Surat Maryam Ayat 26 dan Maknanya, Belajar Ketahanan Mental dari Kisah Ibunda Isa AS

Surat Maryam ayat 26 adalah salah satu ayat yang paling menyentuh dalam Al-Qur'an

Diterbitkan 11 September 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Surat Maryam ayat 26 adalah salah satu ayat yang paling menyentuh dalam Al-Qur'an karena memuat perintah Allah yang sangat manusiawi, kepada hamba-Nya yang tengah dirundung tekanan luar biasa. Ayat ini hadir di tengah kisah Maryam yang tengah menanggung derita luar biasa, rasa sakit melahirkan, tekanan sosial dan tuduhan keji dari kaumnya.

Surat Maryam ayat 26 menggambarkan titik penting kisah Maryam setelah melahirkan Nabi Isa AS Dalam kondisi berat, Maryam mendapat arahan agar makan, minum, menenangkan hati, lalu menghadapi manusia dengan tidak banyak bicara. Ayat ini memperlihatkan pertolongan Allah sekaligus tuntunan untuk tenang.

Maryam menghadapi persalinan dan tekanan sosial akibat kehamilan tanpa suami. Rahmania Azahra dalam Jurnal Kecerdasan Emosional Perempuan dalam Kisah Maryam: Analisis QS. Maryam Ayat 23-26 dalam Tafsir Al-Tahrir Wa Al-Tanwir membaca ayat 23–26 sebagai gambaran kesadaran emosi, pengendalian diri, ketahanan mental, dan tawakal.

Dalam kisahnya, Maryam mengasingkan diri, menerima kabar kelahiran Isa, mengandung, lalu menghadapi persalinan seorang diri. Ketika kesedihan memuncak, Allah memberi penghiburan melalui sungai dan buah kurma, kemudian memerintahkannya menikmati rezeki.

Ayat ini tidak sekadar berbicara tentang makan, minum, atau puasa bicara. Surat Maryam ayat 26 mengajarkan cara menghadapi tekanan: menenangkan hati, membatasi respons, serta menyerahkan pembelaan kepada Allah.

Tafsir Surat Maryam Ayat 26

Tafsir Jalalayn menjelaskan bahwa perintah "makanlah dari buah kurma yang masak itu dan minumlah dari air sungai kecil itu" bertujuan agar Maryam memperoleh kekuatan fisik pasca-persalinan.

Frasa qarrī 'ainā secara harfiah berarti "dinginkanlah matamu", yang bermakna "bersenang hatilah" atau "tenangkanlah jiwamu" dengan kehadiran anak yang telah dilahirkan.

Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menafsirkan bahwa jika Maryam bertemu seseorang yang menuduhnya, ia cukup memberi isyarat bahwa dirinya sedang berpuasa bicara, sebuah strategi untuk menghindari perdebatan yang tidak perlu dan menjaga martabat diri.

Ibnu 'Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir menekankan bahwa diamnya Maryam bukanlah bentuk kepasifan, melainkan strategi kognitif untuk melindungi diri dari tekanan sosial serta memberi ruang bagi pemulihan emosional.

Ayat ini juga menegaskan bahwa kesedihan bukanlah lawan dari iman; Al-Qur'an justru meresponsnya dengan empati dan solusi konkret.

Apa yang Dimaksud Puasa Bicara dalam Surat Maryam Ayat 26?

Puasa yang dimaksud dalam ayat ini berbeda dengan pengertian puasa syariat Islam yang dikenal umat Nabi Muhammad SAW. Yang dilakukan Maryam adalah menahan diri dari berbicara kepada manusia.

Tafsir Ibnu Katsir menyebut sejumlah riwayat dari Anas bin Malik, Ibnu Abbas, Ad-Dhahhak dan Qatadah yang memahami shaum dalam ayat tersebut sebagai diam atau tidak berbicara. Dalam syariat Bani Israil, bentuk menahan diri semacam itu dikenal sebagai bagian dari praktik ibadah mereka.

Karena itu, ayat ini tidak dapat dijadikan dalil bahwa umat Islam sekarang disyariatkan melakukan puasa bicara. Ayat tersebut sedang menceritakan bentuk ibadah yang berlaku pada Maryam dan kaumnya dalam konteks kisah Al-Qur’an.

Asbabun Nuzul Surat Maryam Ayat 26

Para ulama tafsir tidak mencatat asbabun nuzul khusus untuk ayat 26 ini. Ayat ini merupakan bagian tak terpisahkan dari rangkaian kisah Maryam yang telah dimulai sejak ayat 16.

Penelitian Rosikhotul Ilmi sendiri menggunakan pendekatan yang memperhatikan aspek gramatikal, psikologis, serta asbabun nuzul mikro dan makro dalam memahami kisah Maryam ayat 16–26.

Konteks turunnya berkaitan dengan peristiwa besar dalam kehidupan Maryam: kehamilan tanpa suami, pengasingan diri, dan persalinan yang penuh derita.

Menurut al-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir, rangkaian ayat 16–26 diturunkan untuk menegaskan kemuliaan Maryam sekaligus menjawab tuduhan kaum Yahudi yang meragukan kesuciannya.

Dengan demikian, ayat 26 berfungsi sebagai penutup naratif yang menunjukkan bagaimana Allah secara langsung menolong hamba-Nya yang terzalimi.

Kisah Maryam dalam Surat Maryam Ayat 16–30

Kisah Maryam dalam Surah Maryam dimulai pada ayat 16. Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menceritakan Maryam ketika ia mengasingkan diri dari keluarganya ke tempat di sebelah timur Baitulmaqdis.

Pada ayat 17, Maryam memasang tabir untuk menjaga dirinya dari orang lain. Allah kemudian mengutus Ruh-Nya, yang dipahami sebagai Malaikat Jibril, dan Jibril tampil di hadapan Maryam dalam bentuk seorang manusia yang sempurna.

Maryam kemudian menunjukkan sikap menjaga kehormatan. Ia berkata bahwa dirinya berlindung kepada Allah Yang Maha Pengasih jika orang tersebut adalah orang yang bertakwa. Jibril lalu menjelaskan bahwa kedatangannya membawa kabar tentang seorang anak yang suci.

Pada ayat 20, Maryam mempertanyakan bagaimana dirinya dapat memiliki anak, sedangkan ia belum pernah disentuh laki-laki dan bukan pula seorang perempuan pezina. Jawaban yang diberikan menunjukkan bahwa kelahiran Isa merupakan ketetapan Allah dan menjadi tanda kekuasaan-Nya.

Setelah itu Maryam mengandung Isa dan mengasingkan diri ke tempat yang jauh. Ketika masa persalinan tiba, rasa sakit memaksanya bersandar pada pangkal pohon kurma. Dalam keadaan sangat berat, Maryam berkata: “Wahai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang tidak diperhatikan dan dilupakan.”

Ungkapan tersebut menunjukkan beratnya tekanan emosional yang dirasakan Maryam. Penelitian Rahmania Azahra dkk. secara khusus membaca ungkapan tersebut sebagai gambaran tekanan psikologis dan sosial yang sangat berat, bukan sebagai hilangnya keimanan Maryam.

Kemudian pada ayat 24, Allah memberikan ketenangan kepada Maryam. Ia diminta tidak bersedih karena Allah telah menyediakan anak sungai di bawahnya. Pada ayat 25, Maryam diperintahkan menggoyangkan pangkal pohon kurma sehingga buah kurma yang masak berjatuhan kepadanya.

Setelah itu datanglah ayat 26. Maryam diperintahkan makan, minum dan menenangkan hati. Jika bertemu seseorang, ia diminta menjelaskan bahwa dirinya telah bernazar shaum untuk Allah dan tidak akan berbicara dengan manusia pada hari itu.

Kisah kemudian berlanjut pada ayat 27. Maryam membawa bayinya kepada kaumnya. Mereka mempertanyakan apa yang telah dilakukannya dan menuduhnya membawa sesuatu yang sangat mungkar.

Pada ayat 28, kaumnya mengingatkan bahwa ayah dan ibunya bukan orang yang buruk. Maryam tidak menjawab secara verbal. Ia menunjuk kepada bayinya, sebagaimana diceritakan pada ayat 29.

Ketika mereka mempertanyakan bagaimana mungkin berbicara dengan bayi yang masih berada dalam buaian, terjadilah salah satu mukjizat besar. Pada ayat 30, Nabi Isa berbicara dan memperkenalkan dirinya sebagai hamba Allah yang akan diberi kitab dan dijadikan nabi.

Skripsi Rosikhotul Ilmi menyimpulkan bahwa kisah Maryam dalam rentang ayat tersebut menggambarkan seorang perempuan yang memiliki keimanan, ketakwaan, kesabaran dan keikhlasan ketika menjalani takdir berupa kehamilan tanpa seorang suami.

Kandungan Surat Maryam Ayat 26

Pertama, ayat ini mengajarkan pentingnya menjaga kesehatan fisik di tengah krisis emosional. Dalam kondisi sedih dan lelah, tubuh tetap membutuhkan asupan makanan dan minuman yang cukup.

Kedua, ayat ini menegaskan bahwa menenangkan hati (qarrī 'ainā) adalah bagian dari ibadah. Allah tidak membiarkan Maryam larut dalam kecemasan setelah ia berikhtiar.

Ketiga, ayat ini mengajarkan strategi menghindari konfrontasi yang tidak bermanfaat melalui puasa bicara. Jika menghadapi tuduhan, cukup bersikap bijak dan tidak terjebak perdebatan.

Keempat, ayat ini menunjukkan bahwa Allah Maha Penyayang yang memahami kerapuhan manusia dan menyediakan solusi secara bertahap.

Kelima, ayat ini menegaskan bahwa kesucian Maryam akan dibela oleh Allah melalui mukjizat Nabi Isa yang berbicara di buaian.

Hikmah Memahami Surat Maryam Ayat 26

• Pentingnya Kecerdasan Emosional (Self-Regulation): Mengajarkan kemampuan mengelola kepanikan, menggantinya dengan kepasrahan dan ketenangan di saat kritis

• Diam sebagai Strategi Bijaksana: Menyadarkan bahwa diam dan mengabaikan provokasi sering kali menjadi taktik pertahanan diri yang cerdas dari hujatan tanpa dasar

• Keterkaitan Fisik dan Jiwa: Menggarisbawahi bahwa pemeliharaan kesehatan raga (makan, minum yang cukup) berperan krusial dalam menyembuhkan kelelahan mental

• Tawakal Memerlukan Ikhtiar: Keteladanan Maryam menggoyang pohon dalam keadaannya yang payah membuktikan bahwa mukjizat senantiasa mengiringi usaha manusia.

• Solusi Ilahi di Tengah Fitnah: Memberikan keteguhan hati bahwa Allah tidak akan membiarkan hambanya terlantar; Dia selalu menyertakan petunjuk praktis untuk melewati tekanan sosial.