Harga Minyak Anjlok 20%, Nasib Pasar Bergantung Kesepakatan Damai AS-Iran

Kesepakatan damai AS-Iran membuat harga minyak melemah, tetapi ketidakpastian di Timur Tengah masih menjadi ancaman terbesar bagi pasar global.

Diterbitkan 07 Juli 2026, 07:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia memang terus melemah dan memberikan angin segar bagi konsumen. Namun, analis memperingatkan bahwa keberlangsungan kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran masih menjadi faktor risiko terbesar bagi pasar global hingga akhir tahun.

Kepala Ekonom Global Oxford Economics, Ryan Sweet, mengatakan arah pergerakan pasar pada paruh kedua 2026 sangat bergantung pada apakah kesepakatan damai antara AS dan Iran benar-benar mampu bertahan.

Sejak kedua negara menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri perang dan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, harga minyak dunia telah turun lebih dari 20%. Pada saat yang sama, pasar saham global justru menguat.

Mengutip Yahoo Finance, Selasa (7/7/2026), kontrak berjangka minyak Brent diperdagangkan di kisaran US$ 72 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di bawah US$ 69 per barel.

Penurunan harga minyak tersebut ikut mendorong optimisme investor di pasar saham. Namun, menurut Sweet, kondisi itu hanya dapat bertahan apabila perdamaian di Timur Tengah tetap terjaga.

 

Harus Ada Tindak Lanjut Permanen

Ryan Sweet menilai kesepakatan damai yang bertahan akan memberikan dampak positif bagi perekonomian global.

"Kesepakatan damai yang bertahan akan menghasilkan serangkaian kondisi yang lebih longgar, mulai dari turunnya inflasi energi, ruang yang lebih besar bagi bank sentral dalam menentukan kebijakan, kondisi pasar keuangan yang lebih longgar, hingga memberikan kelegaan bagi negara-negara berkembang," tulis Sweet kepada kliennya.

Namun, ia mengingatkan bahwa kesepakatan tanpa tindak lanjut menuju perdamaian yang lebih permanen justru akan menciptakan volatilitas yang sulit dipertahankan.

"Namun, kesepakatan tanpa adanya perjanjian damai lanjutan akan bersifat sangat fluktuatif dan mustahil dipertahankan," lanjutnya.

Menurut Oxford Economics, sejumlah risiko lain yang akan membayangi pasar pada paruh kedua tahun ini antara lain kebijakan perdagangan, rantai pasok industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), keputusan bank sentral, stimulus ekonomi China, hingga pemilu sela di AS.

Jika kesepakatan damai gagal dipertahankan, kenaikan harga energi berpotensi mendorong bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut juga dapat menekan negara-negara Asia yang bergantung pada impor energi serta meningkatkan biaya produksi industri teknologi, termasuk pemasok komponen AI.

 

 

108 Kapal Berhasil Melintasi Selat Hormuz

Sweet menegaskan bahwa hampir seluruh risiko tersebut saling berkaitan dan bermuara pada situasi di Timur Tengah.

"Semua risiko ini saling berhubungan. Pertanyaan utamanya adalah bagaimana perkembangan kesepakatan damai di Timur Tengah," ujarnya.

Jika kesepakatan tetap berjalan, pasar diperkirakan akan terus mendapat sentimen positif. Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz juga terus meningkat sejak nota kesepahaman ditandatangani.

Berdasarkan data perusahaan intelijen Kpler, sebanyak 108 kapal berhasil melintasi jalur masuk dan keluar Selat Hormuz selama libur Hari Kemerdekaan AS pada akhir pekan 4 Juli.

Meski demikian, Sweet menilai masih ada faktor positif lain yang dapat menopang pasar, yakni investasi di sektor kecerdasan buatan yang lebih kuat dari perkiraan. Belanja infrastruktur untuk pembangunan pusat data, utilitas, hingga persiapan Olimpiade diperkirakan mampu memberikan dorongan tambahan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa risiko gagalnya kesepakatan damai masih terbuka lebar. Konflik di Lebanon, serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz, maupun potensi serangan udara baru dari AS pernah menggagalkan pembicaraan setelah penandatanganan nota kesepahaman.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6