Cara Agar Peka terhadap Perasaan Orang Lain dan Lingkungan Sekitar

Cara agar peka terhadap perasaan orang lain bisa dilatih lewat mendengarkan, membaca bahasa tubuh, dan mengasah empati sejak dari hal kecil.

Diterbitkan 02 Agustus 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Peka adalah kemampuan menangkap perasaan, kebutuhan, dan suasana orang lain tanpa harus mereka ucapkan secara langsung. Cara agar peka sebenarnya sederhana, yaitu membiasakan diri sungguh-sungguh mendengarkan dan memperhatikan orang di sekitar.

Kunci utamanya terletak pada empati serta keberanian menempatkan diri pada posisi orang lain. Dengan latihan yang konsisten, cara agar peka akan terasa makin alami dalam keseharian.

Dilansir dari Calm, kemampuan berempati bekerja layaknya otot yang perlu dilatih; makin sering diasah, makin kuat kemampuannya, meski hasilnya tidak muncul dalam semalam.

 

Cara Agar Peka terhadap Perasaan Orang Lain

Memahami isi hati orang lain menuntut perhatian penuh pada apa yang tampak maupun yang tersembunyi. Berikut cara agar peka yang bisa dimulai dari interaksi paling sederhana setiap hari.

  1. Dengarkan dengan Sepenuh Hati: Fokuskan perhatian pada lawan bicara alih-alih sibuk menyiapkan jawaban atau menyela. Membiasakan diri menjadi pendengar yang baik, khususnya bagi para pria yang cenderung ingin cepat memberi solusi, membuat orang merasa dihargai sekaligus membantumu menangkap emosi di balik ceritanya.

  2. Perhatikan Bahasa Tubuh: Ekspresi wajah, gestur tangan, dan nada suara kerap mengungkap perasaan yang tidak terucap. Belajar membaca bahasa tubuh memudahkanmu mengenali saat seseorang sedang tidak nyaman atau butuh bantuan.

  3. Cermati Beberapa Isyarat Sekaligus: Mengacu pada Helpguide, jangan menyimpulkan perasaan seseorang hanya dari satu isyarat; orang yang memalingkan pandangan belum tentu tidak tertarik, bisa jadi ia sekadar sedang menyusun pikirannya.

  4. Tempatkan Diri di Posisi Orang Lain: Bayangkan bagaimana perasaanmu bila berada dalam situasi yang mereka hadapi. Sudut pandang ini membuat responsmu lebih tepat dan tidak terkesan menggurui.

  5. Tahan Diri untuk Tidak Cepat Menghakimi: Beri kesempatan orang lain menjelaskan dirinya sebelum kamu menilai. Tidak semua yang tampak di permukaan mencerminkan keadaan sebenarnya.

Menahan penilaian memang tidak mudah, tetapi justru di situlah kepekaan diuji. Marcus Aurelius, kaisar Romawi sekaligus filsuf Stoik, dikutip dari Psychology Spot menyatakan,

"Setiap kali kamu hendak mencari kesalahan pada seseorang, tanyakan pada dirimu sendiri: kesalahan diriku yang mana yang paling menyerupai kesalahan yang hendak aku kritik itu?"

Baca juga: Memahami Perasaan dan Maksud Seseorang lewat Bahasa Tubuh

Cara Melatih Kepekaan dalam Kehidupan Sehari-hari

Kepekaan bukan bakat bawaan, melainkan kebiasaan yang tumbuh dari rutinitas kecil. Melatihnya setiap hari adalah cara agar peka yang paling berkelanjutan.

  1. Biasakan Mengamati Lingkungan: Luangkan waktu memperhatikan keadaan sekitar, bukan hanya menunduk pada layar ponsel. Kebiasaan ini menggerakkanmu melakukan hal kecil bermakna, seperti memberi tempat duduk bagi lansia atau ibu hamil di transportasi umum.

  2. Kurangi Fokus Berlebihan pada Diri Sendiri: Sisihkan sejenak kerisauan pribadi untuk menanyakan kabar keluarga atau teman dekat. Perhatian sederhana semacam ini melatihmu menjadi pribadi yang lebih peduli.

  3. Latih Kehadiran Penuh: Praktik mindfulness atau hadir sepenuhnya membuatmu benar-benar menyimak momen yang sedang berlangsung. Pikiran yang tidak melayang ke mana-mana memudahkanmu menangkap sinyal halus dari orang lain.

  4. Tunjukkan Dukungan di Media Sosial: Kepekaan juga bisa hadir di ruang digital lewat komentar yang menyemangati, pesan pribadi, atau apresiasi tulus. Manfaatkan media sosial untuk menebar energi positif, bukan sekadar menggulir layar tanpa arah.

  5. Lakukan Refleksi Diri Berkala: Sempatkan mengevaluasi diri, entah harian atau mingguan, untuk menilai sejauh mana kamu peduli pada sekitar. Kegiatan introspeksi diri membantumu terus bertumbuh.

Perlu diingat, tidak ada rumus tunggal yang membuat seseorang langsung mahir memahami orang lain. Brene Brown, peneliti sekaligus penulis, dikutip dari Good Good Good menyatakan,

"Empati tidak memiliki naskah. Tidak ada cara yang benar atau salah untuk melakukannya."

Baca juga: 8 Sikap yang Menandakanmu Kurang Peka dan Super Cuek

 

Cara Mengasah Empati agar Lebih Peka

Empati adalah fondasi dari setiap sikap peka; tanpa empati, perhatian mudah salah arah. Mengasah empati merupakan cara agar peka yang menyentuh akar persoalan, dan kamu bisa memperkayanya dengan beragam latihan empati harian.

Alfred Adler, psikolog asal Austria, dikutip dari Success menyatakan,

"Empati adalah melihat dengan mata orang lain, mendengarkan dengan telinga orang lain, dan merasakan dengan hati orang lain."
  1. Kenali Tiga Jenis Empati: Berdasarkan PsychCentral, empati terbagi menjadi tiga, yakni empati kognitif untuk memahami pikiran orang lain, empati emosional untuk ikut merasakan, dan empati welas asih yang mendorong kita bertindak membantu.

  2. Bergaul dengan Orang Berlatar Belakang Berbeda: Berinteraksi dengan beragam karakter memperkaya sudut pandangmu tentang cara orang lain menjalani hidup. Semakin luas pergaulan, semakin peka pula kamu terhadap perbedaan.

  3. Perbanyak Membaca Kisah dan Novel: Menyelami cerita tokoh dari beragam latar melatihmu membayangkan diri di posisi orang lain. Kebiasaan ini menumbuhkan rasa empati secara perlahan tanpa terasa memaksa.

  4. Pupuk Rasa Ingin Tahu: Sebagaimana diungkapkan Science of People, rasa ingin tahu ala anak-anak memperluas wawasan sekaligus memperkuat empati. Beranikan diri mengajukan pertanyaan yang membuka percakapan dengan orang baru.

  5. Hormati Batasan Orang Lain: Berempati bukan berarti memaksa masuk ke ruang pribadi seseorang. Hargai batas kenyamanan mereka, simpan ponsel saat berbincang, dan berikan perhatian penuh.

Perlu ditegaskan, empati tidak menuntut kita mengalami hal yang persis sama dengan orang lain. Andy Puddicombe, mantan biksu sekaligus salah satu pendiri Headspace, dikutip dari Headspace menyatakan,

"Empati tidak mengharuskan kita mengalami hal yang sama seperti orang lain, cukup menemui mereka di titik mereka berada saat ini."

Kemampuan mengasah empati juga erat kaitannya dengan kecerdasan emosional yang membuat seseorang mampu mengenali emosi diri maupun orang lain dengan tenang. Semakin terlatih kedua hal ini, semakin halus pula kepekaanmu dalam merespons situasi.

Baca juga: Empati, Sikap Memahami Perasaan Orang Lain dan Cara Meningkatkannya

 

Manfaat Menjadi Pribadi yang Peka

Menumbuhkan kepekaan tidak hanya menguntungkan orang lain, tetapi juga membentukmu menjadi pribadi yang lebih baik sekaligus lebih supel dalam pergaulan. Berikut sejumlah manfaat yang bisa dirasakan ketika sikap peka menjadi bagian dari keseharian.

  • Hubungan lebih dekat dan tulus: Saat orang merasa dipahami, mereka lebih terbuka berbagi perasaan sehingga kenalan biasa bisa berubah menjadi sahabat.

  • Kebahagiaan yang berlipat: Ikut senang atas keberhasilan orang lain menggandakan kebahagiaanmu, sementara hadir di masa sulit meringankan beban bersama.

  • Mengurangi salah paham: Memahami maksud orang lain membantu meluruskan kesalahpahaman sebelum berkembang menjadi konflik.

  • Menumbuhkan penerimaan dan kesabaran: Kepekaan mendorong sikap terbuka terhadap nilai atau keyakinan yang berbeda dari milikmu.

  • Menjadi pribadi yang lebih disukai: Orang yang peka umumnya lebih mudah disukai lingkungan sekitar karena mampu membangun hubungan yang sehat.

  • Mendukung kesehatan mental: Relasi yang hangat dan saling memahami turut menjaga kesejahteraan emosional kedua belah pihak.

Menariknya, setiap orang sejatinya sudah memiliki modal untuk berempati. Maya Angelou, penyair dan penulis ternama, dikutip dari BrainyQuote menyatakan,

"Saya rasa kita semua memiliki empati. Kita mungkin saja tidak memiliki cukup keberanian untuk menunjukkannya."

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Sikap Peka

Apa yang dimaksud dengan orang yang peka?

Orang yang peka adalah mereka yang mampu merasakan situasi di sekitarnya dan membaca kondisi lawan bicara tanpa perlu diberi tahu. Kepekaan ini lahir dari empati, yaitu kemampuan memahami perasaan sekaligus kebutuhan orang lain.

Bagaimana cara melatih diri agar lebih peka?

Mulailah dari kebiasaan sederhana seperti mendengarkan dengan penuh perhatian, mengamati bahasa tubuh, menahan diri untuk tidak menghakimi, dan rutin melakukan refleksi diri. Semakin sering dilatih, kepekaan akan berkembang secara alami seiring waktu.

Apakah sikap terlalu peka bisa merugikan?

Bisa, sebab kepekaan yang berlebihan membuat seseorang terlalu memikirkan perasaan semua orang hingga mengorbankan dirinya sendiri. Karena itu, kepekaan sebaiknya dijaga dalam keseimbangan agar tetap sehat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Pada akhirnya, kepekaan adalah keterampilan yang bisa terus diasah selama kamu bersedia melatihnya dengan sabar. Bila orang terdekat terasa kurang peka, alih-alih memendam kekesalan atau melempar sindiran agar pasangan lebih peka, komunikasikan perasaanmu secara terbuka. Mulailah dari langkah kecil hari ini, dan biarkan kepekaan tumbuh menjadi kebiasaan yang memperkaya setiap hubunganmu.