Liputan6.com, Jakarta Setiap orang punya cara berbeda saat marah, dan tidak semuanya meledak-ledak. Salah satu yang paling sulit dibaca adalah karakter orang yang marahnya diam, yakni mereka yang justru memilih bungkam ketika hatinya sedang panas.
Diam di sini bukan berarti tidak peduli atau tidak terluka. Justru keheningan itu sering menjadi cara mereka memproses emosi supaya tidak bertindak impulsif.
Berdasarkan riset (Emotion Regulation in Everyday Life, 2003, James J. Gross and Oliver P. John), orang yang cenderung menekan penampakan luar dari emosinya (expressive suppression) sering kali melakukan hal tersebut sebagai bentuk perlindungan diri, demi menjaga keharmonisan hubungan sosial agar tidak memicu konflik baru yang lebih besar.
Advertisement
Memahami karakter orang yang marahnya diam sejak awal akan membantumu menjaga relasi dengan lebih hati-hati sekaligus penuh empati.
Apa Itu Karakter Orang yang Marahnya Diam?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5263909/original/029020100_1750835278-Screenshot_2025-06-25_at_14.05.49.jpg)
Secara sederhana, ini menggambarkan seseorang yang benar-benar merasakan amarah, tetapi memilih tidak mengungkapkannya secara langsung. Dalam psikologi, pola semacam ini sering disebut silent anger atau quiet anger, yaitu marah yang disimpan rapat ketimbang diteriakkan.
Yang menarik, dari luar orang seperti ini justru tampak paling tenang.Karena kurang terlihat dibanding amarah yang agresif, marah diam kerap disalahartikan sebagai ketenangan; dari luar seseorang tampak santai dan tidak terpengaruh, padahal di dalam dirinya ia bisa saja sedang memutar ulang percakapan, menarik diri secara emosional, atau justru makin menyimpan rasa kesal.
Perlu kamu pahami sejak awal, sikap ini belum tentu bawaan lahir. Marah diam umumnya bukan sifat kepribadian, melainkan strategi yang dipelajari, dan kerap muncul sebagai cara menghindari konflik: perbedaan pendapat dianggap "bahaya", sehingga orang tersebut menarik diri demi menjaga hubungan.
Manfaat utama sikap ini bagi pelakunya adalah ruang untuk menenangkan diri sebelum bereaksi. Contoh sederhananya, bayangkan seorang karyawan yang idenya dikritik tajam di rapat: alih-alih membantah saat itu juga, ia memilih diam, lalu menyampaikan keberatannya keesokan hari dengan kepala dingin. Di sinilah letak sisi positif dari karakter orang yang marahnya diam, selama amarah itu benar-benar diproses, bukan sekadar dipendam.
 Baca juga: 6 cara terbaik mengendalikan emosi
Advertisement
Ciri-Ciri Kepribadian Orang yang Marahnya Diam
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4613174/original/023424700_1697511054-_fpdl.in__frustrated-upset-couple-after-quarrel-sitting-sofa-home_1163-4450_normal.jpg)
Orang yang diam saat marah biasanya punya sejumlah ciri kepribadian yang khas. Sikap diamnya mudah dikira acuh atau keras kepala, padahal keheningan itulah cara mereka memproses emosi dan menghadapi konflik tanpa bertindak impulsif. Mereka umumnya introspektif, empatik, sekaligus mandiri dalam mengelola perasaannya sendiri.
Ciri lain yang menonjol adalah ketangguhan dan kepercayaan diri secara emosional. Diam menjadi bagian dari kekuatan mereka; mereka paham bahwa bereaksi seketika belum tentu menyelesaikan masalah, sehingga memberi diri ruang untuk mengurai perasaan tanpa dikuasai frustrasi, dan cukup memercayai diri sendiri untuk menanganinya.
Dalam ulasannya, YourTango mengutip sejumlah ahli untuk menjelaskan mengapa jeda seperti ini penting. John Amodeo, terapis pernikahan dan keluarga, dikutip dari YourTango, menyatakan, "Jeda memungkinkan kita hadir dengan lembut bersama perasaan kita sehingga perasaan itu punya waktu untuk mereda."
Mereka juga cenderung sangat jeli dan berhati-hati sebelum bicara. Kemampuan membaca situasi membuat mereka menyerap banyak informasi sebelum memberi respons. Joe Navarro, pakar komunikasi, dikutip dari YourTango, mengatakan, "Memiliki kemampuan observasi yang baik berarti cukup peka terhadap perasaan orang lain, termasuk mampu memvalidasi apa yang mungkin dipikirkan atau dirasakan orang lain."
Sisi lainnya, mereka umumnya pribadi tertutup, sabar, dan peka terhadap penilaian orang. Mereka tidak mudah membuka isi hati sebelum merasa aman dan percaya. Tips singkat, jangan buru-buru menilai sikap diamnya sebagai kesombongan; sering kali itu justru tanda ia sedang berusaha keras menahan diri agar tidak menyakiti siapa pun.
Alasan Psikologis di Balik Pilihan untuk Diam
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4613170/original/006854100_1697511052-couple-having-communication-problems__1_.jpg)
Alasan paling umum adalah menghindari konflik. Bagi banyak orang, keheningan adalah mekanisme pertahanan untuk mundur sejenak daripada memperkeruh suasana. Mereka menilai perdebatan panas jarang menghasilkan solusi, jadi lebih baik menahan diri dulu.
Namun tidak semua diam bersifat disengaja. Sebagian orang justru membisu karena mengalami "banjir emosi" atau emotional flooding. Saat seseorang kewalahan, tubuhnya masuk ke kondisi terpicu secara fisiologis: detak jantung meningkat, hormon stres melonjak, dan kemampuan berdiskusi secara rasional menurun, sehingga menutup diri terasa seperti menekan tombol jeda otomatis.
Bagi sebagian orang, kebiasaan ini terbentuk jauh sebelum dewasa. Pola marah yang dipendam kerap berakar dari masa kecil; anak yang tumbuh di lingkungan yang melarang atau menghukum ekspresi marah belajar menekan emosi itu sebagai mekanisme bertahan. Kebiasaan tersebut lalu terbawa hingga dewasa tanpa disadari.
Ada pula yang diam karena tidak ingin membebani orang lain dengan emosinya. Karena itu, banyak yang lebih memilih menahan diri sambil mencari cara mengendalikan emosi secara mandiri sebelum akhirnya buka suara.
Advertisement
Silent Anger, Silent Treatment, dan Stonewalling: Apa Bedanya?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5266426/original/015157500_1751002795-young-couple-suffering-from-std.jpg)
Penting kamu bedakan, tidak semua sikap diam itu sama. Ada marah diam yang sehat sebagai proses menenangkan diri, tetapi ada juga yang berubah menjadi pola merusak dalam sebuah hubungan
Silent Treatment
Silent treatment adalah bentuk mendiamkan yang disengaja untuk menghukum atau mengendalikan.
Sengaja menutup diri saat berdebat, yang dikenal sebagai silent treatment, kerap dipakai sebagai cara mengendalikan atau menghindari konflik, dan pada kasus narsistik digunakan sebagai alat manipulasi. Dilansir dari SimplyPsychology, jika pola ini terus berulang, ia bahkan bisa menjadi salah satu prediktor perceraian.
Stonewalling
Berbeda dengan itu, stonewalling lebih sering terjadi tanpa disengaja sebagai mekanisme pertahanan tubuh. Mengacu pada konsep hubungan dalam buku (The Seven Principles for Making Marriage Work, 1999, John Gottman and Nan Silver), stonewalling biasanya bermanifestasi ketika tiga "penunggang kuda" komunikasi lainnya—yaitu kritik, penghinaan, dan sikap defensif—sudah menumpuk hingga membuat seseorang merasa kewalahan secara emosional.
Bedanya, silent treatment umumnya merupakan bentuk penarikan diri yang disadari secara aktif untuk menghukum atau memanipulasi pasangan. Sementara itu, stonewalling secara klinis merujuk pada kondisi flooding atau mati rasa ketika sistem saraf seseorang benar-benar stres sehingga ia tidak mampu lagi terlibat dalam percakapan.
Sebagaimana dijelaskan oleh The Gottman Institute, jika kondisi penarikan diri ini tetap tidak membaik bahkan setelah mengambil jeda waktu untuk menenangkan diri, maka intervensi melalui terapi pasangan menjadi langkah berikutnya yang sangat direkomendasikan.
Dampak Memendam Amarah bagi Kesehatan dan Hubungan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4613171/original/009835200_1697511054-_fpdl.in__front-view-young-female-red-shirt-suffers-from-physical-threats-violence-with-shut-ears-cream-space-female-cloth-photo_140725-28673_normal.jpg)
Amarah yang terus ditahan tidak hilang begitu saja, melainkan menumpuk. Tubuh sering membocorkannya lewat sakit kepala tegang, rahang mengatup, nyeri otot kronis terutama di bahu dan leher, serta gangguan pencernaan. Tanda-tanda fisik ini kerap muncul bahkan sebelum orangnya sendiri sadar sedang marah.
Dampaknya juga menjangkau kesehatan jangka panjang. Merujuk studi dalam jurnal Frontiers in Psychology, kemarahan berkaitan dengan konsekuensi jangka panjang seperti kematian lebih dini, peningkatan risiko kardiovaskular, dan peradangan kronis. Penelitian lain juga mengaitkan
kebiasaan menekan amarah secara kronis dengan risiko gangguan kardiovaskular, melemahnya sistem imun, dan gangguan pencernaan.
Dari sisi mental, amarah yang dipendam bisa berbalik menyerang diri sendiri. Studi menunjukkan individu yang lebih banyak menekan amarah cenderung menampakkan tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi. Alih-alih meledak keluar, energi marah itu berubah menjadi rasa cemas, gelisah, atau murung yang menetap.
Dalam hubungan, bahayanya justru menunda ledakan. Bila amarah berulang kali ditekan, tekanan itu menumpuk dan pada akhirnya meledak dalam bentuk kemarahan yang tak sebanding dengan pemicu kecilnya . Karena itu penting mengenali cara meredam ledakan emosi sejak dini, sebelum sikap diam berubah menjadi keretakan hubungan.
Advertisement
Cara Menghadapi Orang yang Marahnya Diam
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5125117/original/037556600_1738917230-upset-man-apologizing-woman-white.jpg)
Menghadapi orang bertipe ini butuh kesabaran ekstra, entah kamu berada di posisi lawan bicara atau justru mengenali sifat itu pada dirimu sendiri. Kuncinya sama, memberi ruang aman tanpa memaksa.
Jika Kamu Berhadapan dengan Orang yang Marahnya Diam
Langkah pertama, dekati dengan rasa ingin tahu, bukan tuduhan.
Cobalah menghampiri orangnya dengan rasa penasaran alih-alih kritik; akui dengan tenang apa yang kamu perhatikan dan ciptakan ruang untuk percakapan terbuka. Selanjutnya, beri ia waktu untuk memproses dan jangan menuntut jawaban seketika, karena kepercayaan bertumbuh perlahan. Kalau suasana sedang panas, kamu bisa belajar teknik mengendalikan emosi saat bertengkar agar pembicaraan tidak makin runcing.
Jika Kamu Sendiri Cenderung Diam Saat Marah
Mulailah dengan menamai emosimu dan akui pada diri sendiri bahwa kamu memang sedang marah.
Ingat bahwa marah diam justru tersulut oleh batasan yang tidak jelas, jadi tegaskan dalam pikiranmu apa yang mulai sekarang bisa kamu terima dan apa yang tidak. Kemudian, latih menyampaikannya lebih awal dan lebih jujur, sebab tujuannya bukan menghapus amarah, melainkan mengungkapkannya lebih cepat, lebih jelas, dan lebih dewasa.
Jennifer Hamady, terapis, dikutip dari YourTango, menyatakan, "Begitu kita lebih sadar akan bahasa yang kita gunakan dan cara kita berbicara, kita bisa mengubah pola dan kebiasaan yang tidak efektif menjadi lebih baik." Sebagai langkah praktis, kamu bisa mencoba beberapa cara mengendalikan emosi dengan cepat seperti menarik napas dalam sebelum bicara.
Pada akhirnya, memahami karakter orang yang marahnya diam mengajakmu untuk lebih peka, sabar, dan tidak gampang menghakimi sebuah keheningan. Diam bisa jadi tanda seseorang sedang menjaga dirimu sekaligus dirinya sendiri, tetapi diam yang tidak pernah dibicarakan hanya akan menumpuk. Baik untukmu maupun orang di sekitarmu, kunci sehatnya tetap sama: beri ruang, bangun rasa aman, lalu ubah keheningan itu menjadi percakapan jujur pada saat yang tepat.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5495483/original/029586100_1770372285-sherly_tjoanda_klaim_giveaway.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9134026/original/050942300_1783073986-lestikejora_0307-HLL6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3240979/original/034838700_1600333608-cek_fakta_dunkin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9325839/original/017388300_1786941962-SaveClip.App_774018427_18654331219062582_8550405466413949350_n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345795/original/008163100_1789092818-pexels-cottonbro-4101139.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345099/original/099922200_1789018436-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_8.12.08_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1527841/original/075874300_1488787214-IMG_1488240797111.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340277/original/096438600_1788499326-ChatGPT_Image_4_Sep_2026__12.19.35.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342572/original/072108600_1788776192-WhatsApp_Image_2026-09-05_at_8.00.42_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3483161/original/088606400_1623749024-arnaud-mesureur-7EqQ1s3wIAI-unsplash_Fotor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9341193/original/070615900_1788587329-photo_6116408067076329990_w.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9341187/original/034872500_1788587080-photo_6116408067076329991_w.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339398/original/071195200_1788414214-1000851136.jpg.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7750180/original/000394600_1780558306-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335175/original/002603900_1787916904-WhatsApp_Image_2026-08-28_at_12.31.39_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4653599/original/043466900_1700279714-WhatsApp_Image_2023-11-18_at_10.51.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333784/original/020979700_1787807052-ChatGPT_Image_27_Agu_2026__11.59.05.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4748447/original/020346600_1708482444-Ilustrasi_main_HP__tertawa__lucu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337197/original/042389100_1788236445-01M13Q2XQQ1R7C99ZWA27MZM2T.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345411/original/086235500_1789030780-8ac36e7c-ab16-4eea-a6ba-831af37dce82.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5255623/original/083387500_1750189376-expressive-pretty-woman-posing.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345424/original/086018300_1789031701-Gemini_Generated_Image_wsaxjfwsaxjfwsax.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340390/original/087807200_1788504640-FiLNlN0ENwwYVbfSGnrTm5OXmHxiT2XtSPmWccU5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340387/original/024409000_1788504638-e0lOdJATxdpZGDXw16cWkJwad260kP6hTFw1VcfF.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5122486/original/032113500_1738741293-lady-using-shampoo-wash-clean-her-hair-bathroom-with-splash-shower-spray-water.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3129117/original/013664000_1589524975-Landscape_View_Of_Hagia_Sophia_In_Istanbul__Turkey.jpg)