Liputan6.com, Teheran - Warga Iran berbondong-bondong memadati jalan utama di pusat Teheran pada hari keempat masa berkabung untuk mendiang mantan pemimpin tertinggi Ali Khamenei yang tewas dibunuh. Mereka menyatakan, perlawanan selama berbulan-bulan menghadapi perang yang datang dan pergi justru membuat mereka semakin kuat. Banyak di antara mereka juga menyerukan balas dendam.
Bagi para peserta prosesi, momen itu bukan sekadar ungkapan duka. Ini juga menjadi unjuk patriotisme: pernyataan bahwa Iran, sebagai sebuah peradaban kuno, telah menghadapi negara adidaya terbesar di dunia dan tetap bertahan.
"Kami, rakyat, adalah rudal sejati Iran," bunyi salah satu spanduk seperti dilaporkan The Guardian, Senin (6/7).
Advertisement
Seruan penuh amarah terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terdengar saat massa berjalan menyusuri Jalan Azadi yang rindang dan dijaga longgar menuju Lapangan Revolusi. Namun, di antara sebagian orang yang hadir, terasa pula semacam kelegaan yang hening, seolah inilah kesempatan pertama mereka untuk berbagi pengalaman bertahan hidup—momen untuk menarik napas, lalu melanjutkan langkah, dengan kebanggaan pada identitas Iran meski tidak selalu pada pemerintahnya.
"Selamat datang di Iran kami" menjadi sapaan yang paling sering terdengar untuk orang asing di tengah kerumunan.
Pejabat Iran dikenal piawai menggelar unjuk kekuatan massa dan seluruh elemen khas pawai di Iran tampak dalam prosesi itu. Tabuhan drum dan teriakan memenuhi udara. Bendera-bendera raksasa dikibarkan dari atas truk, sementara banyak plakat ditulis dalam bahasa Inggris dan Farsi. Keluarga yang membawa anak-anak di kereta bayi, lansia di kursi roda, laki-laki berkaus "Louis Vuitton", hingga perempuan bercadar berpayet atau mengenakan visor hitam bersulam ikut berjalan dalam prosesi. Di tengah suhu 36 derajat Celsius, para peserta disemprot air tipis-tipis untuk menyejukkan tubuh.
Suasana itu sangat berbeda dari kesedihan dan kekhusyukan religius dalam doa-doa di Imam Khomeini Mosalla, Teheran, pada awal rangkaian pemakaman Ali Khamenei yang berlangsung enam hari.
"Tentu saja Iran memenangkan perang. Lihat saja jumlah orang di jalanan. Kalau Trump meninggal hari ini, apakah orang-orang akan datang ke pemakamannya?" kata Fatima Zadeh, salah satu pelayat. "Saya ingin perang dimulai lagi. Kami ingin menghancurkan para penindas dan kami menginginkan balas dendam. Orang-orang ini datang bukan untuk berkabung dan meneteskan air mata. Mereka datang untuk bersatu dan memperoleh kekuatan."
Â
Dorongan Membangun Senjata Nuklir
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288911/original/009516500_1783343576-ali6.jpg)
Ali Sayadian, seorang ulama dari Yasuj, juga tidak menunjukkan tanda-tanda ingin memaafkan. Ia mengatakan telah menempuh perjalanan 1.000 kilometer ke Teheran karena merasa "berutang" kepada kepemimpinan Ali Khamenei yang, menurutnya, telah membuat Iran kuat.
"Seseorang datang ke sini dan membunuh pemimpin kami di rumahnya, bersama keluarganya. Ia sosok besar bagi kami. Kami berhak menuntut pembalasan," tegas Ali.
Menurut Sayadian, prosesi itu membawa pesan bagi seluruh dunia, termasuk bagi mereka yang meragukan dukungan di dalam negeri terhadap Republik Islam.
"Orang-orang yang Anda lihat di jalan ini? Anda tidak bisa mengatakan mereka semua miskin. Anda tidak bisa mengatakan mereka semua kaya. Anda juga tidak bisa mengatakan mereka berasal dari satu wilayah tertentu. Mereka datang dari seluruh Iran. Inilah suara bangsa Iran," tuturnya.
Tentu, mereka yang rela menempuh perjalanan jauh untuk menghadiri pemakaman pemimpin tertinggi—seorang pakar menyebut jarak rata-ratanya mencapai sekitar 1.600 kilometer—merupakan kelompok yang sejak awal sudah tersaring dengan sendirinya. Mereka yang memilih tidak hadir mungkin memiliki pandangan berbeda tentang pilihan-pilihan yang harus diambil Iran di bawah arahan sang pemimpin tertinggi demi mengejar kemerdekaannya. Bahkan di antara mereka yang hadir dalam prosesi, pandangan dan alasan untuk datang pun bisa beragam.
Â
Namun, beberapa orang yang hadir diliputi penyesalan karena merasa belum berbuat cukup untuk melindungi pemimpin tertinggi, sosok yang mereka anggap sebagai bapak bangsa.
Maryam Ghiyasi, seorang dokter, mengatakan, "Para pemimpin kami meminta kami tetap menegakkan kepala. Kami malu karena tidak berbuat cukup saat ia masih hidup. Ia adalah pemimpin yang ingin membuat Iran kuat."
Suaminya, Hamid Razavi, seorang insinyur, memuji kepemimpinan Iran sebagai yang pertama dalam 200 tahun terakhir yang menandatangani perjanjian damai tanpa membuat Iran menyerahkan wilayah kepada pihak asing.
Ali Hovayzavi, seorang insinyur perangkat lunak untuk perusahaan-perusahaan akuntansi, menuturkan, "Saya berada di sini karena banyak alasan—untuk membuat sebagian orang berharap dan sebagian lainnya putus asa."
Ia mengaku nyaris terkena bom di Teheran.
"Saya tidak takut. Setiap orang pada akhirnya akan mati dan tidak ada siapa pun selain Tuhan yang menentukan kapan, di mana, dan bagaimana seseorang mati. Bahkan jika banyak bom berada di sekitar saya, jika Tuhan tidak menghendaki saya mati, saya tidak akan mati," kata Ali.
Sementara itu, beberapa peserta prosesi pemakaman Ali Khamenei mendatangi para wartawan dan mengatakan para pemimpin Iran kini harus berpacu membangun senjata nuklir.
"Apakah Hiroshima akan diserang jika saat itu Jepang memiliki senjata nuklir?" tanya Reza Aziz. "Bukankah Rusia tetap aman setelah menginvasi Ukraina karena memiliki senjata nuklir? Mengapa Israel boleh memiliki senjata nuklir dan tidak menandatangani Traktat Non-Proliferasi Nuklir?"
Berdiri di bawah naungan halte bus dengan poster bertuliskan "bunuh Trump", Mohammad Mousabvi, 50 tahun, seorang pelatih senam, memandang peristiwa ini sebagai benturan peradaban.
"Ya, saya datang untuk menjaga ingatan terhadap imam kami, tetapi saya juga datang untuk menghadapi Trump. Jalan ini adalah jalan peradaban Islam dan dengan pertolongan Tuhan, peradaban itu akan menang atas peradaban neoliberalisme. Kami telah mengajarkan dan akan terus mengajarkan, kepada orang-orang Barat bahwa peradaban Barat tidak lain adalah jalan buntu. Balas dendam atas pemimpin kami adalah dengan menghancurkan Israel dan AS untuk selamanya. Peradaban kami berlandaskan Nabi Muhammad, Musa, dan Isa, sedangkan peradaban Barat dibentuk oleh orang-orang dari Pulau Epstein," ungkap Mohammad dengan nada yang sepenuhnya tenang.
Moftabva Karbvasi, seorang profesor di sekolah kedokteran di Isfahan, berdiri di luar gerbang Universitas Teheran dan menyampaikan uraian singkat tentang apa yang ia sebut sebagai peran AS dalam membangun ISIS untuk mendiskreditkan Islam di Barat.
"Namun, dunia semakin mengenal agama kami dari hari ke hari. Ketika perhatian dunia kembali tertuju pada Iran, kami dapat memanfaatkan momentum ini. Untuk pertama kalinya, AS tahu bahwa mereka tidak akan berani menyerang kami lagi," kata Moftabva.Dari Teheran, jenazah Ali Khamenei dan empat anggota keluarganya yang gugur pada 28 Februari kini telah tiba di Qom, salah satu pusat teologi terbesar bagi umat Islam syiah, sebagai rangkaian dari prosesi pemakaman. Selanjutnya, iring-iringan jenazah akan diberangkatkan lintas negara menuju dua kota paling suci dalam tradisi syiah di Irak, yakni Najaf dan Karbala, sebelum akhirnya diterbangkan kembali untuk dibaringkan di peristirahatan terakhir mereka di Mashhad, Iran, yang merupakan lokasi dari Kompleks Makam Suci Imam Reza.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289169/original/028294300_1783394455-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-07T102043.787.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5143694/original/079839900_1740549746-WAWANCARA_PRESIDEN_KE-6_SBY_ANG__15_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7676875/original/060602200_1780471869-Tugas__23_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1791827/original/015659300_1512525714-10321102_10205492268656460_4374129301795033883_o.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288912/original/021388700_1783343576-ali7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411708/original/048619800_1479708636-Iran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411598/original/098494900_1479704927-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1384773/original/024567600_1477395058-Donald_Trump.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289170/original/048335500_1783394486-063_2284674341.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289160/original/045856400_1783393532-063_2284950784.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289056/original/097559000_1783389885-063_2284969451.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8709339/original/015500500_1782788430-neymar.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8929771/original/004907300_1782959836-bos3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5516473/original/017053500_1772306812-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8906115/original/073442900_1782946797-belgia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288986/original/034116600_1783373945-000_B9FD7NA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288982/original/076824500_1783372194-000_B9FD6YV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289082/original/010364100_1783391411-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540890/original/069512000_1774841005-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9111139/original/028149300_1783060772-IMG_0039.jpeg)