Eksekusi Hotel Sultan Ricuh, Tangan Kivlan Zen Terluka Kena Kawat Berduri

Mantan Pangkostrad Kivlan Zen ada di barisan penolak eksekusi Hotel Sultan.

Diterbitkan 18 Juni 2026, 11:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Kivlan Zen terluka tangan kiri tergores kawat berduri saat orasi menolak eksekusi Hotel Sultan.
  • Luka terjadi akibat dorongan massa dari belakang saat Kivlan berhadapan dengan Kapolres.
  • Situasi memanas, terjadi bentrok antara massa penolak eksekusi dan aparat keamanan.

Liputan6.com, Jakarta - Mantan Pangkostrad Kivlan Zen, mengalami luka pada bagian tangan kiri saat memimpin orasi massa menolak eksekusi Hotel Sultan, Kamis (18/6/2026).

Luka tersebut disebabkan akibat tergores kawat berduri setinggi 100 sentimeter yang dipasang untuk menghalangi akses masuk ke halaman Hotel Sultan saat proses eksekusi.

"Tadi saya kan rundingan dengan Kapolres (Jakarta Pusat). Saya katakan, supaya Kapolres tenang saja. Jangan melakukan langkah masuk ke dalam (Hotel)," jelas Kivlan saat dijumpai di dalam Hotel Sultan.

Ketika sedang berhadapan dengan Kapolres di depan, terdapat dorongan dari massa belakang, hingga akhirnya terkena kawat berduri.

"Jadi kan Kapolres di depan, kawat durikan kita siapkan ada di sini gitu. Karena ada dorongan-dorongan dari belakang, saya mau begini langsung kena kawat berduri," katanya. 

Kivlan memastikan, tangannya yang terkena kawat tidak robek, tapi hanya tergores saja.

"Cuma gores saja tapi nggak apa-apa. Jadi ada sumbangan darah saya untuk ini, untuk perjuangan, ada sumbangan darah," tuturnya.

Setelah terkena kawat berduri, Kivlan diselamatkan oleh massa pendukung Hotel Sultan dan beberapa orang lain untuk mendapatkan perawatan medis.

 

Kivlan Zen Ada di Barisan Penolak

Sebelumnya, Kivlan Zen berada di barisan massa pendukung Hotel Sultan. Ia juga sempat melakukan orasi menolak proses eksekusi pengosongan hotel.

"Sama-sama kita punya hak konstitusional dan sama-sama kami adalah anak bangsa Indonesia! Jadi tidak bisa diintimidasi polisi untuk mengusir kami! Untuk suara masyarakat pribumi apakah tidak bisa memberikan kesempatan?," kata Kivlan.

Di hadapan Kivlan, Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold Hutagalung merespons dengan tetap menyampaikan komando eksekusi.

Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold Elisa Partomuan Hutagalung meminta massa untuk keluar dari halaman Hotel Sultan. Namun upaya persuasif itu disambut massa dengan ketegangan.

"Bapak, Ibu, saudara-saudari sekalian, warga di hadapan saya, tereksekusi dan warga simpatisan agar dapat meninggalkan gedung ini. Karena kami akan masuk untuk mendampingi juru sita dalam pelaksanaan penetapan Pengadilan Jakarta Pusat. Silakan!," kata Kapolres.

TNI Polri yang menggunakan tameng kemudian mencoba masuk ke halaman yang sudah terpasang kawat duri. Massa lantas melempari personel gabungan pakai batu dan botol.

Situasi semakin memanas. Bentrok kedua pihak tidak terhindarkan. Polisi kemudian mengerahkan satu dari dua water cannon yang disiagakan di lokasi.

Massa kemudian kocar-kacir, mundur ke berbagai penjuru bahkan ada yang masuk ke dalam hotel.

Situasi ini dimanfaatkan personel gabungan untuk mengejar massa yang sudah terpecah. Petugas juga mengimbau massa yang bersembunyi di dalam hotel untuk segera keluar. 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6