Prabowo Kutip Al-Baqarah Ayat 191 Saat Bicara soal Fitnah

Prabowo memilih memaafkan pihak yang disebutnya melontarkan fitnah jika menyadari perbuatannya.

Diterbitkan 19 September 2026, 06:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Prabowo mengutip Al-Baqarah 191, menyebut fitnah lebih kejam dari pembunuhan.
  • Ia mengkritik pakar yang melontarkan fitnah, mengingatkan pentingnya kejujuran intelektual.
  • Prabowo menekankan visi kesejahteraan rakyat dan kesiapan berkorban demi bangsa.

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menyebut ada sejumlah pakar yang menurutnya kerap melontarkan fitnah. Ia pun mengutip ayat Alquran surah Al-Baqarah ayat 191.

Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri puncak HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Jumat (18/9/2026).

Awalnya, Prabowo menyinggung latar belakang PAN yang memiliki basis agamis. Ia kemudian bertanya kepada hadirin mengenai rujukan soal fitnah yang disebutnya lebih kejam daripada pembunuhan.

"PAN kan juga ada basis agamis, ya? Kalau tidak salah, apakah ada hadis, ya, yang bunyinya apa, 'Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan'? Ada, ya?" kata Prabowo.

Prabowo kemudian menyebut surah Al-Baqarah ayat 191 sebagai rujukan yang dimaksud.

"Surat Al-Baqarah ayat 191. 'Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan'," ujarnya.

Setelah itu, ia mengaitkan pembahasan tersebut dengan keberadaan sejumlah pakar yang menurutnya kerap melontarkan fitnah kepada pemerintah.

"Ada beberapa pakar, saking pakarnya, dia melontarkan fitnah," kata Prabowo.

Prabowo mengatakan dirinya memilih untuk tidak memperpanjang persoalan tersebut. Namun, ia menyampaikan bahwa dirinya selalu mencatat fitnah yang dimaksud dan bersedia memaafkan apabila pihak yang dimaksud menyadari perbuatannya.

"Tapi sudahlah, kita bangsa yang besar, bangsa yang kuat. Saya pun mencatat saja. Kalau dia sadar, saya maafkan," ujar Prabowo.

Lebih lanjut, ia mengingatkan cendekiawan agar tetap menjunjung kejujuran ketika menggunakan pengetahuan dan kepakarannya.

"Tapi saya ingatkan, kalau Anda punya kepintaran, kalau Anda punya kepakaran, jangan lupa seorang cendekiawan itu harus jujur! Itu namanya kejujuran intelektual, intellectual honesty," kata dia.

 

Ingin Indonesia Makmur

Prabowo kemudian menyampaikan nilai dan visi perjuangan yang menurutnya sejalan dengan tujuan pemerintah, salah satunya mewujudkan kesejahteraan rakyat.

"Saya pun ingin melihat suatu saat Indonesia terhormat, rakyatnya sejahtera, tidak ada kelaparan, tidak ada bapak dan ibu yang bingung kalau anaknya sakit, stunting, tidak dapat gizi, tulang lemah, otot lemah, sel otak lemah, atau tidak bisa bersaing dengan anak-anak bangsa lain," ungkap Prabowo.

Prabowo menyebut penderitaan yang selama ini dialami rakyat Indonesia membuat dirinya merasa harus terus menjaga nama baik bangsa. Ia menilai fitnah yang beredar bertolak belakang dengan visinya.

"Saya dari kecil saya disumpah. Saya siap, waktu itu 18 tahun, saya siap mati untuk negara ini," kata Prabowo.

Prabowo menjelaskan masih banyak tantangan yang perlu dihadapi untuk mencapai garis akhir perjuangan. Salah satunya dengan keberanian dalam membela bangsa dan rakyat Indonesia.

"Nilai perjuangan itu sulit, memerlukan suatu keberanian yang perlu kita perjuangkan. Dari sinilah nilai perjuangan itu dibutuhkan, yakni dengan adanya ketabahan, ketegaran, dan kesetiaan," tandas Presiden dalam sambutannya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6