Laporan Liputan6.com dari Malaysia: Memulai Perjalanan dari Jejak Sejarah George Town

Dari Fort Cornwallis hingga Streets of Harmony, George Town membuka kisah sejarah, perdagangan, dan keberagaman yang hidup berdampingan hingga kini.

Diterbitkan 07 September 2026, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - George Town punya cara tersendiri untuk menyambut siapa pun yang datang. Di balik deretan bangunan tua dan jalan-jalan yang menyimpan jejak masa lalu, ibu kota Penang ini membawa cerita tentang pelabuhan, perdagangan, dan pertemuan berbagai budaya yang berlangsung selama ratusan tahun.

Wajah Penang yang selama ini lebih dikenal masyarakat Indonesia sebagai tujuan medical tourism pun terasa berbeda ketika perjalanan dimulai dari sini. Sejarah tidak sekadar menjadi latar, tapi hadir dalam bangunan, rumah ibadah, makanan, bahkan kehidupan masyarakatnya yang masih berjalan berdampingan.

Atas undangan Tourism Malaysia dan TransNusa, bulan lalu, Lifestyle Liputan6.com menjadikan George Town sebagai titik awal perjalanan selama empat hari tiga malam menyusuri kota-kota di utara Semenanjung Malaysia.

"Memasuki tahun ketiga kolaborasi bersama TransNusa, kami terus melihat potensi besar pasar Indonesia untuk Malaysia. Melalui Famtrip ini, kami ingin memperlihatkan bahwa Malaysia bukan hanya mudah dijangkau, tapi juga menawarkan pengalaman yang beragam dalam satu perjalanan singkat," ungkap Direktur Tourism Malaysia Jakarta, Hairi Mohd Yakzan.

Langkah pertama membawa kami menelusuri kota lewat walking tour bersama CeritaLah, menyusuri jejak yang mengantarkan George Town dari sebuah kawasan pelabuhan menjadi kota dengan wajah multikultural yang kuat.

Dari satu sudut kota ke sudut lainnya, pemandu kami yang akrab disapa Mr Tiger menuturkan kisah tentang bagaimana George Town mulai berkembang setelah Inggris mendirikannya pada 1786.

Posisi Penang sebagai pelabuhan menjadi magnet bagi para pedagang dari China, India, kawasan Timur Tengah, hingga Eropa. Pertemuan berbagai kelompok tersebut perlahan membentuk karakter kota yang kaya akan budaya.

 

Awal Penang Modern

Kisah awal Penang modern kemudian membawa kami ke Fort Cornwallis, benteng yang berdiri di tepi laut George Town. Tempat ini memiliki kaitan erat dengan kedatangan Captain Francis Light, perwakilan British East India Company, pada 1786.

Mendaratnya Light menjadi salah satu titik penting dalam perkembangan permukiman Inggris di Penang. Benteng yang terlihat kokoh hari ini ternyata memiliki awal yang jauh lebih sederhana.

Struktur pertama Fort Cornwallis dibuat menggunakan batang pohon palem. Bentuknya kemudian berkembang menjadi benteng berbahan batu bata pada awal abad ke-19, mengikuti kebutuhan kawasan yang semakin berkembang.

Nama Fort Cornwallis mungkin membuat orang membayangkan kisah peperangan. Kenyataannya, benteng tersebut tidak pernah tercatat terlibat dalam pertempuran besar sepanjang sejarah operasionalnya.

Tempat ini lebih banyak berfungsi untuk kegiatan administratif dan menjadi bagian dari pusat pemerintahan Inggris di Penang. Setelah melalui proses konservasi selama bertahun-tahun, Fort Cornwallis kembali dibuka untuk publik pada Juli 2026.

 

Streets of Harmony

Dari benteng, perjalanan berlanjut menuju sisi George Town yang memperlihatkan bagaimana berbagai komunitas membangun kehidupan dalam ruang yang sama. Streets of Harmony menjadi salah satu kawasan yang paling jelas menggambarkan pertemuan tersebut.

Enam landmark keagamaan yang kami datangi memperlihatkan keberadaan tradisi yang berbeda dalam jarak yang berdekatan. Kapitan Keling Mosque, Sri Mahamariamman Temple, Goddess of Mercy Temple, St. George's Anglican Church, Masjid Melayu Lebuh Acheh, dan Church of the Assumption menjadi bagian dari lanskap kota.

Masing-masing memiliki cerita tentang komunitas yang datang, menetap, menjalankan perdagangan, lalu membangun kehidupan di George Town. Keberadaan rumah-rumah ibadah itu terasa menarik karena bukan lahir dari sebuah rancangan untuk menciptakan kawasan wisata multikultural.

Tempat-tempat tersebut tumbuh mengikuti perkembangan masyarakat yang datang ke kota. Jejaknya kemudian menetap dan menjadi bagian dari identitas George Town hingga kini.

 

Pindah ke Meja Makan

Kehidupan yang tumbuh berdampingan itu pula yang membuat George Town memiliki tempat penting dalam sejarah dunia. Pada 2008, George Town bersama Melaka ditetapkan UNESCO sebagai situs Warisan Dunia dengan nama Melaka and George Town, Historic Cities of the Straits of Malacca.

Kedua kota tersebut dinilai sebagai contoh kota perdagangan yang berkembang melalui pertukaran budaya antara Timur dan Barat selama sekitar 500 tahun. Pengalaman mengenal Penang kemudian berpindah dari jalanan ke meja makan.

Di Astaka Kota Selera, kami mencicipi Mee Sotong Hameed Pata, mi goreng dengan cumi yang menjadi salah satu kuliner khas Penang. Hidangan tersebut memiliki akar dari tradisi kuliner Indian-Muslim atau Mamak yang turut memperkaya cerita tentang pertemuan budaya di pulau ini.

Perjalanan kuliner berlanjut ke Muthu Banana Leaf. Nasi, kari, dan beragam lauk disajikan di atas daun pisang, menghadirkan cita rasa yang berakar dari tradisi India Selatan. Makanan menjadi cara lain untuk memahami perjalanan sebuah komunitas.

Cerita tentang Manusia

Walking tour bersama Mr Tiger pun tidak terasa seperti perjalanan sejarah yang kaku. Di sela-sela cerita mengenai bangunan dan komunitas, ia menyelipkan berbagai fun facts tentang aturan, kebiasaan, bahkan way of life masyarakat Penang pada masa lalu.

Cerita-cerita kecil tersebut membuat kota terasa lebih dekat, seolah sejarah tidak berhenti di balik dinding bangunan tua. Sebuah booklet turut menemani perjalanan kami.

Enam landmark keagamaan yang dikunjungi memiliki tempat untuk dibubuhi stempel sebagai penanda perjalanan. Aktivitas sederhana itu membuat langkah menyusuri George Town terasa seperti permainan kecil, sekaligus menyisakan sesuatu yang dapat dibawa pulang.

Pada akhirnya, perjalanan mengenal George Town tidak berhenti pada daftar tempat yang dikunjungi. Benteng, rumah ibadah, jalanan, dan makanan hanyalah pintu masuk menuju cerita yang lebih besar tentang manusia.

Kota ini tumbuh dari pertemuan banyak orang dengan latar berbeda, lalu menyimpan jejak mereka dalam kehidupan yang terus bergerak.