Liputan6.com, Jakarta - Fenomena menyimpan uang tunai di rumah atau yang sering disebut sebagai cash hoarding kerap kali dipandang sebelah mata sebagai tindakan yang kuno. Padahal, di balik tumpukan uang tunai yang disimpan di dalam celengan, brankas, atau tempat tersembunyi lainnya, terdapat lapisan psikologis yang kompleks. Berdasarkan berbagai literatur psikologi dan ekonomi perilaku, tindakan ini bukan sekadar urusan finansial, melainkan cerminan dari cara seseorang mengelola rasa cemas, kebutuhan akan kontrol, hingga respons adaptif terhadap ketidakpastian dunia luar.
Memahami ciri orang yang selalu menyimpan uang tunai di rumah menurut psikologi membuka wawasan baru bahwa uang sering kali diperlakukan sebagai simbol keamanan emosional, bukan sekadar alat tukar. Faktor-faktor seperti pengalaman masa lalu, neurobiologi otak, hingga rasa tidak percaya pada sistem digital turut membentuk pola pikir ini.
Artikel ini akan mengupas tuntas karakteristik mendalam dari individu yang gemar menyimpan uang tunai di rumah berdasarkan pendekatan ilmiah dan otoritatif. Jadi simak pembahasan selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Kamis (10/9/2026).
Advertisement
1. Memiliki Kebutuhan Primer akan Kontrol Mutlak di Tengah Ketidakpastian
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345425/original/095299500_1789031701-1.jpg)
Karakter pertama dari individu yang gemar menyimpan uang fisik di rumah adalah tingginya kebutuhan akan kontrol personal atas hidup mereka. Ketika seseorang merasa bahwa aspek-aspek penting dalam hidupnya, seperti keamanan pekerjaan, stabilitas ekonomi, atau kebijakan institusi keuangan, berada di luar kendali, mereka cenderung memegang erat hal yang paling nyata untuk dipegang. Uang fisik memberikan ilusi kontrol mutlak karena wujudnya yang nyata dan dapat diakses seketika tanpa perantara pihak ketiga.
Dr. Sarah Newcomb, seorang psikolog finansial, menjelaskan bahwa ketika seseorang merasa hidupnya tidak menentu, mereka akan memegang erat satu hal yang dapat mereka kuasai sepenuhnya. Menyimpan uang tunai di rumah memberikan rasa kepemilikan yang utuh dan tidak terikat oleh sistem digital yang sewaktu-waktu dapat mengalami gangguan atau pembatasan. Bagi mereka, lembaran uang fisik di tangan adalah bentuk kedaulatan pribadi atas masa depan mereka yang rapuh.
Â
Advertisement
2. Menjadikan Uang Tunai sebagai Keamanan Emosional
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345426/original/003180600_1789031702-2.jpg)
Bagi sebagian orang, uang tunai di rumah berfungsi bukan sebagai instrumen investasi yang berkembang biak, melainkan sebagai security blanket psikologis. Fenomena ini berkaitan erat dengan cara otak manusia memproses rasa aman, di mana uang tunai bertindak sebagai penyangga emosional terhadap skenario terburuk yang mungkin terjadi di masa depan. Berdasarkan riset mengenai money hoarding, tindakan ini sering kali didorong oleh kekhawatiran mendalam terhadap bencana finansial atau krisis tak terduga.
Secara neurobiologis, melihat dan memegang uang fisik dapat mengaktifkan sistem penghargaan di otak dan meredakan kecemasan interoseptif. Ketika individu merasa terancam oleh ketidakpastian global, inflasi, atau ketidakstabilan politik, keberadaan uang tunai di dalam rumah memberikan ketenangan mental yang instan. Mereka rela mengorbankan potensi keuntungan dari bunga bank atau investasi demi kepastian psikologis bahwa dana tersebut aman dari jangkauan sistem digital.
Â
3. Dipengaruhi oleh Kecemasan Finansial
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345427/original/013031600_1789031702-3.jpg)
Karakter berikutnya sangat berkaitan dengan apa yang disebut oleh psikolog keuangan Dr. Brad Klontz sebagai money scripts atau keyakinan bawah sadar mengenai uang yang terbentuk sejak masa kanak-kanak. Individu yang tumbuh dalam lingkungan dengan riwayat krisis ekonomi, atau mereka yang pernah mengalami trauma finansial di masa lalu, sering kali mengembangkan kewaspadaan uang yang berlebihan (money vigilance).
Kecemasan ini terekam kuat di dalam sistem saraf, membuat mereka mempersepsikan dunia luar sebagai tempat yang penuh ancaman finansial. Akibatnya, mereka mengisolasi sebagian aset mereka dari sistem perbankan formal dan menyimpannya di rumah agar terlindung dari apa yang mereka bayangkan sebagai malapetaka besar. Pola pikir ini membuat mereka merasa bahwa hanya uang tunai yang berada di bawah pengawasan langsung mereka sendiri yang benar-benar aman dari kehancuran sistemik.
Â
Advertisement
4. Memiliki Kecenderungan Menilai Tinggi Privasi dan Otonomi Transaksi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345428/original/023018200_1789031702-4.jpg)
Keinginan yang kuat akan privasi juga menjadi ciri khas psikologis dari orang-orang yang gemar memegang uang tunai dalam jumlah besar di tempat tinggal mereka. Di era digital saat ini, hampir setiap transaksi elektronik meninggalkan jejak data yang dapat dipantau oleh korporasi, bank, atau pemerintah. Bagi individu yang menjunjung tinggi kerahasiaan pribadi, hal ini sering kali memicu ketidaknyamanan tersendiri.
Studi dari bank sentral di berbagai negara menunjukkan bahwa preferensi terhadap uang tunai didorong oleh nilai-nilai kebebasan dan perlindungan data pribadi. Orang yang memiliki karakter ini merasa bahwa privasi finansial adalah bagian dari hak asasi yang harus dijaga. Dengan menyimpan uang tunai di rumah, mereka memiliki kebebasan penuh untuk mengalokasikan dana tanpa harus melalui pengawasan atau pencatatan digital yang rentan terhadap kebocoran data.
Â
5. Dipengaruhi oleh Faktor Penurunan Kognitif atau Paranoia Terkait Usia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345429/original/031848800_1789031702-5.jpg)
Dalam beberapa kasus khusus, terutama pada kelompok usia lanjut, kebiasaan menyembunyikan uang tunai dalam jumlah besar di rumah dapat berkaitan dengan perubahan neuropsikologis. Kondisi medis seperti penurunan kognitif ringan, demensia, atau penyakit Alzheimer sering kali memicu gejala paranoia atau hilangnya rasa percaya pada institusi perbankan modern.
Pakar perencanaan kekayaan mencatat bahwa lansia kerap kali melupakan simpanan yang mereka letakkan di tempat-tempat tidak biasa seperti di dalam lemari es, di bawah kasur, atau di dalam kaleng kue karena dorongan kecemasan internal. Meskipun terlihat eksentrik bagi anggota keluarga, perilaku ini berakar dari rasa takut kehilangan kendali atas harta yang telah mereka kumpulkan seumur hidup akibat memburuknya fungsi memori dan meningkatnya kerentanan psikologis.
Â
Advertisement
Pertanyaan yang Sering Diajukan Seputar Money Hoarder
Q: Apakah normal menyimpan uang tunai di rumah menurut psikologi?
A: Menyimpan dana darurat dalam jumlah wajar di rumah adalah hal yang normal dan adaptif. Namun, jika tindakan ini dilakukan secara berlebihan hingga mengabaikan instrumen keuangan produktif dan didorong oleh kecemasan ekstrem, hal tersebut dikategorikan sebagai perilaku maladaptif atau money hoarding.
Q: Apa dampak psikologis dari money hoarding atau menimbun uang di rumah?
A: Meskipun awalnya memberikan ketenangan semu, tindakan menimbun uang tunai secara berlebihan dapat memicu stres berkepanjangan karena kekhawatiran konstan terhadap keamanan fisik uang tersebut dari risiko pencurian, kebakaran, atau kerusakan.
Q: Bagaimana cara mengatasi kecemasan yang mendasari kebiasaan menyimpan uang di rumah?
A: Pendekatan seperti konseling dengan terapis keuangan (financial therapist) atau penerapan terapi perilaku kognitif (CBT) dapat membantu seseorang mengenali money scripts negatif dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3240979/original/034838700_1600333608-cek_fakta_dunkin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9325839/original/017388300_1786941962-SaveClip.App_774018427_18654331219062582_8550405466413949350_n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345412/original/043692800_1789030992-cek_fakta_lesti_kejora.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260845/original/013183500_1781665170-Wapres_Gibran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345424/original/086018300_1789031701-Gemini_Generated_Image_wsaxjfwsaxjfwsax.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345099/original/099922200_1789018436-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_8.12.08_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1527841/original/075874300_1488787214-IMG_1488240797111.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340277/original/096438600_1788499326-ChatGPT_Image_4_Sep_2026__12.19.35.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342572/original/072108600_1788776192-WhatsApp_Image_2026-09-05_at_8.00.42_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3483161/original/088606400_1623749024-arnaud-mesureur-7EqQ1s3wIAI-unsplash_Fotor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9341193/original/070615900_1788587329-photo_6116408067076329990_w.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9341187/original/034872500_1788587080-photo_6116408067076329991_w.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339398/original/071195200_1788414214-1000851136.jpg.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7750180/original/000394600_1780558306-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335175/original/002603900_1787916904-WhatsApp_Image_2026-08-28_at_12.31.39_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4653599/original/043466900_1700279714-WhatsApp_Image_2023-11-18_at_10.51.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333784/original/020979700_1787807052-ChatGPT_Image_27_Agu_2026__11.59.05.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340622/original/093046000_1788512685-Gemini_Generated_Image_3np4br3np4br3np4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337440/original/038192700_1788245804-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336746/original/072216700_1788174644-Gemini_Generated_Image_oi3erboi3erboi3e.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336713/original/009245600_1788172605-Gemini_Generated_Image_fearwtfearwtfear.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336643/original/029718700_1788169711-Gemini_Generated_Image_dd7nzkdd7nzkdd7n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334121/original/083799800_1787821021-Gemini_Generated_Image_xu9pmmxu9pmmxu9p.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310607/original/096417900_1785325135-watermarked_img_12803590074672241242.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340390/original/087807200_1788504640-FiLNlN0ENwwYVbfSGnrTm5OXmHxiT2XtSPmWccU5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340387/original/024409000_1788504638-e0lOdJATxdpZGDXw16cWkJwad260kP6hTFw1VcfF.jpg)