Kenapa Plot Film Hollywood Kini Kian Mirip Serial TV?

Kenapa The Amazing Spider-Man dibuat bersambung dan kenapa kita mau nonton film bersambung?

Diterbitkan 13 Mei 2014, 12:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Hal di atas menunjukkan film kedua tak berdiri sendiri. Ia lanjutan film pertama. Meski di film kedua ada adegan kilas balik dari film pertama, tentu akan lebih nikmat bila Anda menonton film pertama terlebih dahulu.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa The Amazing Spider-Man dibuat bersambung?

Jika Anda rajin nonton serial TV Hollywood, terutama serial dramanya, pengisahan atau plot yang bersambung seperti disuguhkan The Amazing Spider-Man tentu terasa familiar. Serial Hollywood macam Lost hingga Homeland, The Sopranos hingga Game of Thrones punya kaitan di tiap episode. Ketinggalan satu episode saja, Anda tak tahu jalan ceritanya sudah sampai mana.

Awalnya Serial Hill Street Blues

Dulu serial TV Hollywood tak begitu. Lebih sederhana. Satu episode hanya punya satu jalan cerita. Sebuah masalah diselesaikan di episode itu juga. Namun perubahan narasi dalam plot serial TV berubah di awal 1980-an berkat kehadiran Hill Street Blues. Steven Bochco, mencipta serial drama polisi Hill Street Blues yang dipuji lantaran realisme yang diusungnya.

Dicatat Steven Johnson di bukunya Everything Bad is Good For You (2005), menonton Hill Street Blues setelah menonton serial TV dari decade sebelumnya , macam Starsky and Hutch atau serial detektif Dragnet, bakal terlihat jelas perbedaan bagaimana plot berjalan. Sebuah episode Dragnet hanya punya satu plot utama. Jika digambarkan wujudnya akan seperti garis lurus: terjadi sebuah kejahatan, detektif tokoh utama kita melakukan penyeldikan, dan pada akhirnya kasus kejahatan itu terbongkar di ujung episode hari itu.

Hill Street Blues lain. Dalam satu episode bisa muncul bahkan sampai 10 jalan cerita. Satu cerita muncul sedikit dan berlanjut ke episode berikutnya. Ada juga akhir dari satu cerita yang kisahnya dimulai di episode-episode sebelumnya. Pendek kata, Hill Street Blues lebih kompleks.

Tiga puluh tahun setelah Hill Street Blues, plot serial TV makin kompleks lagi. Coba tengok sebuah serial drama produksi HBO. True Detective, misalnya. Serial yang dibintangi Matthew McConaughey dan Woody Harrelson itu berkisah tentang penyelidikan pembunuhan oleh sebuah sekte agama. Beda dengan Dragnet, sebanyak delapan episode True Detective hanya fokus pada dua detektif memecahkan satu kasus. Kisahnya diselingi plot yang bolak-balik antara kejadian tahun 1995, 2002, dan 2012. Di antara itu juga ada kisah pribadi masing-masing tokohnya, mulai dari perselingkuhan hingga perselisihan di antara dua tokoh utamanya.

Menonton True Detective seperti menonton film sepanjang satu musim tayang berjumlah delapan episode.

Kata Steven Johnson di bukunya Everything Bad is Good For You, masyarakat sudah terbiasa dengan plot cerita serial yang kompleks lantaran sudah dididik oleh serial TV macam begitu sejak awal 1980-an dengan Hill Street Blues.

Antara Star Wars dengan Lord of the Rings

Nah, kata Johnson pula, film pun kini kian kompleks plot ceritanya. Johnson memberi contoh perbedaan signifikan antara Star Wars (1977) karya George Lucas dengan versi sinema trilogi Lord of the Rings-nya Peter Jackson (2001, 2002, 2003).

Saat membuat Star Wars, Lucas meminjam struktur cerita dari novel Lord of the Rings karya JRR Tolkien. Namun, Lucas memindahkannya menjadi kisah petualangan di luar angkasa sambil mensederhanakan narasi kisahnya. Bertahun-tahun kemudian, Peter Jackson mengangkat kisah asli Tolkien ke layar lebar. Johnson bilang, susunan cerita trilogi Lord of the Rings versi film lenuh kompleks dari Star Wars. Johnson member pemisalan, tokoh-tokoh kunci dalam trilogi Star Wars berjumlah sepuluh (dari Luke Skywalker sampai Darth Vader), sedang Lord of the Rings punya lebih banyak dua kali dari itu (dari Gollum, Bilbo Baggins, Frodo, sampai Saruman dan Sauron).

Trilogi The Lord of the Rings adalah kisah yang bersambung dari satu film ke film lanjutannya. Anda tak bisa menonton film pertama lalu loncat ke film ketiga.

Trilogi Spider-Man versi Sam Raimi (2002, 2004, dan 2007) juga sejatinya bukan film yang masing-masing berdiri sendiri. Di Spider-Man versi Raimi ada kisah cinta on-off Peter Parker dengan Mary Jane Watson serta dilema persahabatan Peter Parker alias Spider-Man dengan Harry Osborn (Spider-Man dituduh Harry membunuh ayahnya, Norman Osborn). Di film ketiga, Spider-Man versi Raimi boleh dibilang berakhir musim tayangnya.

The Amazing Spider-Man adalah musim tayang baru bagi kisah Spider-Man. The Amazing Spider-Man 2 berakhir dengan kematian Gwen Stacy dan Spider-Man tengah siap bertarung lagi dengan penjahat. Pihak Sony sudah mengumumkan Spider-Man versi terbaru ini masih akan dibuat dua filmnya (siap rilis 2016 dan 2018). Saat itu kita bisa mengatakan satu musim tayang Spider-Man tamat. Bila saat itu tiba, kita tinggal bersiap menanti Spider-Man versi baru lagi. (Ade)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, romTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan