13 Persen Warga Jakarta Masih Andalkan Air Sumur

PAM Jaya menyebut sekitar 13 persen warga Jakarta belum terlayani air perpipaan dan masih mengandalkan air sumur.

Diterbitkan 19 September 2026, 11:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • 13% warga Jakarta belum terlayani PAM Jaya, terutama di Jagakarsa, Cilandak, Pasar Rebo, Kramat Jati.
  • Warga masih andalkan air sumur, padahal eksploitasi air tanah sebabkan penurunan muka tanah.
  • PAM Jaya miliki 1,2 juta pelanggan (83% cakupan) dan gencar sosialisasi layanan air perpipaan.

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya menyebut masih ada sekitar 13 persen warga Jakarta yang belum terlayani sistem penyediaan air minum perpipaan. Sejumlah wilayah di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur menjadi tantangan dalam memperluas cakupan layanan tersebut.

Direktur Teknik PAM Jaya Santika mengatakan wilayah yang masih menjadi tantangan antara lain Kecamatan Jagakarsa, Cilandak, Pasar Rebo, hingga Kramat Jati. Sebagian warga di kawasan tersebut masih mengandalkan sumber air lain, terutama air sumur.

"Contoh, Kecamatan Jagakarsa, Kecamatan Cilandak, kemudian geser ke kiri di Pasar Rebo, kemudian di Kramat Jati yang menjadi challenge. Kenapa? Karena warga Jakarta masih confident menggunakan sumber air lain, yaitu air berbasis air sumur," kata Santika di Jakarta, dikutip Sabtu (19/9/2026).

Saat ini, PAM Jaya telah memiliki sekitar 1,2 juta pelanggan dengan cakupan layanan perpipaan kurang lebih 83 persen. PAM Jaya juga telah melakukan sosialisasi untuk mendorong warga yang belum menjadi pelanggan agar segera menggunakan layanan air perpipaan.

Sejauh ini, sosialisasi telah dilakukan di 267 kelurahan dengan menyasar sekitar 15.000 RW atau RT.

"Makanya mudah-mudahan dengan momen ini kita bisa kemudian mendapatkan feedback positif dari warga Jakarta untuk kemudian segera mendaftarkan diri," ujarnya.

 

Tidak Mengandalkan Air Tanah

PAM Jaya juga mengingatkan warga agar tidak terus-menerus mengandalkan air tanah. Pasalnya, kata Santika, air tanah atau akuifer perlu dijaga karena eksploitasi secara berlebihan dapat berdampak terhadap penurunan muka tanah.

"Kalau akuifer kita eksploitasi terus, kita sedot, yang terjadi seperti DKI Jakarta. Apa? Land subsidence, permukaan tanahnya turun," kata Santika.

Dia menambahkan, PAM Jaya tidak mengambil air dari air tanah, melainkan mengolah air permukaan sebagai sumber air baku.

Sementara itu, untuk kawasan komersial dan elite di Jakarta seperti Sudirman-Thamrin, SCBD, hingga KBN, sebagian besar sudah menjadi pelanggan PAM Jaya. Namun, masih terdapat kawasan yang menggunakan kombinasi air perpipaan dan sumur dalam.

"Contoh misalkan satu kawasan tertentu mereka juga masih menggunakan sumur dalam. Mereka masih mem-balancing antara menggunakan sumur dalam dengan air perpipaan," kata Santika.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6