Liputan6.com, Jakarta - Menelusuri sejarah peradaban Islam tentu tidak dapat dilepaskan dari kisah perjalanan Rasulullah Saw yang penuh hikmah. Setiap jejak langkah beliau, dari masa kecil di gurun Makkah hingga diangkat menjadi utusan Allah SWT, menyimpan ribuan pelajaran berharga bagi kehidupan seluruh umat manusia.
Perjalanan jauh atau safar dalam pandangan Islam bukan sekadar perpindahan fisik semata. Kata safar bermakna menyingkap atau menjadikan seseorang dan perilakunya tampak dengan jelas saat ia keluar meninggalkan batas tempat tinggal atau negerinya.
Di dalam kitab Lisanul Arab karya Ibnu Manzhur, para ulama secara tegas mendefinisikan bahwa safar adalah kebalikan dari menetap. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mulk ayat 15: "Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya."
Advertisement
Ayat tersebut menjadi dalil betapa pentingnya sebuah perjalanan untuk merenungi tanda-tanda kebesaran Ilahi. Dari tapak tilas perjalanan Rasulullah, umat Islam diajarkan nilai ketangguhan, adab bermuamalah, dan pentingnya menjaga ketaatan kepada Sang Khalik di mana pun berada.
Kisah-Kisah Perjalanan Rasulullah SAW yang Penuh Hikmah
Sejak usia dini, kehidupan Nabi Muhammad SAW telah diwarnai dengan berbagai perjalanan yang membentuk mental, fisik, dan spiritualnya sebelum menerima risalah kenabian.
1. Perjalanan Masa Susuan ke Bani Sa'ad
Perjalanan pertama beliau terjadi tak lama setelah dilahirkan. Sesuai tradisi bangsawan Arab masa itu, bayi Muhammad diserahkan kepada ibu susuan, Halimah As-Sa'diyah, untuk dibawa ke pedalaman gurun Bani Sa'ad.
Dalam kitab Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, dijelaskan bahwa perjalanan dan kehidupan di pedalaman ini bertujuan untuk membentuk fisik yang kuat, mental yang tangguh, serta penguasaan bahasa Arab yang sangat murni (fushah) yang kelak sangat dibutuhkan dalam menyampaikan dakwah Al-Qur'an.
Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada hari Senin, 12 Rabi'ul Awal Tahun Gajah, bertepatan dengan 21 April 571 Masehi, di Kota Mekkah. Tahun kelahiran beliau dikenal dengan peristiwa tentara bergajah pimpinan Abrahah yang hendak menghancurkan Ka'bah, namun digagalkan oleh burung Ababil sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Fil.
Beliau lahir dari keluarga baik-baik dan dari pernikahan syar'i dengan nasab yang bagus, sebuah pelajaran berharga bagi orang tua untuk selektif dalam memilih pasangan jika menginginkan keturunan yang baik.
Keyatiman, ditinggal wafat ayahnya sejak dalam kandungan dan ibunya pada usia 6 tahun, justru membentuk kepribadian yang tangguh. Keyatiman membuatnya peka terhadap penderitaan sosial, melembutkan hati, memberikan ketahanan internal yang membuatnya kokoh menghadapi rintangan di kemudian hari.
Kehidupan di pedesaan membuatnya akrab dengan alam dan tumbuh sehat serta kuat. Di masa remaja, Muhammad SAW menjaga diri dari kebiasaan buruk yang lazim di masyarakat Arab.
Beliau tidak pernah mengikuti pesta maupun pergaulan bebas, dan terbiasa menggembala kambing, berdagang, serta membantu pamannya. Akhlak mulia, kejujuran, dan kecerdasannya membuat beliau mendapat gelar Al-Amin (orang yang dapat dipercaya).
2. Perjalanan ke Syam Bersama Abu Thalib (Usia 12 Tahun)
Pada usia 12 tahun, Muhammad muda diajak oleh pamannya, Abu Thalib, melakukan perjalanan bisnis kafilah dagang ke negeri Syam (Suriah). Ini menjadi perjalanan dagang pertama yang mengungkap kemuliaan dan keistimewaan Muhammad SAW sejak usia belia.
Di tengah perjalanan, tepatnya di daerah Bushra, kafilah tersebut bertemu dengan seorang pendeta Nasrani bernama Buhaira. Pendeta Buhaira melihat awan yang senantiasa menaungi Muhammad dan mengenali tanda-tanda kenabian dari kitab suci terdahulu (Taurat dan Injil).
Ibnu Hisyam mencatat bahwa Buhaira memperingatkan Abu Thalib untuk menjaga keponakannya tersebut dari bahaya, karena anak tersebut akan memiliki masa depan yang agung sebagai utusan Tuhan.
3. Perjalanan Dagang Membawa Harta Khadijah (Usia 25 Tahun)
Di usia pemuda yang matang, Muhammad SAW dipercaya memimpin ekspedisi dagang besar ke Syam membawa barang dagangan milik Khadijah binti Khuwailid, ditemani oleh pelayan Khadijah, Maisarah.
Kejujuran serta kecakapan Muhammad dalam berdagang membuat Khadijah terkesan. Setelah kembali dari perjalanan, Maysarah melaporkan semua keistimewaan yang dilihatnya selama perjalana.
Khadijah akhirnya meminang Muhammad menjadi suaminya. Pernikahan mereka menjadi rumah tangga yang harmonis, dan Khadijah selalu mendukung perjuangan Nabi, termasuk ketika beliau menerima wahyu pertama.
Perjalanan ini memperlihatkan sifat mutlak yang harus dimiliki seorang pemimpin, yakni keadilan, kejujuran, dan transparansi (Al-Amin). Dalam Sirah Nabawiyah, kesuksesan dagang ini bukan karena manipulasi, melainkan karena akhlak berniaga yang jujur. Maisarah pun melaporkan akhlak mulia ini kepada Khadijah, yang berujung pada pernikahan penuh berkah di antara keduanya.
4. Perjalanan Spiritual Menuju Gua Hira
Menjelang masa kenabiannya, Muhammad SAW sering melakukan perjalanan keluar dari hiruk-pikuk kota Makkah untuk menyendiri (tahannuts) di Gua Hira, merenungi kerusakan moral kaumnya.
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari ketika mengomentari hadis Bukhari tentang permulaan wahyu menjelaskan bahwa perjalanan ini adalah bentuk pencarian kebenaran (khalwat) yang ditanamkan oleh Allah SWT ke dalam hati beliau, hingga akhirnya turunlah wahyu pertama, Surat Al-Alaq ayat 1-5, melalui Malaikat Jibril.
Islam memandang safar sebagai mazhinnat al-masyaqqah (kondisi yang diduga kuat mendatangkan kesulitan).
Aulia Fadhli dalam Buku Tuntunan Shalat Musafir dan Abdullah Haidir dalam Ebook Panduan Musafir menjelaskan bahwa Allah SWT memberikan rukhshah (keringanan) ibadah bagi musafir:
• Qashar Shalat: Meringkas shalat fardhu yang empat rakaat (Zuhur, Asar, Isya) menjadi dua rakaat.
• Jamak Shalat: Menggabungkan dua shalat pada satu waktu (Taqdim atau Takhir) agar musafir tidak kesulitan mencari waktu henti.
• Bebas Shalat Jumat: Gugurnya kewajiban shalat Jumat bagi musafir pria, dan diganti dengan shalat Zuhur.
• Berbuka Puasa: Diperbolehkan menunda puasa Ramadhan dan menggantinya (qadha) di hari lain.
• Mengusap Khuf: Diberikan kelonggaran batas waktu mengusap sepatu saat berwudu (tanpa harus mencuci kaki) menjadi 3 hari 3 malam.
5. Perjalanan Spiritual: Isra' Mi'raj
Perjalanan paling istimewa dalam kehidupan Rasulullah SAW adalah Isra' Mi'raj, yang terjadi di tengah duka mendalam setelah kehilangan istri tercinta, Sayyidah Khadijah, dan pamannya, Abu Thalib.
Allah SWT menghibur beliau dengan memperjalankannya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu menuju Sidratul Muntaha, dengan Malaikat Jibril sebagai pendamping setia.
Dalam perjalanan ini, Nabi SAW memimpin shalat bersama para nabi terdahulu di Masjidil Aqsa. Beliau kemudian naik ke langit ketujuh untuk bertemu dan berbicara langsung dengan Allah SWT. Di sinilah perintah shalat lima waktu diwajibkan.
Atas nasihat Nabi Musa AS, Nabi Muhammad SAW bolak-balik memohon kepada Allah untuk mengurangi jumlah shalat dari 50 menjadi 5 waktu—menunjukkan cinta dan kepedulian beliau yang tulus kepada umatnya.
Perjalanan ini penguatan keimanan dan ujian keyakinan bagi para sahabat, bukti kekuasaan Allah, pemahaman tentang etika ibadah yang mencakup hubungan dengan Allah dan sesama manusia, serta pentingnya kesabaran dan keteguhan hati.
6. Perjalanan Hijrah
Hijrah dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 M merupakan perjalanan paling bersejarah dalam Islam. Setelah kaum kafir Quraisy merencanakan pembunuhan terhadap Rasulullah, Allah memerintahkan beliau untuk segera berhijrah.
Dalam perjalanan yang penuh risiko ini, Rasulullah SAW ditemani oleh Abu Bakar as-Shiddiq.
Mereka bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari. Di dalam gua, Abu Bakar dengan penuh pengorbanan menutup lubang-lubang gua menggunakan bajunya, bahkan hanya menyisakan pakaian yang menutupi auratnya, dan menggunakan tumitnya untuk menutup lubang yang tersisa.
Saat pasukan Quraisy hampir menemukan mereka, seekor laba-laba menenun sarang di mulut gua dan sepasang burung merpati bertelur di sana—menjadikan gua itu tampak tidak pernah dimasuki manusia.
Perjalanan hijrah ini mengajarkan tentang perencanaan matang, keberanian, pengorbanan, dan tawakal kepada Allah. Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan juga perubahan mental dan spiritual, dari kondisi tertindas menuju kebebasan berdakwah.
Penduduk Madinah dengan terang-terangan menyatakan siap menerima dan membantu mensyiarkan dakwah Rasulullah.
7. Perjalanan Perang Tabuk, Keteladanan di Tengah Kesulitan
Perang Tabuk adalah ekspedisi militer terakhir yang dipimpin Rasulullah SAW. Dalam perjalanan ini, beliau menunjukkan keteladanan luar biasa dalam menghadapi kesulitan, termasuk ketika diminta pulang ke Madinah untuk menshalatkan jenazah sahabatnya, Muawiyah, beliau tetap melanjutkan perjalanan setelah mendapat petunjuk dari Jibril.
Hikmah dari Kisah Perjalanan Nabi SAW
Imam As-Syafi'i dalam kitab Diwan As-Syafi'i pernah merumuskan lima faedah agung dari sebuah perjalanan (safar) yang keseluruhannya dapat dipetik dari kisah Rasulullah SAW:
1. Menghilangkan Kesedihan (Tafarruj al-Hammi): Perjalanan meluaskan pandangan dan menyadarkan manusia akan kebesaran ciptaan Allah, sebagaimana Muhammad merenungi alam di Gua Hira yang melapangkan dadanya.
2. Mencari Penghidupan (Rizqi): Perjalanan dagang ke Syam mendidik umat Islam agar mandiri, gigih, dan jujur dalam mencari rezeki yang halal di muka bumi.
3. Mendapatkan Ilmu: Setiap perjalanan Nabi selalu membuahkan wawasan baru tentang karakter manusia, geografi, dan pada puncaknya, menerima ilmu langsung (wahyu) dari Allah SWT.
4. Membentuk Adab dan Kemandirian: Terpisah dari kemewahan dan kebiasaan menetap membentuk ketangguhan fisik dan mental, seperti saat di Bani Sa'ad.
5. Menambah Kawan yang Mulia: Perjalanan perniagaan Nabi SAW membuka jaringan sosial yang luas, menumbuhkan kepercayaan dari Khadijah, dan mengajarkan umat cara bermuamalah dengan berbagai lapisan masyarakat.
Pertanyaan Seputar Kisah Perjalanan Rasulullah SAW
1. Apa saja kisah perjalanan Rasulullah SAW yang penuh hikmah di masa kecil?
Perjalanan masa kecil yang paling bersejarah adalah ketika beliau dibawa oleh ibu susuannya, Halimah As-Sa'diyah, ke pedalaman Bani Sa'ad untuk hidup di lingkungan gurun guna membentuk fisik yang sehat dan penguasaan bahasa Arab yang fasih.
2. Mengapa Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dagang ke Syam?
Perjalanan ke Syam dilakukan untuk urusan perniagaan. Pada usia 12 tahun beliau ikut pamannya, Abu Thalib, untuk belajar berdagang. Kemudian pada usia 25 tahun, beliau dipercaya membawa modal besar milik Khadijah karena reputasi kejujurannya (Al-Amin).
3. Siapa pendeta yang melihat tanda kenabian Muhammad saat perjalanan ke Syam?
Pendeta tersebut bernama Buhaira (atau Bahira). Ia adalah seorang rahib Nasrani di daerah Bushra yang mengenali tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad muda berdasarkan deskripsi yang tertulis dalam kitab Taurat dan Injil.
4. Apa hikmah dari perjalanan berkhalwat Rasulullah ke Gua Hira?
Perjalanan menyendiri di Gua Hira mengajarkan pentingnya melakukan tafakur (merenung) dan menjauhkan diri dari kerusakan moral masyarakat untuk mencari rida Allah, yang berujung pada turunnya wahyu pertama Al-Qur'an.
5. Apa bentuk kasih sayang Allah kepada umat Islam yang sedang dalam perjalanan?
Allah memberikan rukhshah atau keringanan hukum, seperti boleh meringkas (qashar) dan menggabung (jamak) shalat fardhu, agar umat Islam tidak merasa berat dalam menjaga kewajiban agamanya meski dalam keadaan lelah.
Â
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289290/original/023754000_1783397828-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-07T111624.224.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289169/original/028294300_1783394455-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-07T102043.787.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5143694/original/079839900_1740549746-WAWANCARA_PRESIDEN_KE-6_SBY_ANG__15_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7676875/original/060602200_1780471869-Tugas__23_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3309137/original/055065200_1606475068-nurhan-yC70QqvrPRk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264183/original/033782000_1782097869-063_2282689980-Timnas_Mesir_vs_Selandia_Baru.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8624685/original/076624500_1782618194-000_B8K274B.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289170/original/048335500_1783394486-063_2284674341.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289160/original/045856400_1783393532-063_2284950784.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289056/original/097559000_1783389885-063_2284969451.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8709339/original/015500500_1782788430-neymar.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8929771/original/004907300_1782959836-bos3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5516473/original/017053500_1772306812-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8906115/original/073442900_1782946797-belgia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288986/original/034116600_1783373945-000_B9FD7NA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289457/original/057436400_1783405435-74620.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289382/original/022031500_1783403223-1001437267.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289303/original/066577300_1783399031-1001436816.jpg)