MRT Siapkan Wajah Baru Kota Tua

Karakter heritage kawasan Kota Tua akan menjadi fondasi dalam pengembangan placemaking tersebut.

Diterbitkan 11 September 2026, 10:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • MRT Jakarta mengembangkan konsep placemaking untuk revitalisasi kawasan Kota Tua.
  • Konsep ini berfokus pada identitas heritage, perdagangan elektronik, seni, dan film.
  • Tujuannya adalah memperkuat pariwisata Jakarta dengan karakter unik berbeda dari Blok M.

Liputan6.com, Jakarta - PT MRT Jakarta tengah menyiapkan konsep placemaking dalam revitalisasi kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Division Head Business Planning and Expansion Division PT MRT Jakarta, R Samuel Ryan Pradipta menyebut, placemaking merupakan bagian dari strategi MRT untuk menghidupkan kawasan melalui ruang publik, komunitas, aktivitas, serta identitas yang kuat.

Menurutnya, sebuah kawasan tidak cukup hanya dibuat bagus secara fisik. Kawasan juga harus memiliki karakter yang membuat masyarakat merasa nyaman, tertarik datang, dan memiliki keterikatan dengan tempat tersebut.

“Placemaking ini sebetulnya kata kuncinya a sense of place-nya. Jadi suatu tempat itu harus punya suatu makna atau suatu tema, dan harus inklusif, bisa untuk siapa pun,” kata Samuel dalam rangkaian MRTJ Fellowship Program 2026.

Samuel bilang, karakter heritage kawasan Kota Tua akan menjadi fondasi dalam pengembangan placemaking tersebut. Kawasan Glodok dan Petak Sembilan misalnya memiliki karakter tersendiri, mulai dari bangunan peninggalan Belanda hingga aktivitas perdagangan elektronik yang telah lama dikenal masyarakat.

“Kalau bangunan Belanda, memang di sana banyak bangunan Belanda, cuma kan dari dulu tuh belum pernah jadi fokus utama,” ucapnya.

Identitas yang sudah ada tersebut akan tetap dipertahankan dalam proses revitalisasi. Menurut Samuel, MRT Jakarta juga melihat potensi untuk menghidupkan kembali karakter perdagangan elektronik di kawasan tersebut sebagai bagian dari pengalaman yang ditawarkan Kota Tua.

Dia menilai pengalaman berinteraksi secara langsung dengan produk elektronik masih memiliki daya tarik di tengah perkembangan digital. Aktivitas seperti mencoba perangkat sebelum membeli dapat menjadi bagian dari karakter kawasan.

“Kalau mau beli sound system, mau nyoba suaranya dulu, nah ini yang kembali ke humanity tadi,” ujarnya.

Beda dengan Blok M

Tak berhenti pada heritage dan perdagangan, Samuel berujar bahwa konsep placemaking Kota Tua juga akan diarahkan pada aktivitas seni dan film. Samuel menyebut kawasan tersebut berpotensi menjadi ruang bagi pameran seni, fotografi, produksi film hingga pengembangan studio film.

Pendekatan ini sekaligus membuat karakter Kota Tua nantinya akan berbeda dengan kawasan Blok M yang juga tengah dikembangkan MRT Jakarta. Jika Blok M mengusung identitas culture, urban youth, skena, dan nostalgia, Kota Tua akan tetap bertumpu pada heritage yang dipadukan dengan seni, film, aktivitas modern, serta karakter Glodok.

“Tujuannya sebenarnya satu, supaya memiliki visi sendiri, karena Blok M buat skena, Kota Tua beda lagi kan,” ujar Samuel.

Pengembangan placemaking Kota Tua juga akan diarahkan untuk memperkuat sektor pariwisata Jakarta. Dengan memiliki identitas dan aktivitas yang berbeda dari kawasan lain, wisatawan diharapkan memiliki lebih banyak alasan untuk mengeksplorasi Jakarta.

“Harapannya ini kan naik nih, jadi stay di Jakarta lamaan dikit tuh 3 hari 4 hari, sebetulnya eksplor dulu Kota Tua, habis itu eksplor Blok M. Jadi tourism Jakarta itu tujuan dengan destinasi ya, kita sebutnya destination tourism,” kata dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6