AMMN Kantongi Penjualan USD 1,84 Miliar, Turun 31% pada 2025

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) catat penjualan turun 31% dan laba terpangkas 60% pada 2025.

Diterbitkan 26 Maret 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatat kinerja keuangan lesu pada 2025. Perseroan mencatat penurunan penjualan dan laba bersih.

PT Amman Mineral Internasional Tbk meraup penjualan USD 1,84 miliar pada 2025, turun 31% dari periode sama tahun sebelumnya USD 2,66 miliar.

Perseroan menyatakan, kinerja keuangan 2025 mencerminkan dampak larangan ekspor konsentrat pada awal tahun serta proses ramp-up smelter.

"Meski demikian kami membukukan penjualan bersih sebesar USD 1,84 miliar dengan kinerja yang menguat pada paruh kedua, di mana kontribusi kuartal keempat mencapai sekitar 70% dari penjualan setahun penuh seiring stabilnya operasi smelter tembaga dan Precious Metal Refinery (PMR),” ujar Direktur Utama Amman Mineral Internasional, Arief Sidarto dikutip dari keterangan resmi, Kamis, (26/3/2026).

Selain itu, earning before interest, tax, depreciation and amortization (EBITDA) terperosok 26% dari USD 1,42 miliar pada 2024 menjadi USD 1,05 miliar.

Laba bersih perseroan anjlok 60% menjadi USS 258 juta pada 2025 dari periode sama tahun sebelumnya USD 642 juta.

Sementara itu, laba per saham yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 0,00344 pada 2025 dari 2024 sebesar 0,00878.

Arief menuturkan, EBITDA mencapai USD 1,05 miliar dengan margin sebesar 57%, sementara laba bersih tercatat sebesar USD 258 juta dengan margin 14%. “Capaian ini mencerminkan dampak transisi tahun ini, termasuk dimulainya penambanga Fase 8 dan tantangan ramp-up smelter yang memberikan tekanan sementara terhadap margin,” kata dia.

Selain itu, perseroan juga merealisasikan belanja modal sebesar USD 1,37 miliar pada 2025, turun 23% dari periode sama tahun sebelumnya USD 1,79 miliar. Perseroan menyatakan belanja modal itu mencerminkan kemajuan dari proyek-proyek ekspansi utama yang mendekati tahap penyelesaian.

Perseroan mencatat aset naik 25% menjadi USD 13,87 miliar pada 2025 dari 2024 sebesar USD 11,12 miliar. Utang naik 50% menjadi USD 6,43 miliar pada 2025 dari periode sama tahun sebelumnya USD 4,28 miliar.

Utang bersih perseroan naik 63% dari USD 3,53 miliar pada 2024 menjadi USD 5,75 miliar pada 2025. Total ekuitas naik 3% menjadi USD 5,43 miliar dari 2024 sebesar USD 5,24 miliar. Perseroan mengantongi kas dan setara kas turun 10% menjadi USD 677 juta pada 2025 dari 2024 sebesar USD 754 juta.

 

2025 jadi Tahun Transisi

Selain itu, Arief menuturkan, 2025 menjadi tahun transisi yang sangat penting bagi perseroan. Peralihan ke penambangan fase 8 yang ditandai dengan kadar bijih lebih rendah bersamaan dengan proses peningkatan kapasitas (ramp-up) smelter, menimbulkan tekanan, operasional jangka pendek.

“Namun, kami berhasil mencapai berbagai tonggak strategis terutama menuntaskan transformasi menjadi produsen tembaga dan emas yang terintegrasi penuh,” kata Arief.

Sepanjang tahun, smelter perseroan mengalami penghentian sementara pada Juli dan Agustus 2025 untuk perbaikan Flash Converting Furnace dan Sulfuric Acid Plant.

Pekerjaan ini merupakan aktivitas yang kompleks dan krusial untuk memastikan keandalan peralatan dan stabilitas operasional. Setelah perbaikan selesai, operasi smelter kembali stabil menjelang akhir tahun.

“Secara parallel, kami memperoleh izin ekspor konsentrat sementara pada akhir Oktober 2025 yang memberikan fleksibilitas tambahan selama fase ramp-up smelter,” ujar dia.

 

Produksi Perdana Katoda

Perseroan juga mencatat pencapaian penting di hilirisasi, termasuk produksi perdana katoda tembaga pada Maret 2025 dan produksi emas murni pertama pada Juli 2025.

“Pencapaian ini menunjukkan kemajuan struktural dalam memperkuat nilai tambah di sepanjang rantai pasok,” kata dia.

Di sisi penambangan, operasi berlangsung disiplin dan sesuai dengan rencana tambang. Seiring penyesuaian urutan penambangan, total material yang ditambang menurun, namun akses terhadap bijih segar dari Fase 8 meningkat sesuai rencana. Meskipun kadar bijih lebih rendah selama masa transisi ini, kami berhasil melampaui panduan kinerja satu tahun untuk produksi konsentrat dan emas.