Laporan Liputan6.com dari Malaysia: Menjelajahi Langkawi dari Ketinggian hingga Hutan di Malam Hari

Langkawi, Malaysia, terasa seperti pulau yang perlahan membuka lapisannya satu per satu.

Diterbitkan 10 September 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Langkawi, Malaysia, menawarkan lebih dari sekadar pantai dan laut. Pulau yang dikenal dengan lanskap tropisnya ini menyimpan beragam pengalaman wisata, mulai dari menikmati panorama pegunungan dari ketinggian, mencicipi masakan rumahan, memacu adrenalin di atas air, hingga menyusuri hutan yang dipenuhi cahaya dan cerita legenda.

Dalam satu rangkaian perjalanan, beragam sisi Langkawi itu terasa hadir dalam waktu yang berdekatan. Pagi dimulai dari kawasan Gunung Machinchang, siang berlanjut dengan kuliner lokal dan aktivitas air, sementara malam membawa perjalanan ke sebuah hutan yang dikemas sebagai pertunjukan cahaya.

"Langkawi terasa seperti pulau yang perlahan membuka lapisannya satu per satu," menjadi kesan yang muncul sepanjang perjalanan. Penjelajahan yang diinisiasi melalui kolaborasi Tourism Malaysia dan TransNusa itu dimulai di Panorama Langkawi SkyCab, kawasan Gunung Machinchang.

Cable car membawa kami meninggalkan Oriental Village menuju ketinggian 708 meter di atas permukaan laut. Perjalanan singkat itu berubah menjadi pengalaman tersendiri ketika kabin perlahan menjauh dari daratan.

Jalur SkyCab memiliki kemiringan sekitar 42 derajat dan disebut sebagai salah satu rute cable car paling curam di dunia. Dari atas, Langkawi tampak seperti lukisan yang dibentangkan tanpa batas.

Gugusan pulau terlihat mengambang di kejauhan, bahkan beberapa pulau di wilayah selatan Thailand dapat terlihat ketika cuaca mendukung. Dua stasiun menjadi bagian dari pengalaman tersebut.

Stasiun pertama menawarkan jembatan kaca yang cukup membuat lutut bergetar bagi mereka yang takut ketinggian. Ada pula ikon kepala elang beserta telur yang menjadi salah satu titik favorit untuk mengabadikan perjalanan.

 

Langkawi dari Ketinggian

Perjalanan berlanjut ke stasiun kedua, tempat Langkawi SkyBridge berada. Jembatan pedestrian sepanjang 125 meter itu melengkung di atas lanskap pegunungan. Berjalan di atasnya memberikan sudut pandang lain untuk menikmati Langkawi, seolah pulau tersebut sengaja meminta kami berhenti sejenak sebelum kembali turun.

Dari ketinggian, kami kemudian berpindah ke pengalaman yang jauh lebih membumi. Makan siang berlangsung di Mak Ngah Gulai Panas, kawasan Kisap, Langkawi.

Tidak ada kemewahan restoran wisata di tempat ini. Suasananya lebih dekat dengan rumah makan lokal yang sederhana, dengan hidangan rumahan yang terasa akrab bagi lidah Indonesia.

Mak Ngah dikenal lewat gulai ikan, tapi pilihan makanannya cukup beragam. Setelah pagi dihabiskan di tengah atraksi wisata, sajian bercita rasa Melayu itu justru menghadirkan jeda yang menyenangkan.

 

Jetcar yang Menegangkan

Sore kembali membawa kami ke air. Dari kawasan jetty, sebuah jetcar berbentuk mobil sport meluncur di perairan Langkawi. Bentuknya sekilas menyerupai Lamborghini, tapi sensasi yang diberikan lebih dekat dengan perpaduan antara berkendara dan bermain air.

Barang bawaan sebaiknya dibuat sesedikit mungkin. Ponsel akan lebih aman dengan phone strap, sedangkan tas tahan air berguna untuk melindungi barang dari cipratan. Wisatawan yang mudah mengalami motion sickness juga sebaiknya menyiapkan obat antimual sebelum perjalanan dimulai.

Jetcar kemudian membawa kami menuju Tasik Dayang Bunting di Pulau Dayang Bunting. Nama tersebut berarti "dayang yang mengandung," merujuk pada bentuk pegunungan yang dari kejauhan menyerupai perempuan hamil yang sedang berbaring.

Di baliknya tersimpan legenda Mambang Sari dan Mat Teja, kisah cinta tragis yang menjadi bagian dari cerita rakyat Langkawi. Danau air tawar itu berada begitu dekat dengan laut.

Kami menghabiskan waktu dengan berenang dan mencoba permainan yang menyerupai mini ninja warrior. Kepercayaan lokal menyebutkan, siapa pun yang berenang di danau tersebut akan memperoleh kesuburan.

Magisnya Malam di Dalam Hutan

Malam hari belum menjadi tanda perjalanan berakhir. Setelah makan malam di Orkid Ria Seafood Restaurant, restoran seafood yang berdiri sejak 1989 dan hanya berjarak sekitar satu menit dari hotel, kami menuju Dream Forest Langkawi.

Di sana, hutan berubah menjadi ruang pertunjukan sepanjang sekitar 1,2 kilometer. Cahaya, musik, projection mapping, instalasi seni, narasi, dan aktivitas interaktif berpadu menghidupkan tiga kisah utama: legenda Tasik Dayang Bunting, Merong Mahawangsa, serta cerita tentang para raksasa Langkawi.

Pengunjung tidak sekadar berdiri sebagai penonton. Cerita bergerak mengikuti langkah kaki, membuat perjalanan terasa seperti memasuki halaman dongeng yang hidup. Teknologi hadir tanpa sepenuhnya mengambil alih alam.

Salah satu interaksi yang menarik terdapat pada spot berbentuk terompet mirip tanduk. Pengunjung cukup berteriak, lalu lampu-lampu kecil di sekitar hutan akan menyala semakin banyak sesuai kekuatan suara. Tiket untuk wisatawan asing yang kami temui saat kunjungan berada di kisaran RM 85 atau sekitar Rp 372 ribu.

Kembali ke Penang

Keesokan paginya, Langkawi perlahan kami tinggalkan. Ferry membawa kami menuju Kuala Kedah, sebelum perjalanan darat dilanjutkan ke Penang International Airport.

Sebelum terbang pulang bersama TransNusa, masih ada satu persinggahan: Nasi Kandar Beratur 786. Antrean menjadi bagian dari pengalaman, sebanding dengan sajian yang datang dalam porsi mengenyangkan dan pilihan menu yang beragam.

Perjalanan pun berakhir di bandara. Rangkaian rute dari Penang, Perlis, hingga Langkawi meninggalkan satu kesan sederhana: menjadikan Penang sebagai pintu masuk untuk menjelajahi destinasi-destinasi di sekitarnya bukan sekadar memungkinkan, tapi juga menawarkan perjalanan yang penuh cerita.