Liputan6.com, Jakarta - CEO Coinbase Global, Brian Armstrong, menyatakan akan melangkah maju usai Senat AS gagal meloloskan Rancangan Undang-Undang (RUU) besar bagi industri kripto, dua hari setelahnya.
"Kita membiarkan politik ikut campur, kurasa," ujar Armstrong kepada Daily Wolf, dikutip dari Yahoo Finance, Sabtu (19/9/2026).
Ia menambahkan, saat ini dirinya menganggap RUU tersebut sudah "mati", dan menegaskan masih ada jalur lain, yakni SEC dan CFTC.
Advertisement
RUU yang gagal disahkan itu adalah Clarity Act, yang sebelumnya diajukan untuk membentuk kerangka regulasi federal pertama bagi pasar kripto dengan menetapkan kewenangan lembaga dalam mengawasi berbagai aspek. Pengesahan aturan ini sempat dianggap penting untuk mengukuhkan posisi dunia kripto dalam sistem keuangan arus utama, sekaligus membuka jalan bagi bank dan lembaga keuangan lain untuk masuk lebih dalam.
Pernyataan Armstrong muncul di tengah upaya sebagian besar pelaku industri kripto untuk move on dari kekalahan ini. Selama bertahun-tahun, Armstrong dan perusahaannya diketahui gencar perjuangkan RUU tersebut di Washington DC, baik melalui lobi politik maupun pendanaan kampanye lewat komite aksi politik FairShake.
Tahun ini, Coinbase sempat berselisih dengan industri perbankan AS soal apakah platform pihak ketiga seperti Coinbase boleh menawarkan imbal hasil (yield) kepada nasabah atas saldo stablecoin yang menganggur. Pihak perbankan berargumen bahwa produk semacam itu menyerupai layanan perbankan yang seharusnya diatur secara ketat.
Â
Â
Saham Coinbase Naik 2%, Ingin Catat Kontrak Futures Perpetual
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4361383/original/094002100_1679011888-Coinbase.jpg)
Meski kegagalan RUU ini mematahkan harapan akan kepastian hukum jangka panjang, Kepala Riset Teknologi Keuangan Citizens Bank, Devin Ryan, menilai hal ini justru berpotensi mempercepat regulasi kripto jangka pendek. Baik SEC maupun CFTC diketahui tengah mendorong lebih banyak produk kripto masuk ke pasar AS.
Saham Coinbase tercatat naik lebih dari 2% pada sesi pra-pembukaan perdagangan hari Jumat.
Kamis lalu, SEC umumkan pengecualian lima tahun yang memungkinkan bursa AS menawarkan perdagangan saham dalam bentuk token (tokenized stocks), dengan syarat perusahaan publik terkait diberi pemberitahuan 30 hari sebelum perdagangan dimulai.
Pekan sebelumnya, CFTC menyetujui platform prediksi Kalshi untuk mencatatkan kontrak futures perpetual terkait logam mulia. Coinbase sendiri berencana mencatatkan produk serupa untuk aset lain, termasuk saham individu dan indeks.
"Dalam banyak hal, pengesahan RUU ini sebenarnya baik bagi Amerika secara keseluruhan… tapi di sisi lain juga punya dampak kurang menguntungkan bagi Coinbase," ujar Armstrong.
Ia seraya berargumen pengesahan RUU tersebut berpotensi memicu persaingan lebih ketat dari raksasa-raksasa Wall Street.
"Dengan cara tertentu, jujur saja, justru bisa dibilang lebih menguntungkan bagi kami untuk menempuh jalur ini, karena kami termasuk salah satu dari sedikit perusahaan yang berani menjalani proses tersebut,"Â ia menambahkan.
Â
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Â
Â
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323076/original/064136000_1786599582-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-13T123857.729.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9351957/original/080906700_1789720927-cek_fakta_suahasil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315872/original/087159700_1785900314-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-05T102428.295.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334946/original/033690300_1787906817-cek_fakta_bank_mandiri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4965038/original/026893400_1728530562-000_329D4LB.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349154/original/070984700_1789475303-WhatsApp_Image_2026-09-15_at_7.23.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349953/original/059135700_1757945389-Bapenas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346936/original/048560000_1789222746-WhatsApp_Image_2026-09-12_at_19.50.01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5010796/original/017006400_1731931573-20241117_084948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346407/original/065215400_1789134579-WhatsApp_Image_2026-09-11_at_8.17.12_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343729/original/089297500_1788876170-ChatGPT_Image_8_Sep_2026__20.55.32.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5503192/original/043845100_1771117102-AP8532651028948049.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352129/original/056167200_1789729863-IMG_20260918_180335.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344766/original/032034000_1789000970-ChatGPT_Image_Sep_10__2026__07_42_04_AM.jpg)