Cara Jadi Peka terhadap Perasaan Orang Lain, Pasangan, dan Lingkungan Sekitar

Cara jadi peka bisa dilatih lewat mendengarkan, memahami bahasa tubuh, dan empati. Simak langkah praktis melatih kepekaan pada pasangan dan sekitar.

Diterbitkan 10 September 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Peka adalah kemampuan menangkap perasaan, kebutuhan, dan suasana hati orang lain tanpa mereka harus mengatakannya. Cara jadi peka bukan bakat bawaan, melainkan kebiasaan yang bisa dilatih setiap hari.

Intinya terletak pada tiga hal sederhana: mendengarkan dengan sungguh-sungguh, mengamati bahasa tubuh, dan menahan diri untuk tidak cepat menghakimi. Dengan latihan konsisten, cara jadi peka akan berubah menjadi refleks yang terasa alami.

Dilansir dari Calm, empati dapat diperkuat hanya dengan sedikit kesadaran penuh (mindfulness), kemauan, dan komitmen, sebab membangunnya diibaratkan melatih otot yang menguat seiring waktu.

Cara Jadi Peka dengan Mengasah Empati

Fondasi dari setiap kepekaan adalah empati, yaitu kemampuan ikut memahami dan merasakan pengalaman orang lain. Karena itu, cara jadi peka yang paling mendasar dimulai dengan melatih empati lewat kebiasaan-kebiasaan berikut.

Alfred Adler, psikolog asal Austria, dikutip dari Success menyatakan, "Empati adalah melihat dengan mata orang lain, mendengarkan dengan telinga orang lain, dan merasakan dengan hati orang lain."

  1. Dengarkan dengan sepenuh hati: Fokuskan perhatian pada lawan bicara, tahan keinginan untuk buru-buru memberi solusi, dan beri ruang agar ia merasa didengarkan. Psikolog Dr. Brittany McGeehan, dikutip dari Parade, menjelaskan bahwa mendengarkan empatik merupakan praktik memahami pengalaman seseorang dengan niat untuk memahami, bukan langsung berusaha memperbaikinya. Latih diri untuk menjadi pendengar yang baik setiap kali seseorang bercerita.

  2. Hadir penuh lewat mindfulness: Sebelum bisa peka, kamu perlu benar-benar hadir. Melatih kesadaran penuh membantu pikiran tidak melayang ke mana-mana saat orang lain sedang berbicara, sehingga sinyal halus di sekitarmu lebih mudah tertangkap.

  3. Kenali tiga jenis empati: Ada empati kognitif untuk memahami pikiran orang lain, empati emosional untuk ikut merasakan, dan empati welas asih yang mendorong kita bergerak menolong. Memahami ketiganya membuatmu tahu bentuk respons apa yang sedang dibutuhkan, dan menjadi salah satu cara melatih empati sebagai kemampuan emosional.

  4. Tempatkan diri pada posisi orang lain: Cobalah bertanya, "Kalau aku di posisinya, apa yang akan aku rasakan?" Carl Rogers, dikutip dari Exploring Your Mind, menyatakan, "Menjadi empatik adalah melihat dunia melalui mata orang lain, bukan melihat dunia kita sendiri terpantul di mata mereka."

  5. Rangkul kerentanan dan singkirkan penghambat mendengar: Keberanian membuka diri membuatmu lebih mudah menerima perasaan orang lain. Mengacu pada laporan Helpguide, empati bukanlah sifat yang tetap melainkan bisa dilatih layaknya otot, sementara stres dan pikiran yang terlalu penuh justru mempersulit kita menyimak. Belajar mengelola emosi diri lebih dulu akan membuat telinga dan hatimu lebih lapang.

Cara Jadi Peka terhadap Perasaan Pasangan

Banyak keluhan dalam hubungan berakar dari pasangan yang dianggap kurang peduli. Padahal cara jadi peka terhadap pasangan bisa dilatih dari perhatian-perhatian kecil, terutama bagi banyak pria yang terbiasa berperan sebagai pemberi solusi ketimbang pria pendengar yang baik.

Daniel Goleman, dikutip dari BrainyQuote, menyatakan, "Jika kemampuan emosionalmu tidak terkendali, jika kamu tidak memiliki kesadaran diri, jika kamu tidak mampu mengelola emosi yang menekan, jika kamu tidak bisa berempati dan menjalin hubungan yang efektif, maka sepintar apa pun dirimu, kamu tidak akan melangkah jauh."

  1. Rajin bertanya kabar dan beri perhatian kecil: Hal sederhana seperti menanyakan kabar atau menyiapkan makanan kesukaannya membuat pasangan merasa diprioritaskan. Kumpulan sikap perhatian pada pasangan ini bila diulang perlahan akan menjadi kebiasaan.

  2. Kenali hal yang disukai dan tidak disukai: Mengingat makanan favoritnya, lagu yang ia benci, atau topik yang membuatnya tidak nyaman adalah bentuk nyata kepekaan. Detail kecil semacam ini menunjukkan bahwa kamu benar-benar memperhatikan.

  3. Peka pada kode dan bahasa tubuh pasangan: Tidak semua perasaan diucapkan secara langsung. Belajar membaca gestur dan bahasa tubuh membantumu mengenali kapan ia sedang marah, cemburu, atau butuh dukungan.

  4. Jangan cuek saat pasangan diam: Diam sering kali justru menyimpan banyak hal. Ambil inisiatif untuk mengajak bicara alih-alih ikut pasif, karena sikap acuh biasanya memperbesar masalah.

  5. Komunikasikan perasaan secara terbuka: Kepekaan berjalan dua arah. Daripada memendam kekesalan saat menghadapi pasangan yang kurang peka, sampaikan isi hatimu dengan jujur, sebab bukan tugas orang lain menebak sesuatu yang tidak pernah kamu ungkapkan.

Cara Jadi Peka terhadap Lingkungan dan Orang Sekitar

Kepekaan tidak berhenti pada orang terdekat, tetapi juga meluas ke lingkungan sosial. Cara jadi peka terhadap lingkungan menuntut kita sesekali mengangkat kepala dari layar ponsel dan benar-benar hadir untuk sekitar, seperti diuraikan dalam panduan cara agar peka terhadap perasaan orang lain.

  1. Biasakan observasi keadaan sekitar: Luangkan waktu memperhatikan situasi di sekelilingmu. Misalnya, saat di transportasi umum, perhatikan apakah ada lansia, ibu hamil, atau anak kecil yang lebih berhak atas kursi prioritas.

  2. Kurangi fokus pada diri sendiri dan gawai: Sikap terlalu sibuk dengan diri sendiri membuat kita buta terhadap kebutuhan orang lain. Sisihkan waktu untuk sekadar menanyakan kabar keluarga atau teman dekat.

  3. Bergaul dengan orang berlatar belakang berbeda: Berinteraksi dengan beragam karakter memperluas sudut pandangmu. Merujuk publikasi PositivePsychology, kita kerap tanpa sadar menilai orang dari penampilan dan gaya hidupnya, sehingga menemui orang dari latar belakang berbeda serta bersikap rendah hati adalah jalan efektif menumbuhkan empati.

  4. Perkaya empati lewat cerita: Membaca buku, menonton film, dan menyimak kisah hidup orang lain melatih kita membayangkan pengalaman yang tidak pernah kita alami. Kebiasaan ini diam-diam menajamkan kemampuan memahami perasaan orang lain.

  5. Rutin lakukan refleksi diri: Sempatkan mengevaluasi diri secara berkala, entah harian atau mingguan. Kebiasaan refleksi diri dan introspeksi membantumu menyadari apakah selama ini sudah cukup peduli terhadap sekitar.

Menjaga Kepekaan Tetap Seimbang

Peka memang berharga, tetapi kepekaan yang berlebihan justru bisa merugikan diri sendiri. Ketika kita berusaha merasakan beban semua orang, energi mental cepat terkuras dan kita malah lupa merawat diri. Karena itu, kepekaan perlu dijaga dalam keseimbangan agar tetap sehat.

Sebagaimana diungkapkan American Psychological Association, empati bisa menjadi keterampilan yang menguras tenaga bila tidak dijalankan dengan tepat, sebab larut terlalu dalam pada emosi orang lain memicu respons stres pada tubuh. Peneliti empati Sara Konrath dari lembaga yang sama menegaskan, "Jika kamu berusaha menumbuhkan empati dalam dirimu atau orang lain, kamu harus memastikan bahwa yang kamu kembangkan adalah jenis empati yang tepat."

  • Tetapkan batas emosional yang sehat: Boleh peduli, tetapi kamu tidak wajib menampung setiap keluh kesah hingga mengorbankan ketenangan sendiri.

  • Jangan menuntut orang lain untuk peka: Alih-alih berharap orang lain menebak isi hatimu, komunikasikan kebutuhanmu secara langsung dan terbuka.

  • Waspadai tanda kelelahan empati: Bila mulai merasa jenuh, mudah tersinggung, atau lelah secara emosional, itu sinyal untuk beristirahat sejenak.

  • Sisihkan waktu untuk diri sendiri: Merawat diri bukan sikap egois, melainkan cara mengisi ulang energi agar kepekaanmu tidak habis.

  • Boleh sesekali menepi: Kamu tidak harus selalu berempati pada semua orang di setiap situasi, dan itu wajar.

  • Kembangkan kecerdasan emosional secara utuh: Kepekaan yang sehat tumbuh bersama kemampuan mengenali emosi diri, sehingga melatih kecerdasan emosional lewat kebiasaan harian sangat membantu, termasuk saat menghadapi risiko kelelahan empati.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Menjadi Peka

Apakah sikap peka bisa dilatih?

Bisa. Kepekaan pada dasarnya adalah keterampilan sosial yang berkembang lewat kebiasaan, seperti mendengarkan dengan penuh perhatian, mengamati bahasa tubuh, menahan diri untuk tidak menghakimi, dan rutin berefleksi. Semakin sering dilatih dengan sabar, kepekaan akan tumbuh menjadi respons yang alami.

Apa penyebab seseorang kurang peka?

Umumnya karena terlalu fokus pada diri sendiri, terganggu gawai, jarang mendengarkan secara aktif, atau memiliki kadar empati yang berbeda akibat pola asuh, budaya, dan pengalaman hidup. Kabar baiknya, hampir semua faktor itu bisa diperbaiki dengan latihan yang konsisten.

Apa bedanya peka dan baper?

Peka berarti mampu menangkap perasaan serta kebutuhan orang lain lalu meresponsnya dengan tepat, sedangkan baper atau bawa perasaan cenderung membuat seseorang terlalu terpengaruh secara emosional oleh hal yang ditujukan kepada dirinya sendiri. Sederhananya, peka mengarah keluar untuk memahami orang lain, sementara baper lebih mengarah ke dalam.

Menjadi pribadi yang peka adalah perjalanan kecil yang dijalani sedikit demi sedikit, bukan perubahan instan dalam semalam. Mulailah dari satu kebiasaan hari ini, entah lebih banyak mendengarkan atau lebih sering memperhatikan sekitar, dan biarkan kepekaan itu memperkaya setiap hubunganmu.