umat Syiah—sebelum akhirnya dimakamkan di Mashhad, tepatnya di kompleks makam Imam Reza.

Pemilihan Grand Mosalla sebagai lokasi awal prosesi juga dinilai memiliki makna tersendiri. Kompleks tersebut dibangun untuk menghormati Ruhollah Khomeini, Pemimpin Tertinggi pertama Republik Islam Iran, sehingga menjadi simbol kesinambungan kepemimpinan antara Khomeini dan Khamenei.

Qom selama ini menjadi pusat legitimasi ulama dan lembaga pendidikan agama yang menopang sistem pemerintahan teokrasi Iran. Kota itu juga menjadi lokasi demonstrasi besar menentang Dinasti Pahlavi yang mendukung Khomeini, yang kemudian bermuara pada Revolusi Iran tahun 1979.

Sementara itu, Najaf memiliki posisi penting dalam tradisi Syiah karena berkaitan dengan Imam Ali, imam pertama yang sangat dihormati umat Syiah. Kota tersebut berkembang di sekitar makam Imam Ali yang kini menjadi salah satu tempat paling suci dalam Islam Syiah.

Setelah singgah di Karbala dan Mashhad, perjalanan jenazah Khamenei pada dasarnya menjadi rangkaian simbolis yang merepresentasikan fondasi ideologi Republik Islam Iran sekaligus otoritas ulama Syiah. Selama lebih dari lima dekade, kedua fondasi tersebut menjadi bagian dari upaya Iran memperluas pengaruh Islam Syiah lintas negara.