Karakter Orang yang Mematikan Centang Biru WhatsApp, Bisa Berkaitan dengan Cara Menjaga Privasi

Menonaktifkan centang biru WhatsApp cerminkan keinginan menjaga privasi, kontrol komunikasi, hindari tekanan sosial, hingga prioritas kesejahteraan mental. Buka

Diterbitkan 12 September 2026, 10:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Memahami karakter orang yang mematikan centang biru WhatsApp menjadi hal menarik karena kebiasaan kecil dalam menggunakan aplikasi pesan ternyata dapat berkaitan dengan cara seseorang mengatur batasan dalam berkomunikasi. Ketika fitur tanda pesan sudah dibaca dinonaktifkan, pengirim tidak lagi bisa langsung mengetahui apakah pesannya telah dibuka.

Bagi sebagian orang, centang biru mungkin dianggap sebagai fitur sederhana. Namun, bagi pengguna lain, tanda tersebut dapat terasa seperti tuntutan untuk segera membalas pesan. Setelah pesan terbaca, muncul pertanyaan seperti mengapa belum menjawab, apakah sedang menghindar, atau apakah sengaja mengabaikan.

Karena itu, mematikan centang biru tidak selalu berarti seseorang ingin menjauh dari orang lain. Kebiasaan tersebut bisa mencerminkan keinginan untuk memiliki ruang pribadi, menentukan waktu membalas pesan sendiri, atau mengurangi tekanan dari ekspektasi komunikasi yang serba cepat, Berikut ulasan Liputan6.com, Sabtu (12/0/2025).

1. Mengutamakan batasan pribadi dalam komunikasi

Salah satu karakter yang mungkin terlihat pada orang yang mematikan centang biru adalah kemampuan atau keinginan untuk menetapkan batasan pribadi. Mereka cenderung tidak ingin status online, pesan yang sudah dibaca, atau waktu terakhir membuka WhatsApp menjadi informasi yang harus dipertanggungjawabkan kepada orang lain.

Penelitian Anouk Mols dan Jason Pridmore yang diterbitkan dalam jurnal Mobile Media & Communication menunjukkan bahwa pengguna WhatsApp memang melakukan berbagai strategi untuk mengatur batas antara hadir dan tidak hadir dalam komunikasi digital. Fitur-fitur WhatsApp dapat digunakan untuk mengelola batasan tersebut karena aplikasi pesan membuat seseorang seolah-olah selalu tersedia untuk dihubungi.

Dalam kehidupan sehari-hari, karakter seperti ini dapat terlihat dari cara seseorang membalas pesan. Ia mungkin tetap membaca pesan penting, tetapi tidak merasa harus langsung mengetik jawaban hanya karena lawan bicara mengetahui pesan tersebut sudah dibuka.

Mematikan centang biru menjadi semacam cara sederhana untuk mengatakan bahwa membaca pesan dan menjawab pesan merupakan dua aktivitas yang berbeda. Seseorang berhak menentukan kapan dirinya siap masuk ke dalam percakapan.

2. Cenderung menghargai privasi

Karakter lain yang mungkin berkaitan dengan kebiasaan ini adalah perhatian terhadap privasi. Bagi orang yang cukup sadar terhadap privasi digital, informasi sederhana seperti kapan pesan dibaca pun dapat dianggap sebagai bagian dari data pribadi yang tidak perlu selalu dibagikan.

Temuan Pew Research Center menunjukkan kuatnya perhatian masyarakat terhadap kendali atas informasi pribadi. Dalam survei mereka, 93 persen orang dewasa mengatakan bahwa kemampuan mengontrol siapa yang dapat memperoleh informasi tentang mereka merupakan hal penting, sedangkan 90 persen menilai penting untuk mengontrol informasi apa saja yang dikumpulkan tentang mereka.

Angka tersebut memang bukan penelitian khusus mengenai pengguna WhatsApp atau centang biru. Namun, temuan itu membantu menjelaskan mengapa sebagian orang merasa nyaman ketika memiliki kendali lebih besar atas informasi yang mereka bagikan secara digital.

Pada konteks WhatsApp, mematikan tanda telah dibaca dapat menjadi salah satu bentuk pengaturan privasi yang sederhana. Orang tersebut mungkin juga memiliki kebiasaan lain, seperti membatasi foto profil, mengatur siapa yang dapat melihat status, atau lebih selektif dalam menerima permintaan pertemanan dan bergabung dalam grup.

3. Tidak suka merasa terburu-buru untuk membalas

Ada orang yang membutuhkan waktu untuk menyusun jawaban. Pesan sederhana seperti "lagi apa?" mungkin bisa dibalas dalam beberapa detik, tetapi pesan mengenai pekerjaan, hubungan, masalah keluarga, atau keputusan penting membutuhkan perhatian lebih.

Orang yang mematikan centang biru mungkin merasa lebih nyaman ketika tidak ada tanda yang membuat lawan bicara mengetahui bahwa pesan sudah dibaca. Dengan begitu, ia dapat membaca isi pesan, memikirkannya, lalu memberikan jawaban ketika sudah siap.

Hal ini berkaitan dengan konsep response pressure, yakni tekanan yang muncul ketika seseorang merasa harus segera memberikan respons setelah pesan diterima. Penelitian mengenai penggunaan WhatsApp dan pengelolaan batas komunikasi menunjukkan bahwa fitur aplikasi dapat memengaruhi pengalaman seseorang mengenai kebebasan, privasi, dan otonomi dalam berkomunikasi.

Karakter ini tidak sama dengan malas berkomunikasi. Justru, dalam beberapa situasi, seseorang mungkin sengaja menunda jawaban agar tidak memberikan respons spontan yang kemudian disesali.

4. Lebih menyukai kendali atas waktu dan cara berkomunikasi

Orang yang mematikan centang biru juga dapat memiliki kebutuhan terhadap otonomi. Mereka ingin menentukan sendiri kapan akan membuka percakapan, kapan akan membalas, dan kapan ingin beristirahat dari komunikasi digital.

Dalam penelitian Mols dan Pridmore, pengguna WhatsApp digambarkan melakukan boundary work, yaitu berbagai upaya untuk membentuk batas antara konteks kehidupan yang berbeda. WhatsApp memungkinkan komunikasi berlangsung kapan saja dan dari mana saja, tetapi kondisi tersebut juga dapat mengaburkan batas antara waktu pribadi dan kewajiban sosial maupun pekerjaan.

Karena itu, mematikan centang biru dapat menjadi salah satu cara untuk mengembalikan kendali tersebut. Seseorang tidak ingin waktu membuka pesan otomatis diterjemahkan sebagai tanda bahwa dirinya sedang tersedia untuk berbicara.

Kebiasaan ini semakin masuk akal pada orang yang memiliki banyak percakapan sekaligus. Mereka mungkin menerima pesan dari keluarga, teman, rekan kerja, komunitas, hingga grup lingkungan dalam waktu berdekatan. Tanpa batas yang jelas, komunikasi digital mudah berubah menjadi daftar kewajiban yang tidak ada habisnya.

5. Cenderung lebih selektif dalam merespons

Karakter orang yang mematikan centang biru WhatsApp juga dapat dikaitkan dengan kecenderungan lebih selektif dalam menentukan respons. Mereka tidak selalu merasa bahwa setiap pesan harus mendapatkan jawaban seketika.

Bagi sebagian pengguna, membaca pesan merupakan tahap untuk memahami konteks. Setelah itu, mereka mungkin memilah mana yang perlu dijawab segera, mana yang bisa ditunda, dan mana yang cukup dibaca.

Cara seperti ini sebenarnya dapat membantu seseorang menghindari respons impulsif. Ketika tidak merasa diawasi oleh tanda centang biru, seseorang dapat mengambil waktu untuk memilih kata yang lebih tepat, terutama ketika pesan menyangkut persoalan sensitif.

Namun, selektif bukan berarti selalu lambat. Orang yang sama bisa saja membalas pesan tertentu dengan sangat cepat apabila menganggap pesan tersebut penting atau mendesak.

6. Ingin mengurangi tekanan dari ekspektasi orang lain

Centang biru memiliki efek psikologis yang menarik. Ketika pengirim mengetahui pesannya sudah dibaca tetapi belum mendapatkan jawaban, ia dapat mulai membuat berbagai asumsi. Hal yang sama dapat terjadi pada penerima pesan ketika mengetahui lawan bicara dapat melihat status baca.

Happiest Health dalam ulasan mengenai fenomena blue tick blues menjelaskan bahwa pesan yang sudah dibaca tetapi tidak segera dibalas dapat memicu kecemasan dan stres pada sebagian orang. Psikiater Dr Manoj Kumar Sharma menjelaskan bahwa fitur seperti read receipts dapat membangun ekspektasi akan respons yang cepat dan membuat pengguna menganggap penerima pesan selalu tersedia.

Dalam kondisi seperti itu, mematikan centang biru dapat mengurangi satu sumber tekanan. Tidak ada lagi tanda yang secara langsung mengumumkan bahwa pesan telah dibuka.

Bagi pengguna tertentu, kondisi ini membuat komunikasi terasa lebih santai. Mereka dapat kembali melihat pesan sebagai komunikasi yang membutuhkan waktu, bukan transaksi digital yang harus selalu mendapatkan jawaban dalam hitungan menit.

7. Menjaga ruang mental dari komunikasi digital

Ada pula kemungkinan bahwa orang yang mematikan centang biru sedang berusaha menjaga ruang mentalnya. Kehidupan digital dapat membuat seseorang merasa terus-menerus terhubung, bahkan ketika sedang berada di rumah, beristirahat, atau mengerjakan sesuatu yang sama sekali tidak berkaitan dengan percakapan.

Menariknya, penelitian Cynthia A. Dekker dan rekan-rekannya dalam Media Psychology menunjukkan bahwa mematikan notifikasi selama satu minggu tidak otomatis mengurangi frekuensi seseorang memeriksa ponsel atau waktu penggunaan smartphone. Namun, peserta merasa kebiasaan mengecek ponsel menjadi lebih rendah dan penggunaan terasa lebih disengaja.

Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa satu pengaturan pada ponsel tidak bisa dianggap sebagai solusi ajaib untuk masalah penggunaan perangkat. Kebiasaan digital dipengaruhi banyak faktor.

Meski begitu, mematikan centang biru tetap dapat menjadi bagian dari upaya seseorang menciptakan komunikasi yang lebih sesuai dengan kebutuhannya. Ia mungkin sedang mencoba mengurangi perasaan bahwa dirinya harus selalu siap merespons.

8. Tidak selalu berarti sedang menghindari seseorang

Salah satu kesalahpahaman yang paling umum adalah menganggap orang yang mematikan centang biru pasti sedang menyembunyikan sesuatu atau sengaja menghindari orang tertentu. Kesimpulan seperti itu terlalu jauh jika hanya didasarkan pada satu pengaturan WhatsApp.

Kebiasaan digital tidak dapat digunakan untuk membaca kepribadian seseorang secara pasti. Orang yang mematikan centang biru bisa saja sangat terbuka, mudah bergaul, dan responsif ketika bertemu langsung. Sebaliknya, orang yang membiarkan centang biru tetap aktif belum tentu selalu komunikatif.

Konteks tetap penting. Seseorang mungkin menonaktifkan fitur tersebut karena pengalaman buruk sebelumnya, pekerjaan yang menuntut konsentrasi, keinginan menjaga privasi, atau sekadar merasa lebih nyaman dengan pengaturan tersebut.

Dengan kata lain, karakter orang yang mematikan centang biru WhatsApp sebaiknya dilihat sebagai kemungkinan pola perilaku, bukan label kepribadian.

9. Bisa lebih nyaman dengan komunikasi yang tidak terlalu spontan

Orang yang membutuhkan waktu sebelum menjawab biasanya tidak selalu menyukai percakapan yang bergerak terlalu cepat. Mereka mungkin lebih nyaman dengan komunikasi yang memberi kesempatan untuk berpikir.

Dalam hubungan personal, karakter ini dapat terlihat ketika seseorang tidak langsung menanggapi pertanyaan emosional. Ia mungkin membaca pesan terlebih dahulu, menyimpan ponsel, kemudian kembali ketika pikirannya sudah lebih tenang.

Sikap seperti itu bisa menjadi hal yang positif jika digunakan untuk menghindari konflik dan respons emosional. Namun, komunikasi tetap membutuhkan keseimbangan. Jika seseorang terus-menerus membaca pesan penting tanpa memberikan kepastian apa pun, kebiasaan tersebut dapat menimbulkan kebingungan bagi orang lain.

Karena itu, menjaga batas komunikasi tidak berarti mengabaikan kebutuhan orang lain. Batas yang sehat tetap membutuhkan kejelasan, terutama dalam hubungan dekat dan urusan yang mendesak.

10. Tidak ingin identitasnya ditentukan oleh kecepatan membalas pesan

Di era komunikasi instan, kecepatan membalas pesan sering dianggap sebagai ukuran perhatian. Orang yang cepat membalas dapat dipandang peduli, sedangkan orang yang lama merespons kadang dianggap tidak tertarik.

Padahal, kecepatan respons tidak selalu menggambarkan kualitas hubungan. Seseorang bisa membalas dalam hitungan detik tetapi tidak benar-benar memperhatikan isi percakapan. Sebaliknya, orang yang baru menjawab beberapa jam kemudian mungkin memberikan respons yang jauh lebih matang.

Mematikan centang biru dapat menjadi cara untuk memisahkan dua hal tersebut. Seseorang tidak ingin keterbacaannya menjadi ukuran otomatis tentang perhatian, komitmen, atau perasaannya.

Pada akhirnya, komunikasi yang sehat tidak hanya ditentukan oleh kapan pesan dibaca, tetapi juga bagaimana seseorang memperlakukan lawan bicaranya secara keseluruhan.

Jadi, seperti apa karakter orang yang mematikan centang biru WhatsApp?

Jika dilihat dari berbagai sumber, kebiasaan mematikan centang biru dapat berkaitan dengan sejumlah kecenderungan, seperti menghargai privasi, menyukai batasan yang jelas, ingin memiliki kendali atas waktu komunikasi, tidak menyukai tekanan untuk segera membalas, dan lebih selektif dalam memberikan respons.

Namun, tidak tepat jika satu kebiasaan aplikasi langsung digunakan untuk menyimpulkan seseorang introvert, cuek, tidak peduli, atau sedang menghindari orang lain. Penelitian mengenai privasi dan komunikasi digital justru menunjukkan bahwa pengguna memiliki alasan yang beragam dalam mengatur fitur komunikasi mereka.

Menariknya, fenomena blue tick blues yang dibahas Happiest Health juga menunjukkan sisi lain dari persoalan ini. Bukan hanya penerima pesan yang memiliki kebutuhan akan ruang, pengirim pesan pun dapat mengalami tekanan ketika terlalu mengandalkan tanda sudah dibaca sebagai ukuran perhatian atau penerimaan sosial.

Karena itu, kebiasaan komunikasi digital sebaiknya tidak dibaca secara hitam-putih. Mematikan centang biru bisa menjadi pilihan sederhana untuk mendapatkan kembali rasa kendali atas komunikasi, bukan sebuah tanda bahwa seseorang sedang menjauh dari dunia sosial.

Pertanyaan Seputar Pengguaan WhatsApp

1. Apakah orang yang mematikan centang biru WhatsApp berarti cuek?

Belum tentu. Mematikan centang biru lebih tepat dipahami sebagai pilihan pengaturan komunikasi. Seseorang bisa melakukannya karena alasan privasi, ingin mengurangi tekanan untuk segera membalas, atau ingin menentukan sendiri waktu berkomunikasi.

2. Apakah mematikan centang biru berarti seseorang sedang menyembunyikan sesuatu?

Tidak ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan demikian hanya dari pengaturan tersebut. Kebiasaan digital harus dilihat bersama perilaku lain dan konteks hubungan. Satu fitur WhatsApp tidak dapat menjadi bukti bahwa seseorang sedang menyembunyikan sesuatu.

3. Apakah orang yang mematikan centang biru cenderung lebih menjaga privasi?

Bisa saja. Pilihan tersebut memang dapat mencerminkan keinginan untuk mengontrol informasi tentang aktivitas komunikasi. Namun, tidak semua orang yang mematikan centang biru memiliki tingkat perhatian terhadap privasi yang sama.

4. Apakah kebiasaan menggunakan WhatsApp bisa menunjukkan karakter seseorang?

Kebiasaan menggunakan perangkat komunikasi dapat memberikan petunjuk mengenai preferensi seseorang, misalnya cara mengatur batasan atau merespons pesan. Namun, kebiasaan tersebut tidak cukup untuk menentukan kepribadian seseorang secara menyeluruh.

5. Mengapa seseorang membaca pesan tetapi tidak langsung membalas?

Ada banyak kemungkinan, mulai dari sedang sibuk, membutuhkan waktu untuk berpikir, belum memiliki energi untuk berkomunikasi, hingga ingin memberikan jawaban yang lebih matang. Karena itu, pesan yang sudah dibaca tetapi belum dibalas sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai bentuk penolakan.

 

 

Â