Waspada Penipuan Booking Hotel, Wisatawan Ngaku Uangnya Raib Rp 25 Juta

Modus penipuan booking hotel ini bermula dari chat WhatsApp.

Diterbitkan 16 September 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Memesan hotel secara online kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari persiapan perjalanan. Wisatawan cukup memilih akomodasi, memasukkan data pembayaran, lalu menunggu waktu keberangkatan.

Celah tersebut ternyata dapat dimanfaatkan pelaku penipuan dengan mengirim pesan yang tampak meyakinkan pada calon tamu. Muhammad Shaqil, pemilik kafe berusia 31 tahun di Singapura, mengalami kejadian tersebut setelah menerima pesan WhatsApp pada Kamis, 10 September 2026.

Pesan itu mengaku berasal dari pihak hotel dan meminta dirinya melakukan verifikasi kartu untuk memastikan reservasi tetap aktif. "Semuanya terjadi begitu cepat sampai saya tidak menyadari apa yang sedang terjadi hingga semuanya sudah terlambat," kata Shaqil pada Mothership, seperti dilansir Rabu (16/9/2026).

Pesan yang diterima Shaqil menyertakan informasi mengenai pemesanan hotel yang memang ia lakukan untuk perjalanan kerja ke Jerman. Nama hotel dan tanggal menginap tercantum secara akurat sehingga membuat pesan tersebut terlihat seperti komunikasi resmi.

Pengirim menggunakan nama "Assine SKY" dan menyertakan tautan yang mengarahkan Shaqil untuk melakukan verifikasi. Pelaku juga memberikan batas waktu 12 jam untuk menyelesaikan proses tersebut.

Shaqil, yang memang memiliki reservasi hotel, tidak langsung mencurigai pesan itu. Ia kemudian membuka tautan dan memasukkan informasi kartu miliknya.

Ia sebelumnya memesan hotel melalui Booking.com untuk perjalanan kerja ke Frankfurt, Jerman. Ia mendapat pekerjaan untuk menyajikan kopi dalam sebuah acara di kota tersebut. Setelah memasukkan data kartu, notifikasi dari bank mulai muncul di ponselnya.

 

Tagihan demi Tagihan

Dua transaksi pertama masing-masing bernilai USD 162 atau sekitar Rp 2,9 juta. Nominal tersebut sama dengan nilai pemesanan hotel yang ia kenal sehingga Shaqil menganggap transaksi itu sebagai bagian dari proses pemeriksaan kartu.

"Notifikasi transaksi pertama dan kedua yang saya terima sama-sama menunjukkan nominal USD 162 atau sekitar Rp 2,85 juta. Jumlah tersebut sesuai dengan biaya pemesanan hotel, sehingga saya tidak menyangka ada yang salah," kata Shaqil.

Transaksi berikutnya menunjukkan nilai yang semakin besar. Shaqil baru menyadari adanya kejanggalan setelah sejumlah transaksi tersebut mendapat persetujuan dan diproses oleh bank. Pelaku kemudian mencoba mengirim permintaan transaksi tambahan, tetapi Shaqil berhasil menolaknya.

Pelaku mengambil hampir SGD 2.000 atau sekitar Rp 25 juta dari rekening Shaqil dalam waktu sekitar 30 menit. Shaqil segera menghubungi bank setelah mengetahui kejadian tersebut.

Tak Berhenti Begitu Saja

Ia juga membuat laporan pada polisi untuk melaporkan transaksi yang tidak sesuai dengan tujuannya. Bank masih menyelidiki transaksi tersebut dan Shaqil belum mengetahui apakah seluruh uangnya dapat dikembalikan.

Kasus tersebut belum berhenti setelah laporan dibuat. Pada malam yang sama, Shaqil menerima pesan lain melalui WhatsApp dari pengguna bernama "Yas Tanzania." Pengirim kedua mengirimkan pesan dengan isi yang sama seperti pesan dari "Assine SKY."

Shaqil langsung memblokir nomor tersebut. Ia juga menghubungi hotel melalui Booking.com untuk meminta penjelasan mengenai bagaimana pelaku dapat mengetahui informasi reservasinya. Hingga kini, pihak hotel belum memberikan tanggapan.

Kerugian tersebut memiliki dampak lebih besar bagi Shaqil karena uang yang diambil berasal dari hasil usahanya. Pemilik Qyl's Coffee di Everton Park itu sebelumnya berencana menggunakan sebagian dana tersebut untuk memindahkan kafenya ke lokasi baru.

 

Bukan Nominal Kecil

"Sejujurnya, saya cukup stres sejak kejadian itu. Jumlah tersebut sangat berarti bagi saya, terutama dengan berbagai persoalan yang sedang saya hadapi dalam menjalankan bisnis," kata Shaqil.

Ia mempertanyakan cara pelaku mendapatkan informasi mengenai reservasi yang ia buat. Data yang diketahui pelaku mencakup nama hotel dan durasi menginap. Informasi tersebut membuat pesan palsu terlihat lebih kredibel dibandingkan pesan penipuan yang hanya mengandalkan permintaan pembayaran secara umum.

Booking.com mengingatkan pengguna mengenai risiko phishing melalui laman keamanan dan keselamatan wisatawan. Platform tersebut menyatakan pengguna tidak akan diminta memberikan detail kartu kredit melalui email, telepon, pesan teks, atau WhatsApp.

Booking.com juga mengingatkan wisatawan agar tidak melakukan transfer bank yang berbeda dari ketentuan pembayaran dalam konfirmasi reservasi. Pengguna yang sudah mengeklik tautan mencurigakan atau membagikan informasi kepada pelaku diminta segera menghubungi layanan pelanggan platform tersebut.

Â