Ketegangan Timur Tengah Meningkat, Bursa Saham Asia Lesu

Di bursa saham Asia, indeks Kosdaq anjlok lebih dari 1% pada Rabu, (8/7/2027) setelah ketegangan Timur Tengah meningkat.

Diterbitkan 08 Juli 2026, 09:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik melemah pada Rabu, (8/7/2026). Koreksi bursa saham Asia Pasifik terjadi di tengah ketegangan di Timur Tengah membebani sentimen investor.

Mengutip CNBC, indeks Nikkei 225 di Jepang melemah 0,55%. Indeks Topix turun 0,7%. Indeks Kospi di Korea Selatan terpangkas 0,72%, dan indeks Kosdaq anjlok 1,94%. Indeks ASX 200 tergelincir 1,36%.

Kontrak berjangka saham mendatar pada Selasa pekan ini.  Seiring investor mempertimbangkan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, dan harga minyak melonjak. Investor juga menantikan risalah dari pertemuan kebijakan terbaru the Federal Reserve.

Kontrak berjangka Dow Jones turun 29 poin. Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq 100 melemah 0,15.

Di sisi lain, Komando Pusat AS mengatakan, Amerika Serikat (AS) memulai serangkaian serangan dahsyat terhadap Iran pada Selasa malam. Hal ini sebagai balasan atas serangan terhadap tiga kapal komersial yang berlayar di Selat Hormuz.

Sebelumnya, Departemen Keuangan mencabut izin yang mengizinkan Iran untuk menjual minyaknya di seluruh dunia menyusul serangan di Selat Hormuz.

Kontrak berjangka West Texas Intermediateuntuk pengiriman Agustus naik 2,1% menjadi US$ 71,87 per barel dalam perdagangan Asia. Kontrak berjangka untuk patokan internasional Brent minyak mentah untuk pengiriman September melonjak 1,9% menjadi US$ 75,53 per barel.

Perhatian investor kini beralih ke risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Juni, yang akan dirilis pukul 14.00 ET pada Rabu. Rilis tersebut diharapkan memberikan wawasan lebih lanjut tentang pertemuan kebijakan pertama Ketua Federal Reserve Kevin Warsh, di mana para pejabat mempertahankan suku bunga tidak berubah sambil memberi sinyal kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan jika tekanan inflasi terus berlanjut.

"Risalah FOMC akan menjadi hal yang sulit diprediksi karena Warsh sangat tidak transparan pada konferensi pers terakhir,” kata pendiri Vital Knowledge, Adam Crisafulli, dalam sebuah catatan.

“Biasanya, [Jerome] Powell memberikan penjelasan yang cukup komprehensif tentang diskusi pertemuan, tetapi itu tidak terjadi dengan Warsh, jadi risalah tersebut, yang kemungkinan besar bernada hawkish, dapat berisi beberapa kejutan,” ia menambahkan.

 

 

Penutupan IHSG 7 Juli 2026

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan pada perdagangan saham Selasa, (7/7/2026). Kenaikan IHSG hari ini terjadi di tengah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang masih berada di kisaran 17.900.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup melambung 1,19% menjadi 5.986,49. Indeks saham LQ45 bertambah 1,79% menjadi 594,91. Seluruh indeks saham acuan kompak menghijau.

Pada perdagangan Selasa pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 5.987,01 dan level terendah 5.890,44. Sebanyak 430 saham menguat sehingga angkat IHSG. 212 saham melemah dan 141 saham diam di tempat.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menuturkan, kenaikan IHSG didorong sejumlah faktor. Pertama, sektor finansial dan pasar secara keseluruhan mendapat angin segar setelah data Cadangan Devisa (Cadev) Indonesia dilaporkan naik ke posisi US$ 145,6 miliar.

"Peningkatan cadangan devisa ini memberikan konfirmasi kepada pasar mengenai ketahanan instrumen eksternal kita, yang sekaligus memberikan amunisi bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar," ujar Nafan saat dihubungi Liputan6.com.

 

Sektor Saham

Kedua, pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Ia menilai, rupiah terpantau bergerak menguat ke kisaran 17.980-an per dolar AS. Nafan menilai, hal ini meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi capital outflow yang agresif, sehingga memicu aksi beli di pasar ekuitas.

Total frekuensi perdagangan saham 1.673.214 kali dengan volume perdagangan saham sebanyak 22,3 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 10,3 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.955.

Dari 11 sektor saham, satu sektor saham teknologi melemah 0,54%. Sementara itu, sektor saham properti melambung 3,23%, dan catat kenaikan terbesar. Selain itu, sektor saham consumer siklikal menanjak 1,7% dan sektor saham keuangan bertambah 1,58%.

Di sisi lain, sektor saham energi menanjak 0,54%, sektor saham basic mendaki 1,19%, sektor saham industri menguat 0,60%. Lalu sektor saham consumer nonsiklikal melonjak 0,75%. Kemudian sektor saham kesehatan bertambah 1,32%, sektor saham infrastruktur menguat 0,45% dan sektor saham transportasi menanjak 0,30%.