Liputan6.com, Jakarta - Matcha adalah bubuk teh hijau asal Jepang yang dibuat dari daun teh yang dinaungi sebelum dipanen, lalu digiling halus dan diminum bersama seluruh ampasnya, bukan hanya air rendamannya seperti teh hijau biasa. Proses inilah yang membuat matcha punya warna hijau pekat, rasa umami yang khas, serta kandungan senyawa aktif yang lebih terkonsentrasi.
Dari minuman ritual di upacara teh tradisional, matcha kini menjelma jadi bagian dari rutinitas harian banyak orang, dari pekerja kantoran sampai anak muda yang memburu kafe estetik. Kebiasaan menyeruput matcha ini pun mulai dikaitkan dengan sejumlah ciri kepribadian tertentu — benarkah ada dasarnya?
Ciri Kepribadian yang Sering Dikaitkan dengan Pencinta Matcha
Sebuah survei yang digagas Califia Farms dan dipublikasikan situs Matcha.com terhadap 2.000 responden di Amerika Serikat pada Februari 2024 mencoba memetakan kebiasaan dan sifat orang-orang yang rutin minum matcha. Hasilnya, penyuka matcha lebih banyak mengaku sebagai orang yang suka bangun pagi (54%), gemar beraktivitas di luar ruangan (26%), dan menyebut diri mereka petualang (29%).
Survei yang sama juga mencatat penyuka matcha cenderung menggambarkan diri sebagai "ambivert" atau campuran introvert-ekstrovert (46%), serta rata-rata membaca sekitar 6 buku per tahun untuk kesenangan pribadi. Pola ini sering dibaca sebagai gambaran orang yang seimbang antara aktif secara sosial dan menikmati waktu sendiri.
Perlu dicatat, temuan semacam ini berasal dari survei berbasis pengakuan diri (self-report), bukan tes psikologi klinis. Artinya, hasil ini menggambarkan kecenderungan umum di kalangan responden, bukan kepastian bahwa setiap peminum matcha otomatis punya sifat-sifat tersebut.
Kenapa Peminum Matcha Sering Digambarkan Tenang tapi Tetap Fokus?
Salah satu alasan matcha lekat dengan citra "tenang tapi waspada" adalah kombinasi alami kafein dan L-theanine di dalamnya. Studi intervensi yang dipublikasikan di jurnal ilmiah menyoroti bagaimana kombinasi kafein dan L-theanine dapat memberi efek sinergis pada suasana hati dan performa kognitif, khususnya pada aspek perhatian dan kewaspadaan, dibanding jika kafein bekerja sendirian.
Efek ini kerap dikaitkan dengan peningkatan aktivitas gelombang alfa otak, pola yang berasosiasi dengan kondisi rileks namun tetap siaga — mirip suasana saat meditasi atau ketika sedang mengerjakan sesuatu tanpa rasa tertekan. Sebagai gambaran, secangkir matcha ceremonial (sekitar 2 gram bubuk) diperkirakan mengandung 50–70 mg kafein beriringan dengan 30–50 mg L-theanine dalam satu sajian.
Meski begitu, tinjauan ilmiah terbaru soal L-theanine mengingatkan bahwa banyak klaim manfaatnya, termasuk soal relaksasi dan gelombang alfa, masih perlu dukungan uji klinis yang lebih kuat pada manusia. Jadi, sensasi "calm alertness" ini punya dasar sains awal yang menjanjikan, tapi belum sepenuhnya final.
Ritual Minum Matcha dan Nilai Mindfulness ala Jepang
Bagian lain yang membentuk citra kepribadian penyuka matcha datang dari akar budayanya. Matcha lahir dari tradisi upacara teh Jepang atau chanoyu, yang sejak abad ke-9 dipakai para biksu Zen agar tetap terjaga saat bermeditasi, sebelum akhirnya berkembang jadi ritual sosial yang sarat makna.
Filosofi wabi-sabi yang melekat pada upacara ini menekankan kesabaran, kesederhanaan, dan penghargaan pada momen yang berlalu — setiap gerakan, dari membersihkan alat hingga mengocok teh dengan chasen, dilakukan perlahan dan penuh perhatian. Nilai-nilai inilah yang kemudian membuat orang yang menikmati proses membuat matcha kerap dianggap lebih sabar, teliti, dan menghargai momen kecil dibanding sekadar terburu-buru menyeduh minuman.
Tentu, tidak semua peminum matcha zaman sekarang menjalani ritual seformal upacara teh tradisional. Tapi kebiasaan mengaduk matcha pelan-pelan sebelum diminum tetap sering disebut sebagai versi mini dari nilai mindfulness tersebut.
Apakah Penyuka Matcha Latte Berbeda dari Peminum Matcha Murni?
Di luar matcha ceremonial yang diseduh murni, versi matcha latte — dicampur susu atau susu nabati — justru jauh lebih populer di kalangan konsumen kafe, terutama anak muda dan pemula. Ulasan konsumen dari Riching Matcha menyebut matcha latte cenderung dipilih orang yang ingin "jalan tengah": tetap mendapat kesan sehat dari matcha, tapi dengan rasa pahit yang dilunakkan susu sehingga lebih ramah di lidah dibanding matcha murni yang lebih kental dan pekat.
Dari sisi citra populer, penyuka matcha latte digambarkan sebagai sosok yang identik dengan pagi yang tenang, rutinitas journaling, atau olahraga ringan seperti yoga — gambaran yang mirip dengan estetika "clean girl" di media sosial. Namun perlu diketahui, ini adalah observasi pemasaran dari bisnis kafe, bukan temuan riset psikologi, sehingga sebaiknya dibaca sebagai citra budaya populer, bukan fakta kepribadian.
Menariknya, citra penyuka matcha latte juga sempat bergeser di tahun 2025. Menurut catatan Wikipedia yang merujuk publikasi Tea & Coffee International, sejumlah unggahan di media sosial mulai mengaitkan matcha latte dengan arketipe daring "performative male" — istilah untuk pria muda yang dianggap tampil sadar tren dan "sensitif" demi validasi sosial. Fenomena ini menunjukkan bahwa citra kepribadian di balik matcha latte, dibanding matcha murni yang lebih dekat dengan kesan tradisional dan mindfulness, justru lebih banyak dibentuk oleh tren media sosial yang berubah-ubah.
Benarkah Suka Matcha Berarti Gaya Hidup Sehat, atau Cuma Tren?
Popularitas matcha yang melonjak beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan generasi muda, juga tidak lepas dari citranya sebagai simbol gaya hidup sehat dan estetika "that girl morning routine" yang ramai di media sosial. Warna hijaunya sendiri kerap dikaitkan dengan efek psikologis menenangkan, karena secara umum warna hijau diasosiasikan dengan ketenangan, keseimbangan, dan kesan alami.
Namun, sama seperti klaim kepribadian dari pilihan minuman lain, hubungan antara suka matcha dan gaya hidup sehat ini sebaiknya dilihat sebagai kecenderungan, bukan aturan pasti. Preferensi seseorang pada matcha — baik versi murni maupun latte — bisa saja lebih dipengaruhi oleh tren, harga, rasa penasaran, atau sekadar ikut circle pertemanan, ketimbang benar-benar mencerminkan kepribadian atau komitmen pada kesehatan.
Menyamakan "suka matcha" dengan "pasti berkepribadian tenang dan sehat" karena itu perlu disikapi dengan kritis. Selera minuman tetap dipengaruhi banyak faktor personal yang jauh lebih kompleks daripada satu jenis minuman saja.
Kebiasaan minum matcha, baik dalam bentuk ceremonial murni maupun matcha latte yang lebih kekinian, memang kerap dikaitkan dengan sejumlah sifat seperti ketenangan, mindfulness, dan kesadaran akan gaya hidup sehat. Namun, seperti riset kepribadian berbasis minuman pada umumnya, temuan ini bersifat kecenderungan populasi dan citra budaya populer, bukan kepastian mutlak tentang siapa dirimu.
Artikel ini bersifat informatif berdasarkan hasil riset dan observasi yang dipublikasikan, bukan pengganti konsultasi dengan psikolog profesional untuk penilaian kepribadian.
Pertanyaan Seputar Kepribadian Orang yang Suka Matcha
-
Apa itu matcha dan bedanya dengan teh hijau biasa?
Matcha adalah bubuk teh hijau dari daun yang dinaungi sebelum panen lalu digiling utuh, sehingga kandungan L-theanine dan kafeinnya lebih pekat dibanding teh hijau seduh biasa yang hanya diambil air rendamannya.
-
Kenapa matcha bisa bikin tenang sekaligus fokus?
Matcha secara alami mengandung kombinasi kafein dan L-theanine yang bekerja bersamaan menghasilkan kondisi "tenang tapi waspada", berbeda dari efek kafein murni pada kopi yang cenderung memicu lonjakan energi lalu drop.
-
Apakah kadar kafein matcha lebih rendah dari kopi?
Secangkir matcha ceremonial (sekitar 2 gram bubuk) umumnya mengandung 50–70 mg kafein, cenderung lebih rendah dibanding rata-rata secangkir kopi seduh, meski kadarnya bisa bervariasi tergantung takaran dan kualitas bubuk.
-
Apakah suka matcha berarti punya gaya hidup sehat?
Tidak selalu. Preferensi pada matcha memang sering dikaitkan dengan kesadaran akan kesehatan, tapi bisa juga didorong faktor lain seperti tren estetika, harga, atau sekadar ikut-ikutan, bukan murni cerminan gaya hidup.
-
Benarkah pilihan minuman bisa menentukan kepribadian seseorang?
Tidak bisa secara pasti. Riset semacam ini umumnya menemukan kecenderungan pada tingkat populasi, bukan aturan yang berlaku mutlak untuk tiap individu, karena kepribadian dibentuk banyak faktor lain di luar selera minuman.
```
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5036100/original/053632700_1733375615-Kehamilan1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345920/original/003389800_1789099395-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-11T110309.027.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5495483/original/029586100_1770372285-sherly_tjoanda_klaim_giveaway.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9134026/original/050942300_1783073986-lestikejora_0307-HLL6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345966/original/028149900_1789101342-ChatGPT_Image_Sep_11__2026__11_33_27_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345099/original/099922200_1789018436-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_8.12.08_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1527841/original/075874300_1488787214-IMG_1488240797111.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340277/original/096438600_1788499326-ChatGPT_Image_4_Sep_2026__12.19.35.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342572/original/072108600_1788776192-WhatsApp_Image_2026-09-05_at_8.00.42_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3483161/original/088606400_1623749024-arnaud-mesureur-7EqQ1s3wIAI-unsplash_Fotor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9341193/original/070615900_1788587329-photo_6116408067076329990_w.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9341187/original/034872500_1788587080-photo_6116408067076329991_w.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339398/original/071195200_1788414214-1000851136.jpg.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7750180/original/000394600_1780558306-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335175/original/002603900_1787916904-WhatsApp_Image_2026-08-28_at_12.31.39_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4653599/original/043466900_1700279714-WhatsApp_Image_2023-11-18_at_10.51.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333784/original/020979700_1787807052-ChatGPT_Image_27_Agu_2026__11.59.05.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3922035/original/078539600_1643805994-matcha-co-TIxtjq1qdRs-unsplash_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193562/original/070309000_1745230954-matcha-ice-green-tea-marble-floor-it-is-delicious-nutritious-relaxation-drink.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2407241/original/029210700_1542100182-mike-marquez-550663-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302823/original/006997300_1784608177-pexels-alinaskazka-30939470.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776136/original/048724800_1782844069-Ube.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8461174/original/023254000_1782360825-matcha__2_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8265411/original/069503200_1782111417-cara_buat_bolu_matcha_kukus_tanpa_mixer.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5551028/original/049840700_1775715946-cropped-2827d7fa-0edc-4773-85a2-8ca6aba1447f.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345795/original/008163100_1789092818-pexels-cottonbro-4101139.jpg)