Panduan Adab Bepergian Menurut Islam yang Membawa Keberkahan, Lengkap Doanya

Syariat Islam memberikan tuntunan agar musafir senantiasa berada dalam naungan perlindungan Allah SWT

Diterbitkan 07 Juli 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Melakukan perjalanan jauh lazim dalam aktivitas kehidupan kehidupan modern. Agar setiap langkah bernilai ibadah, umat Islam perlu memahami dan mengamalkan adab bepergian menurut Islam yang membawa keberkahan.

Syariat Islam memberikan tuntunan agar musafir senantiasa berada dalam naungan perlindungan Allah SWT. Hal ini berlandaskan pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Mulk ayat 15 yang berbunyi, "Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya."

Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat tersebut memotivasi umat untuk bersafar mencari rezeki. Tentunya, setiap perjalanan ini harus dibingkai dengan adab islami agar senantiasa meraih rida-Nya.

Merujuk berbagai literatur kontemporer dan fiqih, berikut ini adalah adab bepergian, dari sebelum pemberangkatan hingga kepulangan meneladani sunnah Rasulullah SAW.

Adab-Adab Bepergian Menurut Islam yang Membawa Keberkahan

Mengamalkan adab-adab saat bersafar adalah wujud ketaatan seorang hamba. Berikut adalah panduan komprehensif mengenai etika bepergian beserta doa-doa pelengkapnya:

1. Meluruskan Niat dan Memperbaiki Tujuan

Adab pertama dan paling fundamental dalam bepergian adalah meluruskan niat. Seorang muslim hendaknya meniatkan perjalanannya sebagai ibadah, sehingga dapat menjaga diri dari maksiat serta memperoleh ganjaran pahala dari Allah.

Hal ini ditegaskan dalam hadits Nabi SAW: "Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim). Niat yang baik akan mengubah perjalanan yang bersifat mubah (boleh) menjadi amalan yang bernilai ibadah di sisi Allah.

Dalam buku Panduan Musafir, Adab dan Hukum Safar karya Abdullah Haidir, dijelaskan bahwa kedudukan safar dalam Islam sangat tergantung dengan motivasi atau tujuan yang melandasinya. Jika tujuannya ibadah—seperti haji, umrah, jihad, atau dakwah—maka safar tersebut bernilai ibadah. Namun jika tujuannya maksiat, maka safar tersebut dinilai sebagai maksiat.

2. Melaksanakan Shalat Istikharah

Jika perjalanan berkaitan dengan keputusan penting dan membutuhkan kemantapan hati, disunnahkan melakukan shalat Istikharah untuk memohon petunjuk dari Allah SWT.

Dari Jabir bin Abdillah RA, Rasulullah SAW bersabda: "Apabila seseorang di antara kalian mempunyai rencana untuk mengerjakan sesuatu, hendaklah melakukan shalat sunnat (Istikharah) dua raka'at kemudian membaca doa: 'Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu-Mu...'"

Tata Cara Singkat:

• Shalat sunnah Istikharah dua rakaat

• Membaca doa Istikharah setelah salam

• Memohon petunjuk dan pilihan terbaik dari Allah SWT

3. Shalat Sunnah Safar Dua Rakaat

Salah satu sunnah yang paling dianjurkan sebelum memulai perjalanan adalah shalat sunnah safar dua rakaat.

Hadits dari Mukmin bin Miqdad, Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah sesuatu yang sangat utama bagi seseorang yang hendak meninggalkan sesuatu pada keluarganya melebihi shalat 2 rakaat yang di tengah mereka kalau ia hendak bepergian." (HR Thabrani)

Tata Cara:

• Dikerjakan dua rakaat

• Rakaat pertama dianjurkan membaca Surat Al-Kafirun

• Rakaat kedua dianjurkan membaca Surat Al-Ikhlas

• Setelah salam, membaca Ayat Kursi dan Surat Quraisy

4. Berpamitan, Meminta Restu dan Saling Mendoakan

Berpamitan termasuk adab yang sangat penting sebelum bepergian. Tujuannya agar kepergian kita diketahui dan mendapatkan ridha serta doa dari mereka yang ditinggalkan. Berpamitan juga merupakan bentuk penghormatan kepada keluarga di rumah.

Adab Berpamitan:

• Meminta maaf kepada orang-orang yang menemani keseharian kita

• Meminta restu orang tua, guru, dan mereka yang patut dihormati

• Berpamitan dengan keluarga, tetangga, dan sahabat

Doa Pamitan:

Arab: أَسْتَوْدِعُكُمُ اللَّهَ الَّذِي لَا تَضِيعُ وَدَائِعُهُ

Latin: Astawdi'ukumullâhalladzî lâ tadlî'u wadâ'i'uh.

Artinya: "Aku menitipkan kalian kepada Allah yang tidak akan menyia-nyiakan titipan-Nya." (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

5. Memilih Hari dan Waktu yang Baik

Disunnahkan berangkat pada hari Kamis, karena Rasulullah SAW sering memilih hari Kamis untuk melakukan perjalanan.

Dari Ka'ab bin Malik RA: "Jarang sekali Rasulullah ﷺ bepergian kecuali pada hari Kamis." (HR. Bukhari dan Muslim)

Juga disunnahkan berangkat pada pagi hari, karena Rasulullah SAW mendoakan: "Ya Allah, berikanlah keberkahan untuk umatku di pagi hari." Pagi hari penuh dengan keberkahan, mulai dari tubuh yang masih segar hingga udara yang segar.

6. Tidak Bepergian Sendirian

Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk bepergian dalam kelompok, minimal tiga orang. Tujuannya untuk saling menjaga dalam kebaikan dan menghindari bisikan negatif yang mudah datang ketika seseorang sedang sendirian di tempat asing.

Dari 'Amr bin Syu'aib, Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang berkendaraan sendirian adalah setan, orang yang berkendaraan berdua adalah dua setan, orang yang berkendaraan bertiga maka itulah orang yang berkendaraan yang benar." (HR. Malik, Abu Daud, dan Tirmidzi)

Catatan Penting:

• Usahakan safar bersama minimal tiga orang

• Pilih teman safar yang saleh agar perjalanan penuh manfaat dan terhindar dari maksiat

• Jika ada tiga orang yang melakukan safar, hendaknya mengangkat salah seorang sebagai pemimpin

7. Membaca Doa Keluar Rumah

Sebelum melangkahkan kaki keluar rumah, seorang muslim dianjurkan membaca doa keluar rumah agar perjalanan bermanfaat dan selalu dilindungi oleh Allah SWT.

Doa Keluar Rumah:

Arab: بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Latin: Bismillâhi tawakkaltu 'alallâh, lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh

Artinya: "Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."

Dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda: "Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa: 'Bismillâhi tawakkaltu 'alallâh, lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh', maka dikatakan kepadanya, 'Kamu akan diberi petunjuk, kamu akan dicukupi kebutuhannya, dan kamu akan dilindungi.' Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya." (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

8. Membaca Doa Naik Kendaraan

Ketika hendak menaiki kendaraan, Rasulullah SAW mengajarkan doa berikut:

Doa Naik Kendaraan:

Arab: سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

Latin: Subhânalladzî sakhkhara lanâ hâdzâ wa mâ kunnâ lahu muqrinîn. Wa innâ ilâ Rabbinâ lamunqalibûn.

Artinya: "Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami." (QS. Az-Zukhruf: 13-14)

Doa Safar Utama:

Arab: اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اَللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اَللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ

Latin: Allâhumma innâ nas-aluka fî safarinâ hâdzâ al-birra wat-taqwâ, wa minal 'amali mâ tardhâ. Allâhumma hawwin 'alainâ safaranâ hâdzâ wathwi 'annâ bu'dahu. Allâhumma antash shâhibu fis-safari, wal-khalîfatu fil-ahli. Allâhumma innî a'ûdzu bika min wa'tsâ-is-safari, wa ka-âbatil-manzhari, wa sû-il-munqalabi fil-mâli wal-ahli.

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan dan ketakwaan serta amal yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah baginya kejauhan. Ya Allah, Engkaulah teman dalam perjalanan dan pengganti (penjaga) bagi keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan buruknya perubahan pada harta dan keluarga." (HR. Muslim)

9. Bertakbir saat Mendaki dan Bertasbih saat Menurun

Saat melintasi jalan mendaki (tanjakan), Rasulullah SAW mengajarkan untuk bertakbir, dan saat menuruni jalan (turunan) untuk bertasbih.

Dari Ibnu Umar RA: "Ketika Nabi ﷺ dan pasukan beliau menaiki tempat yang tinggi, mereka bertakbir, dan ketika menuruni tempat yang rendah, mereka bertasbih." (HR. Abu Dawud dengan sanad yang sahih)

Rasulullah SAW juga bersabda: "Engkau harus senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT dan bertakbir setiap kali ada jalan naik." (HR. Tirmidzi)

10. Memperbanyak Doa dan Zikir

Doa seorang musafir termasuk doa yang mustajab (dikabulkan). Karena itu, perbanyaklah berdoa dan berzikir selama perjalanan.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: "Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi: doa orang yang dizalimi, doa seorang musafir, dan doa orang tua kepada anaknya." (HR Abu Dawud, Tirmidzi, & Ibnu Majah)

11. Menjaga Etika dan Akhlak selama Perjalanan

Seorang musafir hendaknya menjaga adab dan akhlak selama perjalanan, di antaranya:

• Membantu teman perjalanan

• Menjaga sikap dan ucapan kepada sesama penumpang

• Menghindari perdebatan yang tidak bermanfaat

• Menjaga kebersihan tempat dan lingkungan sekitar

• Tidak membawa anjing dan lonceng saat safar, karena malaikat tidak menyertai rombongan yang membawa keduanya

12. Doa Memasuki Kota atau Negeri

Doa Memasuki Kota:

Arab: اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ، وَرَبَّ الْأَرَضِينَ السَّبْعِ وَمَا أَقْلَلْنَ، وَرَبَّ الشَّيَاطِينِ وَمَا أَضْلَلْنَ، وَرَبَّ الرِّيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ، أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ الْقَرْيَةِ وَخَيْرَ أَهْلِهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ أَهْلِهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا

Artinya: "Ya Allah, Tuhan tujuh langit dan apa yang dinaunginya, Tuhan tujuh bumi dan apa yang dikandungnya, Tuhan yang menguasai setan-setan dan apa yang mereka sesatkan, Tuhan yang menguasai angin dan apa yang diterbangkannya. Aku mohon kepada-Mu kebaikan negeri ini, kebaikan penduduknya, dan kebaikan apa yang ada di dalamnya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan negeri ini, keburukan penduduknya, dan keburukan apa yang ada di dalamnya."

13. Shalat 2 Rakaat di Masjid saat Kembali ke Wilayah Asal

Saat tiba di tempat tujuan, Rasulullah SAW mendahulukan masuk masjid untuk shalat dua rakaat sebelum pulang ke rumah.

Diriwayatkan dari Ka'ab bin Malik RA bahwa Nabi SAW selalu datang dari perjalanan jauh pada waktu dhuha. Setibanya di daerah rumah, beliau pergi ke masjid untuk shalat dua rakaat dan berdiam diri di sana. (HR Bukhari & Muslim)

Fadhilah Melaksanakan Adab Bepergian Menurut Islam

1. Mendapatkan Perlindungan dan Keselamatan dari Allah

Dengan mengamalkan adab safar—seperti membaca doa keluar rumah dan doa safar—seorang musafir berada dalam perlindungan Allah SWT. Rasulullah SAW menjanjikan bahwa setan-setan akan menjauh dari orang yang membaca doa keluar rumah. Ini adalah bentuk perlindungan spiritual dari berbagai marabahaya selama perjalanan.

2. Perjalanan Bernilai Ibadah dan Mendapatkan Pahala

Dengan meluruskan niat dan mengamalkan sunnah-sunnah safar, perjalanan yang bersifat mubah (boleh) berubah menjadi amalan yang bernilai ibadah. Setiap langkah yang diambil dengan niat baik dan diiringi doa akan dicatat sebagai kebaikan di sisi Allah SWT.

3. Keberkahan dan Kelancaran Perjalanan

Memulai perjalanan pada waktu yang dianjurkan—hari Kamis dan pagi hari—serta membaca doa safar akan mendatangkan keberkahan. Rasulullah SAW mendoakan: "Ya Allah, berikanlah keberkahan untuk umatku di pagi hari." Keberkahan ini akan menyertai seluruh rangkaian perjalanan.

4. Terjaga dari Perbuatan Maksiat dan Sia-sia

Dengan memilih teman safar yang saleh dan menjaga adab selama perjalanan, seorang musafir terhindar dari perbuatan maksiat dan sia-sia. Rasulullah SAW mengumpamakan teman yang baik seperti penjual minyak wangi yang selalu memberikan kebaikan, sedangkan teman buruk seperti pandai besi yang hanya mendatangkan bahaya.

5. Mendapatkan Doa yang Mustajab

Doa seorang musafir termasuk doa yang mustajab (dikabulkan). Keutamaan ini menjadikan momen perjalanan sebagai kesempatan emas untuk memohon kepada Allah SWT. Dengan memperbanyak doa dan zikir selama perjalanan, seorang musafir dapat meraih keberkahan dan kebaikan yang melimpah.

Pertanyaan Seputar Adab Bepergian

1. Apa adab bepergian menurut islam yang membawa keberkahan?

Adab utamanya meliputi: meluruskan niat yang baik, berpamitan dengan keluarga, tidak bepergian sendirian jika memungkinkan (membentuk rombongan), serta senantiasa membaca doa keluar rumah dan doa naik kendaraan.

2. Doa apa yang dibaca saat naik kendaraan?

Doa yang dibaca adalah: Subhanalladzi sakh-khara lanaa hadza wa maa kunnaa lahu muqriniin. Wa innaa ilaa rabbinaa lamunqalibuun (Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya...).

3. Kapan waktu terbaik untuk memulai perjalanan jauh menurut sunnah?

Berdasarkan kebiasaan Rasulullah SAW yang diriwayatkan dalam hadis Bukhari, sangat disunnahkan untuk memulai suatu perjalanan (safar) pada hari Kamis pagi.

4. Mengapa disunnahkan bertakbir dan bertasbih di perjalanan?

Disunnahkan membaca Allahu Akbar ketika jalan mendaki untuk mengingat bahwa Allah Yang Paling Tinggi, dan membaca Subhanallah saat jalan menurun untuk menyucikan Allah dari kerendahan dan kekurangan.

5. Apakah hukumnya bepergian jauh sendirian dalam Islam?

Rasulullah SAW menyebut musafir yang berkendara seorang diri di jalanan panjang rentan terhadap godaan setan dan bahaya. Sangat dianjurkan untuk bepergian setidaknya bertiga dan menunjuk seorang pemimpin rombongan (amir) agar perjalanan lebih terorganisasi dan aman.