BPS: Jumlah Penduduk Miskin Indonesia 22,93 Juta Orang Per Maret 2026

Penurunan jumlah penduduk miskin diikuti dengan membaiknya tingkat kemiskinan nasional.

Diterbitkan 05 Agustus 2026, 14:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Jumlah penduduk miskin Indonesia turun menjadi 22,93 juta orang pada Maret 2026.
  • Tingkat kemiskinan nasional membaik, mencapai 8,07% pada Maret 2026.
  • Indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan memburuk di perdesaan.

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah penduduk miskin di Indonesia turun menjadi 22,93 juta orang pada Maret 2026. Angka tersebut berkurang sekitar 430 ribu orang dibandingkan September 2025 yang tercatat sebanyak 23,36 juta orang.

Penurunan jumlah penduduk miskin diikuti dengan membaiknya tingkat kemiskinan nasional. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Edy Mahmud mengatakan, tingkat kemiskinan pada Maret 2026 tercatat sebesar 8,07 persen, lebih rendah dibandingkan 8,25 persen pada September 2025.

"Berdasarkan tren pada grafik sejak Maret 2023 sampai dengan Maret 2026 jumlah dan tingkat kemiskinan terus mengalami penurunan," tuturnya dalam Rilis Berita Resmi Statistik di Jakarta, Rabu (5/8/2026), seperti dilansir dari Antara.

BPS mencatat garis kemiskinan nasional pada Maret 2026 mencapai Rp 669.235 per kapita per bulan. Nilai tersebut meningkat 4,33 persen dibandingkan September 2025 yang sebesar Rp 641.443 per kapita per bulan.

Meski demikian, BPS menegaskan garis kemiskinan sebaiknya dipahami dalam konteks rumah tangga. Pasalnya, sebagian besar pengeluaran masyarakat, seperti biaya sewa tempat tinggal, listrik, dan konsumsi pangan, dilakukan secara bersama oleh seluruh anggota keluarga.

 

Kemiskinan di Desa Meningkat

Pada Maret 2026, rata-rata rumah tangga miskin di Indonesia terdiri atas 4,62 anggota. Besaran garis kemiskinan rumah tangga juga berbeda di setiap provinsi karena dipengaruhi oleh tingkat harga, pola konsumsi, serta rata-rata jumlah anggota rumah tangga miskin di masing-masing daerah.

Berdasarkan wilayah tempat tinggal, tingkat kemiskinan di perdesaan masih lebih tinggi dibandingkan perkotaan. Pada Maret 2026, tingkat kemiskinan di perdesaan tercatat sebesar 10,67 persen, sedangkan di perkotaan sebesar 6,34 persen.

Meski masih lebih tinggi, tingkat kemiskinan di kedua wilayah tersebut sama-sama mengalami penurunan dibandingkan September 2025.

Dari sisi kualitas kemiskinan, BPS mencatat Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) menurun di wilayah perkotaan, tetapi meningkat di perdesaan. Kondisi ini menunjukkan rata-rata pengeluaran penduduk miskin di perkotaan semakin mendekati garis kemiskinan, sedangkan di perdesaan justru semakin menjauh.

Sementara itu, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) juga memperlihatkan pola serupa, yakni menurun di perkotaan namun meningkat di perdesaan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6