Sukses

Simak Rincian Kinerja PT Timah Tbk Sepanjang 2020

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi COVID-19 yang terjadi sepanjang 2020 telah menekan hampir semua entitas bisnis di tanah air, tak terkecuali PT Timah Tbk (TINS). 

Sebagaimana disampaikan dalam laporan konsolidasi untuk tahun yang berakhir 31 Desember, Anak usaha MIND ID yang berkantor pusat di Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung ini mencatatkan penjualan sebesar 55.782 ton atau 16,28 persen dari total konsumsi timah dunia. 

Berdasarkan tujuan ekspor PT Timah Tbk , Asia menempati posisi teratas yakni 68 persen, disusul Eropa 17 persen, Amerika 14 persen, sedangkan konsumsi domestik hanya berkontribusi 2 persen.

Sementara, dari sisi kinerja produksi, hingga Desember 2020, TINS tercatat menghasilkan bijih timah sebesar 39.757 ton atau turun sebesar 51,79 persen dari 82.460 ton di 2019. 

"Dari pencapaian tersebut 71,35 persen berasal dari penambangan darat, sedangkan sisanya 28,65 persen berasal dari penambangan laut. Produksi logam timah turun 40,18 persen menjadi sebesar 45.698 ton dari tahun sebelumnya sebesar 76.389 ton,” jelas Corporate Secretary TINS, M. Zulkarnaen Dharmawi seperti dikutip, Rabu (7/4/2021).

Sejalan dengan penurunan kinerja produksi, TINS membukukan penjualan logam timah sebesar 55.782 ton atau turun 17,61 persen dari tahun sebelumnya sebesar 67.704 ton.

Sedangkan untuk kinerja keuangan, PT Timah Tbkmencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 15,22 triliun, lebih rendah 21,33 persen dari tahun sebelumnya sebesar Rp 19,34 triliun. Berbanding lurus dengan pendapatan, beban pokok pendapatan turun sebesar 22,54 persen menjadi Rp 14,10 triliun dari tahun sebelumnya Rp 18,20 triliun.

2 dari 4 halaman

Kinerja Keuangan

Kendati begitu, Zulkarnaen menuturkan, perseroan kian menunjukkan perbaikan dalam performanya, tercermin dari rasio finansial yang mulai membaik. Pada 2020, rasio Gross Profit Margin (GPM) TINS adalah 7,36 persen, atau membaik dari tahun sebelumnya 5,91 persen. 

"Hal serupa terlihat pula dari rasio Net Profit Margin (NPM) menjadi minus 2,24 persen dibandingkan tahun 2019 sebesar minus 3,16 persen,” imbuh Zulkarnaen.

Membaiknya finansial TINS terlihat dari beberapa perspektif, antara lain cashflow operasi sebesar Rp 5,40 triliun atau naik dibandingkan 2019 sebesar minus Rp 2,08 triliun. EBITDA naik menjadi Rp 1,16 triliun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 909 miliar. 

Adapun untuk modal kerja bersih meningkat signifikan menjadi sebesar Rp 692,09 miliar dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 348,87 miliar.

Tak hanya itu, pada periode tahun buku 2020 Perseroan berhasil menurunkan utang bank sebesar Rp 4,22 triliun dar Rp 8,79 triliun di 2019. Di samping itu, TINS melunasi obligasi dan sukuk yang telah jatuh tempo pada September 2020 sebesar Rp 600 miliar. 

"Sehingga total utang berbunga turun sebesar Rp 4,82 triliun. Adapun rugi bersih TINS pada periode 2020 tercatat sebesar Rp 341 miliar atau lebih rendah dari tahun sebelumnya sebesar Rp 611 miliar," ujar Zulkarnaen.

3 dari 4 halaman

Absen Dua Tahun Tebar Dividen

Pada 2020, TINS melakukan penyesuaian atas aktiva pajak dan penurunan kinerja anak perusahaan yang tercermin melalui rugi penurunan nilai aset tetap. Penurunan nilai piutang turut berkontribusi terhadap belum optimalnya kinerja keuangan Perseroan secara konsolidasian.

Berdasarkan kondisi di atas, maka TINS memutuskan absen untuk tebar dividen tahun buku 2020. Hal ini disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun Buku 2020 yang diselenggarakan pada Selasa, 6 April 2021.

Diketahui, tahun sebelumnya TINS juga absen dalam membagikan dividen kepada pemegang saham. Adapun terakhir kali perseroan membagikan dividen adalah untuk tahun buku 2018 sebesar Rp 185,97 miliar. Jumlah itu setara 35 persen dari laba bersih perseroan sebesar Rp 531,35 miliar.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini