Talenta Vokasi Hadapi Tantangan Baru di Era Ekonomi Kreatif, Tak Cukup Hanya Bermodal Siap Kerja

Talenta vokasi menghadapi tantangan baru di era ekonomi kreatif. Kompetensi teknis perlu dilengkapi kreativitas, adaptasi, dan kemampuan berjejaring.

Diterbitkan 16 September 2026, 14:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tangerang Selatan - Perubahan dunia kerja membuat kebutuhan terhadap sumber daya manusia dan talenta ikut berkembang. Lulusan perguruan tinggi kini tidak hanya dituntut menguasai pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga mampu beradaptasi, membangun jejaring, bekerja lintas sektor, serta mengembangkan kompetensinya menjadi karya dan peluang ekonomi.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Sekolah Vokasi Universitas Terbuka (UT) melalui Seminar Nasional Sekolah Vokasi Universitas Terbuka 2026 bertema “Learn, Link, Lead: Empowering Vocational Talent through Academia–Industry Collaboration” yang berlangsung di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Pondok Cabe, Tangerang Selatan, pada Selasa (15/9/2026). Kegiatan ini mempertemukan unsur akademisi, industri, dunia usaha, pemerintah, dan ekosistem ekonomi kreatif untuk membahas penguatan talenta vokasi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Seminar ini menjadi momentum bagi Sekolah Vokasi UT untuk memperkuat keterhubungan pendidikan vokasi dengan perguruan tinggi, dunia industri, dunia usaha, pemerintah, serta ekosistem ekonomi kreatif. Pertemuan berbagai unsur tersebut menjadi penting karena pendidikan vokasi tidak hanya berbicara tentang bagaimana mahasiswa memperoleh kompetensi, tetapi juga bagaimana kompetensi itu dapat terhubung dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan industri.

Upaya memperkuat koneksi tersebut diwujudkan melalui salah satu agenda utama seminar, yakni penandatanganan MoU dan MoA dengan mitra. Kerja sama ini menjadi bagian dari langkah Sekolah Vokasi UT dalam membangun ekosistem pendidikan vokasi yang semakin erat dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan industri.

Melalui kolaborasi dengan para mitra, terbuka ruang untuk pengembangan kompetensi, pembelajaran berbasis praktik, penguatan jejaring industri, serta berbagai bentuk kolaborasi yang mendukung peningkatan kualitas talenta vokasi. Dengan demikian, hubungan antara perguruan tinggi dan dunia kerja tidak berhenti pada wacana, tetapi terus diarahkan untuk memperluas ruang belajar dan pengembangan kompetensi mahasiswa.

Dari Kompetensi Vokasi hingga Peluang di Ekonomi Kreatif

Semangat tersebut kemudian menemukan konteks yang lebih luas melalui kehadiran Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia dalam agenda keynote speech bertajuk “Vokasi Meets Creative Economy: Dari Kompetensi Menjadi Kreasi dan Kekuatan Ekonomi.”

Topik tersebut menegaskan pentingnya mempertemukan kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan vokasi dengan kemampuan menciptakan karya, inovasi, dan nilai ekonomi di tengah berkembangnya ekosistem ekonomi kreatif. Kehadiran Kementerian Ekonomi Kreatif sekaligus memperkuat perspektif bahwa lulusan vokasi tidak hanya dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja, tetapi juga memiliki kapasitas untuk berinovasi, menciptakan peluang, dan berkontribusi terhadap perkembangan industri kreatif nasional.

Setelah keynote speech, Sekolah Vokasi UT juga menyerahkan cenderamata kepada Kementerian Ekonomi Kreatif sebagai bentuk apresiasi atas kolaborasi dan dukungan terhadap penguatan pendidikan vokasi dan ekonomi kreatif.

Dari perspektif kebijakan dan ekonomi kreatif, pembahasan kemudian berlanjut ke ruang akademik dan industri. Seminar menghadirkan Direktur Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS), Direktur Vokasi Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) Makassar, Direktur Vokasi Universitas Indonesia (UI), serta perwakilan PT Mobil Anak Bangsa dalam Forum Kuliah Akademik.

Learn, Link, Lead Jadi Fondasi Pengembangan Talenta Vokasi

Forum tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai pengembangan pendidikan vokasi, kebutuhan kompetensi dunia kerja, serta pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri dalam menghasilkan sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan zaman. Peserta juga memiliki kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan para narasumber melalui sesi tanya jawab dan memperdalam berbagai isu mengenai pendidikan vokasi serta keterhubungannya dengan dunia industri.

Bagi Sekolah Vokasi UT, Learn, Link, Lead bukan sekadar rangkaian kata dalam tema seminar. Learn menjadi fondasi untuk terus belajar dan memperkuat kompetensi. Link menempatkan jejaring dan kolaborasi dengan dunia industri serta berbagai pemangku kepentingan sebagai bagian penting dari proses pengembangan talenta. Sementara Lead menjadi dorongan agar mahasiswa dan lulusan vokasi mampu mengambil peran dan memimpin perubahan melalui kompetensi serta inovasi yang dimilikinya.

Melalui seminar nasional ini, Sekolah Vokasi UT menegaskan komitmennya untuk terus membangun pendidikan vokasi yang adaptif terhadap kebutuhan industri dan perkembangan ekonomi kreatif. Rangkaian kegiatan pun diharapkan tidak berhenti sebagai forum akademik, tetapi menjadi momentum untuk memperluas jejaring kolaborasi dan menghasilkan kerja sama nyata bagi pengembangan pendidikan vokasi, dunia industri, dan ekonomi kreatif Indonesia.

Sebab, pada akhirnya, pendidikan vokasi bukan hanya tentang menyiapkan seseorang agar mampu memasuki dunia kerja. Lebih dari itu, pendidikan vokasi adalah tentang membekali talenta agar mampu membaca perubahan, terhubung dengan peluang, dan menghadirkan sesuatu yang bernilai melalui kompetensi yang dimilikinya.

Dari belajar, lahir kompetensi. Dari koneksi, lahir kolaborasi. Dan dari keduanya, diharapkan tumbuh talenta yang tidak hanya siap menghadapi perubahan, tetapi juga mampu mengambil bagian dalam menciptakannya.

 

(*)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6