Korban Tewas Gempa Jepang Bertambah jadi 34 Orang

Jumlah korban tewas akibat gempa bumi yang mengguncang Prefektur Kumamoto terus bertambah.

Diterbitkan 30 Juli 2026, 15:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tokyo - Jumlah korban tewas akibat gempa bumi yang mengguncang Prefektur Kumamoto pada Selasa (28/7/2026) terus bertambah. Hingga Kamis, total korban meninggal mencapai 34 orang, termasuk sejumlah korban yang penyebab kematiannya masih dalam proses verifikasi apakah berkaitan langsung dengan gempa.

Tim penyelamat kini berpacu dengan waktu untuk menemukan korban yang masih mungkin selamat sebelum melewati masa kritis 72 jam pascagempa.

Dikutip dari The Japan Times, pemerintah Prefektur Kumamoto menyebutkan sedikitnya tujuh orang tewas akibat ledakan yang merobohkan sebagian bangunan pusat perbelanjaan AEON Mall di Kota Kashima. Delapan korban lainnya meninggal setelah cerobong asap di pabrik Nippon Paper Industries di Kota Yatsushiro ambruk.

Ledakan di AEON Mall, yang menampung sekitar 200 toko, terjadi sekitar 80 menit setelah gempa mengguncang wilayah tersebut. Ledakan itu menyebabkan sebagian lantai dua bangunan runtuh dan menjebak sejumlah pekerja di dalamnya.

Presiden AEON, Akio Yoshida, dalam konferensi pers pada Rabu, tidak menutup kemungkinan kebocoran gas menjadi penyebab ledakan tersebut. Ia juga menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat atas insiden itu.

Pada hari yang sama, cerobong asap di pabrik Nippon Paper Industries runtuh dan menjebak 11 pekerja. Hingga kini proses penyelidikan dan operasi penyelamatan di kedua lokasi masih terus berlangsung.

"Polisi, petugas pemadam kebakaran, personel Pasukan Bela Diri Jepang, serta Penjaga Pantai Jepang bekerja tanpa henti di lokasi untuk melaksanakan operasi penyelamatan," kata Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dalam rapat penanganan bencana.

"Saya meminta semua pihak mengerahkan upaya semaksimal mungkin untuk menyelamatkan mereka yang masih menunggu pertolongan," lanjutnya.

Pemerintah Prefektur Kumamoto menyatakan 25 dari total 34 korban telah dipastikan meninggal akibat gempa. Selain itu, lima orang mengalami luka berat. Hingga kini, skala kerusakan rumah dan bangunan masih terus didata.

Sekitar 9.450 warga mengungsi ke lebih dari 400 tempat penampungan yang telah dibuka sejak gempa terjadi pada Selasa malam. Gempa tersebut tercatat mencapai intensitas maksimum shindo 7 dalam skala kegempaan Jepang.

 

Ribuan Rumah Masih Tanpa Listrik dan Air

Sebagian wilayah terdampak masih mengalami gangguan pasokan listrik dan air bersih. Hingga Kamis, sekitar 13.520 rumah tangga belum mendapatkan aliran listrik, sementara sekitar 108.100 rumah tangga masih kehilangan akses air bersih.

Di tengah kondisi tersebut, otoritas juga memperingatkan ancaman sengatan panas karena suhu diperkirakan melampaui 35 derajat Celsius hingga akhir pekan.

Di sejumlah lokasi, warga terlihat mengantre panjang untuk mendapatkan air dari truk tangki. Pemerintah mengimbau masyarakat tetap minum sebelum merasa haus, mengenakan topi, serta menghindari paparan langsung sinar matahari.

Sebagian warga memilih bertahan di dalam mobil yang masih memiliki pendingin udara. Namun, pemerintah mengingatkan risiko economy class syndrome, yaitu pembentukan gumpalan darah akibat duduk terlalu lama dalam posisi yang sama. Warga diminta rutin menggerakkan kaki, berjalan sesekali, dan tetap menjaga asupan cairan.

Takaichi juga memastikan pemerintah akan menjaga pasokan bahan bakar dan kebutuhan pokok di wilayah terdampak.

Sebanyak 3.300 unit pendingin udara portabel disiapkan untuk dikirim ke daerah bencana. Hingga Rabu sore, sekitar 300 unit telah tiba di Kota Mashiki.

 

Sesar Hinagu Kembali Jadi Pemicu Gempa

Sementara itu, pemerintah mulai memperoleh gambaran lebih jelas mengenai penyebab gempa besar tersebut.

Panel ahli gempa pemerintah pada Rabu malam menyimpulkan bahwa gempa dipicu oleh pergerakan salah satu segmen Sesar Hinagu, sesar yang juga menjadi penyebab salah satu gempa besar Kumamoto pada 2016.

Ketua panel ahli, Kazushige Obara, mengungkapkan hasil tersebut dalam konferensi pers setelah rapat luar biasa yang digelar menyusul gempa.

Menurut panel, patahan yang memicu gempa membentang sekitar 30 kilometer di sepanjang Sesar Hinagu, terutama pada bagian timur laut dan kemungkinan meluas hingga segmen Takano-Shirahata.

Sesar Hinagu sendiri terdiri atas tiga segmen. Hingga kini, segmen Laut Yatsushiro di bagian selatan masih belum mengalami pergeseran.

Para ahli memperingatkan bahwa segmen tersebut masih berpotensi memicu gempa besar di masa mendatang, meski waktu maupun kekuatannya belum dapat diprediksi.

Pada gempa Kumamoto 2016, bagian utara Sesar Hinagu memicu gempa pertama, sebelum dua hari kemudian terjadi gempa utama berkekuatan magnitudo 7,3 akibat pergerakan Sesar Futagawa yang berdekatan.

Di Kota Yatsushiro, pergeseran tektonik akibat gempa kali ini menyebabkan salah satu titik pengamatan geologi bergeser sekitar 87 sentimeter ke arah timur laut.

Panel ahli juga mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan hingga sepekan ke depan. Risiko tertinggi diperkirakan terjadi dalam dua hingga tiga hari pertama setelah gempa utama.

Aktivitas seismik juga mulai terdeteksi di segmen Laut Yatsushiro, meski para ahli belum dapat memastikan bagaimana perkembangannya.

Badan Meteorologi Jepang (JMA) menjelaskan bahwa gempa yang berpusat di laut berpotensi memicu tsunami, sedangkan risiko tsunami lebih rendah apabila pusat gempa berada di daratan.

Hingga Kamis pukul 09.00 waktu setempat, JMA mencatat telah terjadi 256 gempa susulan dengan intensitas minimal shindo 1. Gempa terbesar merupakan gempa bermagnitudo 6,1 yang terjadi kurang dari satu jam setelah gempa utama.

Di saat yang sama, pemerintah juga memantau perkembangan badai tropis kuat di Samudra Pasifik yang diperkirakan dapat mencapai Pulau Kyushu pekan depan. Curah hujan tinggi akibat badai tersebut dikhawatirkan meningkatkan risiko tanah longsor di wilayah yang telah terdampak gempa.