Cara Memulai Habit Stacking agar Kebiasaan Baik Lebih Mudah Dilakukan Setiap Hari

Habit stacking membuat proses membentuk rutinitas terasa lebih sederhana dan mudah diterapkan.

Diterbitkan 10 September 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Habit stacking menjadi salah satu cara yang bisa dicoba untuk membangun kebiasaan baru tanpa harus mengubah rutinitas sehari-hari secara drastis. Teknik ini memungkinkan seseorang menambahkan kebiasaan baru ke dalam aktivitas yang sudah dilakukan secara otomatis, sehingga proses membentuk rutinitas terasa lebih sederhana dan mudah diterapkan.

Membangun kebiasaan baru memang terdengar mudah, tapi mempertahankannya sering kali menjadi tantangan tersendiri. Banyak orang memulainya dengan penuh semangat, mulai dari berolahraga secara rutin, membaca buku sebelum tidur, hingga membiasakan diri minum lebih banyak air.

Namun, setelah beberapa hari atau minggu, kebiasaan tersebut tak jarang mulai ditinggalkan karena kesibukan, rasa malas, atau sekadar lupa. Memulai kebiasaan baru juga tidak harus menunggu momen tertentu.

Awal minggu, awal bulan, atau tahun baru memang kerap dianggap sebagai waktu yang tepat untuk membuat perubahan, padahal tidak ada waktu yang benar-benar sempurna untuk memulai kebiasaan. Hal yang lebih penting adalah menemukan cara agar kebiasaan baru dapat menyatu dengan aktivitas yang sudah menjadi bagian dari keseharian.

Misalnya, melakukan peregangan setelah bangun tidur, minum segelas air setelah menyikat gigi, atau membaca beberapa halaman buku setelah makan malam. Dengan memanfaatkan rutinitas yang sudah familiar, kebiasaan baru lebih mudah dilakukan secara konsisten.

Melansir Real Simple, Rabu, 29 Juli 2026, habit stacking menjadi strategi sederhana untuk menciptakan perubahan kecil yang dapat bertahan dalam jangka panjang.

Waktu Ideal

Banyak orang memilih awal minggu untuk memulai kebiasaan baru. Senin kerap dianggap sebagai simbol "awal yang baru," sehingga target seperti berolahraga, membaca buku, atau memperbaiki pola makan sering dimulai pada hari tersebut.

Namun, awal minggu juga identik dengan pekerjaan dan aktivitas yang menumpuk, sehingga perubahan baru justru bisa terasa lebih membebani. Terapis Will Dempsey menyebut, pertengahan minggu dapat menjadi pilihan untuk memulai kebiasaan baru karena tekanan emosionalnya cenderung lebih rendah.

Ketika rutinitas sudah berjalan, seseorang tidak merasa harus mengubah banyak hal sekaligus. Kondisi ini membuat langkah kecil terasa lebih realistis dan mudah dilakukan.

Pada akhirnya, tidak ada hari yang benar-benar ideal untuk memulai kebiasaan. Pilih waktu yang terasa paling memungkinkan, sehingga perubahan dapat dilakukan tanpa menambah tekanan dalam menjalani keseharian.

Target Spesifik dan Realistis

Memulai kebiasaan baru akan lebih mudah jika target dibuat spesifik dan realistis. Alihalih sekadar ingin lebih sering berolahraga, misalnya, tentukan target berjalan kaki selama 30 menit sebanyak tiga kali seminggu. Tujuan yang jelas membantu mengukur perkembangan sekaligus menjaga motivasi.

Kebiasaan baru juga dapat dikaitkan dengan rutinitas yang sudah dilakukan setiap hari. Minum segelas air setelah menyikat gigi atau membaca beberapa halaman buku setelah minum kopi di pagi hari merupakan contoh habit stacking yang membantu mengingat kebiasaan tanpa perlu pengingat tambahan.

Persiapan sederhana juga bisa mengurangi rasa malas. Menyiapkan pakaian olahraga atau bahan sarapan sejak malam sebelumnya dapat menghilangkan hambatan kecil yang sering membuat seseorang menunda.

Catat setiap kemajuan agar semakin termotivasi. Menandai kalender, menggunakan aplikasi pencatat kebiasaan, atau membuat daftar centang sederhana dapat membantu melihat konsistensi dan mempertahankan kebiasaan tersebut.

Mulai dari Perubahan Kecil

Membangun kebiasaan baru tidak selalu harus dimulai dengan target besar. Memaksakan perubahan sekaligus justru dapat membuat proses terasa berat, terutama ketika seseorang memiliki ekspektasi tinggi terhadap hasil yang ingin dicapai.

Sebaliknya, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi dorongan untuk terus melangkah. Keberhasilan sederhana yang dirasakan dalam waktu singkat juga membantu membangun rasa percaya diri, sekaligus menjaga motivasi agar tidak mudah menyerah.

Menghubungkan kebiasaan baru dengan rutinitas yang sudah dilakukan secara otomatis setiap hari juga bisa dipertimbangkan. Misalnya, membaca beberapa halaman buku setelah minum kopi di pagi hari atau melakukan peregangan setelah menyikat gigi.

Dengan cara ini, kebiasaan baru terasa lebih realistis dan tidak membutuhkan perubahan besar dalam keseharian. Langkah kecil yang konsisten pun dapat membantu membentuk rutinitas yang bertahan lebih lama.