Agenda Akhir Pekan: Menikmati Japanese Film Festival 2025 dan Pameran Wastra Jepang–Indonesia

Film apa saja yang tayang dalam JFF 2025? Seperti apa gambaran pameran wastranya? Berikut selengkapnya.

Diterbitkan 08 November 2025, 10:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tertarik dengan budaya Jepang? Japanese Film Festival (JFF) 2025 hadir membawa deretan film pilihan yang menampilkan berbagai sisi kehidupan di Negeri Sakura. Festival ini sedang berlangsung di CGV Grand Indonesia, Jakarta, dan akan berlanjut ke delapan kota lainnya di Indonesia.

Diselenggarakan oleh The Japan Foundation, Jakarta, JFF 2025 menampilkan 15 film Jepang lintas genre — mulai dari animasi, drama, komedi, hingga dokumenter — yang merefleksikan dinamika masyarakat Jepang. Sejak pertama kali digelar pada tahun 2016, JFF telah menjadi jembatan budaya antara Jepang dan Indonesia, menghadirkan kisah-kisah yang menghibur sekaligus menyentuh hati.

"Tahun ini, Japanese Film Festival (JFF) kembali hadir di tahun kesembilan penyelenggaraannya. Festival ini telah melalui beragam dinamika pemutaran film, baik secara luring maupun daring, berkolaborasi dengan berbagai festival serta mengikuti perkembangan tren dan karakter penikmat film Jepang yang semakin beragam," ujar Director General The Japan Foundation Jakarta Inami Kazumi dalam pernyataan tertulis.

Tahun ini, film pembuka "Sunset Sunrise" karya sutradara Yoshiyuki Kishi menjadi sorotan utama. Berlatar di daerah yang terdampak gempa dan tsunami 2011 dengan suasana pandemi COVID-19, film ini menggambarkan perjuangan dan harapan manusia dengan sentuhan komedi yang lembut. Film ini telah tampil di berbagai festival internasional — dari Italia, Beijing, Shanghai, hingga Toronto.

Selain "Sunset Sunrise", berikut daftar lengkap 15 film yang tayang di Japanese Film Festival 2025 seperti disampaikan The Japan Foundation dalam pernyataan tertulisnya:

  • Cells at Work!
  • SHOWTIME 7
  • ANGRY SQUAD: The Civil Servant and the Seven Swindlers
  • THE BOY AND THE DOG
  • 6 Lying University Students
  • Teasing Master Takagi-san
  • 366 DAYS
  • PETALS AND MEMORIES
  • GHOST IN THE SHELL
  • SEVEN SAMURAI
  • SUNSET SUNRISE
  • A BIG HOME
  • LINDA LINDA LINDA
  • GOODBYE, DONGLEES
  • A Girl Named Ann

Tidak hanya menonton, JFF juga menghadirkan kegiatan menarik seperti pengumpulan merchandise spesial dan program JFF × Working in Japan, yaitu pemutaran khusus dan ruang percakapan bagi pemelajar bahasa Jepang yang tertarik bekerja di Jepang dengan visa Specified Skilled Worker (SSW).

Jadwal penyelenggaraan JFF 2025:

  • Jakarta: 6–9 November | CGV Grand Indonesia
  • Bandung: 21–23 November | CGV 23 Paskal Shopping Center
  • Padang: 22 November | CGV Raya Padang
  • Medan: 6 Desember | CGV Focal Point
  • Balikpapan: 6 Desember | CGV Plaza Balikpapan
  • Makassar: 12–14 Desember | CGV Panakkukang Square
  • Yogyakarta: 13–14 Desember | CGV Pakuwon Mall Jogja
  • Palembang: 19–21 Desember | CGV Social Market
  • Surabaya: 19–21 Desember | CGV BG Junction

 

Pameran Tekstil

Selain festival film, ada satu agenda budaya lain yang tak kalah menarik: pameran "Threading Across Time: Dyeing and Weaving of Indonesia and Japan" yang tengah berlangsung di Museum Nasional, Jakarta. Pameran ini dibuka pada 25 Oktober dan akan berlangsung hingga 7 Desember 2025.

Pameran ini menyoroti hubungan panjang antara Indonesia dan Jepang, dua negara kepulauan yang telah menjalin interaksi perdagangan sejak Zaman Edo (1603–1868). Hubungan diplomatik resmi kedua negara dimulai pada tahun 1968, dan pada 2028 nanti akan genap 70 tahun kerja sama tersebut. Dari sejarah panjang itu, seni pewarnaan dan tenun menjadi salah satu warisan budaya yang terus hidup dan berkembang hingga kini.

Melalui pameran ini, pengunjung dapat mengenal beragam teknik pewarnaan dan tenun khas Jepang, seperti Yuzen dan Shibori yang menghasilkan pola unik, Bingata dari Okinawa, serta Karaori dan Kinran yang berkembang di Nishijin, Kyoto. Karya-karya tersebut dihadirkan berdampingan dengan kain tradisional Indonesia seperti batik — kain yang dibuat menggunakan malam panas — serta songket, tenunan dengan benang emas yang menjadi kebanggaan Nusantara.

"Threading Across Time: Dyeing and Weaving of Indonesia and Japan" seolah mengajak pengunjung untuk merenungkan kelestarian dan masa depan warisan budaya tekstil.