Bursa Asia Dibuka Beragam, Ketegangan AS-Iran Bayangi Sentimen Pasar

Bursa Asia bergerak beragam setelah ketegangan AS-Iran kembali meningkat. Lonjakan harga minyak dan sikap The Fed menjadi perhatian investor.

Diterbitkan 09 Juli 2026, 08:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia bergerak beragam pada perdagangan Kamis seiring meningkatnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memicu kenaikan harga minyak dunia. Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) yang masih diselimuti ketidakpastian.

 

Mengutip  CNBC, Kamis (9/7/2026), bursa saham di Asia menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Indeks Kospi Korea Selatan melonjak 2,92% pada awal perdagangan setelah sehari sebelumnya memasuki fase bearish.

Indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq juga menguat 1,28%.

Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang naik lebih dari 1,17% dan Topix menguat 0,20%. Berbeda dengan pasar lain, indeks acuan Australia S&P/ASX 200 justru melemah sekitar 0,83%.

Di AS, kontrak berjangka indeks S&P 500 bergerak relatif datar pada Rabu malam waktu AS setelah Wall Street melemah akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Kontrak berjangka S&P 500 turun tipis, sementara futures Dow Jones Industrial Average melemah 28 poin atau kurang dari 0,1%. Sebaliknya, futures Nasdaq 100 menguat sekitar 0,3%.

Sentimen pasar dipengaruhi serangan terbaru militer AS ke Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di sekitar Selat Hormuz. Di tengah perkembangan tersebut, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kembali menguat hampir 1%.

 

Pernyataan Trump

Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga menyatakan dirinya tidak lagi tertarik melanjutkan perundingan dengan Iran. Bahkan, sebelum itu Trump menegaskan gencatan senjata antara AS dan Iran telah "berakhir" setelah kembali terjadi gelombang serangan di kawasan Timur Tengah.

Analis Global Real Assets Wells Fargo Investment Institute, Mason Mendez, mengatakan situasi terbaru membuat harapan pasar terhadap normalisasi ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia semakin sulit terwujud.

"Asumsi bahwa ekspor minyak dari Teluk Persia akan segera kembali normal kini semakin dipertanyakan. Dengan cadangan dan persediaan minyak global yang sudah terbatas, setiap eskalasi baru kemungkinan akan memperkuat premi risiko geopolitik pada harga minyak, bahkan jika negosiasi akhirnya kembali dilakukan," ujar Mendez.

Pada perdagangan reguler di Wall Street, indeks Dow Jones turun 576,76 poin atau 1,1%, sedangkan S&P 500 melemah 0,28%. Pelemahan kedua indeks dipicu lonjakan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.

Namun, indeks Nasdaq Composite justru naik 0,2% berkat penguatan saham Nvidia dan sejumlah emiten semikonduktor lainnya.

 

Risalah The Fed

Investor khawatir kenaikan harga energi akan kembali memicu inflasi sehingga memaksa The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan.

Risalah rapat The Fed pada Juni juga menunjukkan para pejabat bank sentral masih memiliki pandangan yang berbeda mengenai arah kebijakan suku bunga. Mereka belum siap memangkas suku bunga hingga terdapat bukti yang lebih kuat bahwa inflasi benar-benar bergerak menuju target.

Pada perdagangan Kamis, pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi AS, antara lain laporan klaim pengangguran mingguan dan penjualan rumah yang telah ada (existing home sales). Selain itu, laporan kinerja keuangan PepsiCo juga menjadi perhatian investor.

Mendez menilai harga minyak masih akan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar dalam jangka pendek.

"Menjelang perdagangan Kamis, harga minyak kemungkinan masih menjadi perhatian utama. Risiko geopolitik yang kembali meningkat dapat memicu aksi menghindari aset berisiko dalam jangka pendek. Namun, tren pertumbuhan laba perusahaan yang tetap kuat dan perkembangan sektor kecerdasan buatan (AI) diperkirakan masih akan mendorong indeks S&P 500 menuju target akhir tahun kami di kisaran 7.800 hingga 8.000," kata Mendez.