Liputan6.com, Jakarta - Karakter orang yang jarang membuat story tapi selalu melihat story orang lain sebenarnya bukan tipe yang aneh sendirian. Kalau diperhatikan, hampir di setiap circle pertemanan selalu ada sosok yang aktif menonton story teman-temannya, tapi story miliknya sendiri nyaris tak pernah terisi.
Selama ini, kebiasaan semacam ini sering dianggap negatif, mulai dari dicap kepo, pendiam, sampai dituduh "stalker" diam-diam. Padahal, menurut sejumlah kajian psikologi digital, perilaku ini punya penjelasan yang jauh lebih masuk akal dan bahkan mencerminkan sisi kepribadian yang cukup positif.
Daripada terus menebak-nebak, berikut Liputan6.com telah merangkum dari berbagai sumber tujuh karakter yang biasanya melekat pada orang yang jarang membuat story tapi selalu melihat story orang lain, lengkap dengan penjelasan dari sudut pandang psikologi media sosial.
Advertisement
Mengenal Karakter Orang yang Jarang Bikin Story tapi Suka Lihat Story
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5214987/original/009866800_1746786301-Bermain_HP_di_kasur.jpg)
Dalam istilah psikologi digital, kebiasaan menonton konten orang lain tanpa ikut memposting biasa disebut lurking, dan pelakunya dijuluki lurker atau silent reader. Meski terdengar seperti julukan negatif, sejumlah pakar menilai perilaku ini sebenarnya jauh lebih umum daripada yang dikira banyak orang.
Pakar usability Jakob Nielsen menjelaskan fenomena ini melalui konsep participation inequality, yang dikenal dengan aturan 90-9-1. Dalam banyak komunitas online, sekitar 90 persen pengguna hanya membaca atau mengamati, 9 persen berkontribusi sesekali, dan 1 persen menjadi pengguna yang paling aktif membuat kontribusi. Dengan demikian, kebiasaan menjadi silent reader bukanlah sesuatu yang aneh dalam perilaku pengguna internet.
Sementara itu, Good.is mengutip mindfulness expert Lachlan Brown yang mengaitkan pengguna yang lebih banyak mengamati daripada berkomentar dengan beberapa karakter, seperti berhati-hati dalam membuka diri, reflektif, memiliki kesadaran diri, lebih suka mengamati daripada tampil, dan tidak terlalu bergantung pada validasi sosial.
Advertisement
1. Berhati-hati Soal Kerentanan Diri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4563444/original/098411700_1693882218-pexels-andrea-piacquadio-3760060_1_.jpg)
Sadar atau tidak, membuat story sama saja dengan membuka diri ke publik. Setiap unggahan berpotensi dinilai, disalahpahami, atau dikomentari orang lain, dan tipe silent reader biasanya enggan mengambil risiko itu.
Mereka lebih memilih menjaga jarak dari potensi penolakan atau kesalahpahaman dengan cara tidak ikut memposting. Bukan berarti tertutup total, sebab banyak dari mereka justru lebih terbuka saat mengobrol empat mata atau lewat chat pribadi.
2. Berpikir Analitis dan Reflektif Sebelum Bertindak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4687013/original/029802400_1702611868-Ilustrasi_main_HP__kirim-menerima_pesan__tersenyum__lucu.jpg)
Silent reader cenderung tidak buru-buru bereaksi terhadap apa yang mereka lihat di story orang lain. Mereka lebih suka menyerap informasi, memikirkannya, baru memutuskan apakah perlu direspons atau cukup disimpan sebagai bahan renungan pribadi.
Pola pikir ini membuat mereka jarang ikut arus komentar spontan yang sering muncul di media sosial. Bagi mereka, diam bukan berarti tidak peduli, melainkan lebih mengutamakan kualitas pemikiran dibanding kecepatan merespons.
Advertisement
3. Punya Kesadaran Diri yang Tinggi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4812625/original/047453500_1714032458-IMG_2196.jpeg)
Kebiasaan mengamati tanpa ikut memposting sering kali lahir dari pengalaman masa lalu, misalnya pernah merasa canggung setelah berkomentar atau terlibat perdebatan yang tidak perlu di media sosial.
Dari situ, mereka jadi lebih paham memicu apa saja yang membuat mereka bereaksi impulsif, lalu belajar memilih kapan harus bicara dan kapan cukup mengamati. Ini adalah bentuk pengendalian diri yang cukup matang secara psikologis.
4. Lebih Suka Mengamati daripada Tampil di Panggung Digital
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4406672/original/3073200_1682487809-happiness-cheerful-smiling-young-adult-asian-female-woman-wear-yellow-cloth-hand-conversation-smartphone-sofa-home-remote-quarantine-lock-down-period-home-interior-background_1_.jpg)
Bagi sebagian orang, media sosial lebih terasa seperti sumber informasi dan hiburan, bukan panggung untuk tampil. Karena itu, mereka lebih nyaman menonton story orang lain layaknya menonton tayangan, tanpa merasa perlu ikut "naik panggung".
Sifat performatif media sosial, di mana setiap unggahan seolah dituntut terlihat menarik, justru terasa melelahkan bagi tipe ini. Mereka memilih menjadi penonton yang tenang daripada ikut memenuhi ekspektasi tampil sempurna di depan banyak orang.
Advertisement
5. Tidak Bergantung pada Validasi Sosial
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4335939/original/083121500_1677208555-bruce-mars-FWVMhUa_wbY-unsplash_1_.jpg)
Banyak orang mengaitkan rasa percaya diri dengan jumlah like, komentar, atau story views yang mereka dapat. Namun, tipe silent reader cenderung tidak menyandarkan harga dirinya pada respons semacam itu.
Mereka tetap bisa menikmati media sosial tanpa perlu merasa "harus eksis" secara konstan. Kemandirian dari validasi online ini sering kali mencerminkan rasa percaya diri yang sudah terbentuk dari sumber lain di luar media sosial.
6. Menjaga Privasi dan Batasan Digital
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4300399/original/029813900_1674523456-medium-shot-teen-holding-smartphone_1_.jpg)
Tidak sedikit yang memang sengaja membatasi jejak digitalnya. Dengan memilih menonton tanpa ikut memposting, mereka bisa tetap mengikuti perkembangan orang-orang terdekat tanpa harus membagikan detail kehidupan pribadinya secara terbuka.
Pendekatan ini membuat mereka lebih leluasa mengatur informasi apa saja yang boleh diketahui publik. Bagi tipe ini, media sosial berfungsi sebagai alat memantau kabar, bukan etalase kehidupan pribadi.
Advertisement
7. Lebih Nyaman dengan Koneksi Personal daripada Interaksi Publik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4381326/original/001735700_1680500277-front-view-teenager-being-cyberbullied_1_.jpg)
Ketimbang mengomentari story secara terbuka, silent reader lebih sering memilih menghubungi orang tersebut lewat pesan pribadi kalau memang ada hal yang ingin disampaikan. Cara ini terasa lebih personal dan mengurangi risiko kesalahpahaman di ruang publik.
Kebiasaan ini menunjukkan bahwa mereka sebenarnya tetap peduli dan terhubung dengan orang-orang di sekitarnya, hanya saja lewat jalur yang lebih privat dibanding komentar atau reaksi story yang bisa dilihat banyak orang.
Tanya Jawab Seputar Orang yang Jarang Bikin Story tapi Suka Lihat Story
1. Apakah orang yang jarang membuat story tapi rajin melihat story disebut lurker? Ya, dalam istilah psikologi digital, perilaku ini biasa disebut lurking, yakni mengonsumsi konten tanpa ikut memproduksinya.
2. Apakah perilaku ini termasuk tidak sehat secara psikologis? Tidak selalu, sebab banyak silent reader melakukannya secara sadar untuk menghindari tekanan performa online, bukan karena masalah sosial.
3. Berapa banyak pengguna media sosial yang termasuk tipe silent reader? Merujuk pada prinsip participation inequality dari pakar usability Jakob Nielsen, sekitar 90 persen pengguna cenderung hanya menonton tanpa ikut memposting.
4. Apakah orang yang jarang posting story berarti tertutup atau antisosial? Belum tentu, sebab banyak dari mereka justru lebih nyaman berinteraksi secara personal lewat chat pribadi dibanding di ruang publik.
5. Kapan kebiasaan menonton story tanpa posting perlu diwaspadai? Perlu diwaspadai jika kebiasaan ini berubah jadi scrolling larut malam yang memicu perbandingan sosial berlebihan dan memengaruhi suasana hati.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5366231/original/062082800_1759221040-WhatsApp_Image_2025-09-30_at_12.33.26_941d1ac8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5036100/original/053632700_1733375615-Kehamilan1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345920/original/003389800_1789099395-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-11T110309.027.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5495483/original/029586100_1770372285-sherly_tjoanda_klaim_giveaway.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4686810/original/057930900_1702575320-Ilustrasi_main_HP_sambil_tiduran__kangen__LDR__membaca_pesan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345099/original/099922200_1789018436-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_8.12.08_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1527841/original/075874300_1488787214-IMG_1488240797111.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343928/original/029365100_1788925942-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_09.14.10.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340277/original/096438600_1788499326-ChatGPT_Image_4_Sep_2026__12.19.35.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342572/original/072108600_1788776192-WhatsApp_Image_2026-09-05_at_8.00.42_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3483161/original/088606400_1623749024-arnaud-mesureur-7EqQ1s3wIAI-unsplash_Fotor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9341193/original/070615900_1788587329-photo_6116408067076329990_w.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9341187/original/034872500_1788587080-photo_6116408067076329991_w.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9341034/original/092276200_1788575407-MaySari_Binaan_BRI_15.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339398/original/071195200_1788414214-1000851136.jpg.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7750180/original/000394600_1780558306-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335175/original/002603900_1787916904-WhatsApp_Image_2026-08-28_at_12.31.39_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3179113/original/096335200_1594705555-student-attractive-girl-by-table_144627-7994.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5110626/original/086902500_1737976278-Kontrol_anak.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346090/original/074466100_1789109831-7674.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5292910/original/081382500_1753269268-burnout.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345966/original/028149900_1789101342-ChatGPT_Image_Sep_11__2026__11_33_27_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345795/original/008163100_1789092818-pexels-cottonbro-4101139.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339568/original/015672800_1788420099-01M1JQS1ZED31TE87FWJ02WKK6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4748447/original/020346600_1708482444-Ilustrasi_main_HP__tertawa__lucu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337197/original/042389100_1788236445-01M13Q2XQQ1R7C99ZWA27MZM2T.jpg)