Mengapa Pedestrian Deck Dukuh Atas Dibuat Melingkar? Ini Penjelasan MRT

Pedestrian Deck Dukuh Atas Dirancang Jadi Ikon Baru Jakarta, Ada Galeri Jenderal Sudirman

Diterbitkan 02 Agustus 2026, 15:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT MRT Jakarta memastikan Pedestrian Deck Dukuh Atas tidak hanya berfungsi sebagai penghubung berbagai moda transportasi umum. Infrastruktur tersebut juga disiapkan menjadi ikon baru Jakarta yang memadukan fungsi konektivitas, ruang publik, desain, dan edukasi.

Salah satu konsep yang direncanakan adalah menghadirkan galeri sejarah Jenderal Sudirman. Galeri tersebut akan ditempatkan di area Pedestrian Deck yang menghadap langsung ke Patung Jenderal Sudirman.

Advisor Program Management Office Division PT MRT Jakarta (Perseroda) Agus Trihan mengatakan, galeri itu nantinya akan memberikan informasi mengenai sosok Jenderal Sudirman sekaligus sejarah pembangunan patung yang menjadi salah satu ikon di kawasan Jalan Jenderal Sudirman.

“Jadi, ketika orang melihat patung tersebut, mereka juga mendapatkan informasi edukasi mengenai siapa sosok Jenderal Sudirman dan kapan patung itu dibangun,” kata Agus dalam rangkaian MRTJ Fellowship Program 2026 di Jakarta.

Konsep edukasi tersebut akan melengkapi desain Pedestrian Deck Dukuh Atas yang berbentuk lingkaran. Menurut Agus, bentuk menyerupai cincin itu dipilih untuk menyelaraskan desain bangunan dengan karakter sejumlah ikon Jakarta yang telah lebih dahulu hadir.

“Kalau lihat bangunan-bangunan atau ikon-ikon di Jakarta mulai dari Bundaran Senayan, GBK (Gelora Bung Karno), hingga Bundaran HI, semuanya bentuknya lingkaran, ya. Jadi, pedestrian deck juga memiliki desain yang selaras,” ujar Agus.

 

 

Kedepankan Nilai Estetika dan Edukasi

Sejumlah ruang publik dan infrastruktur di Jakarta juga mengusung bentuk serupa, di antaranya Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Halte Integrasi CSW, Bundaran Patung Kuda, hingga Jakarta International Stadium (JIS).

Agus menjelaskan, rancangan yang saat ini dipaparkan masih berupa basic design atau desain dasar.

Karena itu, desain akhir Pedestrian Deck Dukuh Atas masih dapat mengalami pengembangan, termasuk kemungkinan penambahan unsur budaya Betawi maupun elemen yang merepresentasikan identitas Jakarta.

“Sebenarnya ini baru basic design, untuk desain final akan dikerjakan oleh kontraktor sesuai dengan peraturan yang berlaku. Jika memang diperlukan penempatan ornamen ikon Jakarta, tentu kami akan mengikutinya,” kata dia.

Selain mengedepankan nilai estetika dan edukasi, Pedestrian Deck Dukuh Atas juga dirancang untuk memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pejalan kaki.

Agus mengatakan struktur bangunan tersebut dirancang memiliki kapasitas beban hingga 500 kilogram per meter persegi.

“Pedestrian Deck ini didesain memiliki kekuatan beban 500 kilogram per meter persegi,” kata Agus.

Jalur Diperlebar untuk Antisipasi Kepadatan

 

MRT Jakarta juga menyiapkan pelebaran jalur di sejumlah titik yang berpotensi mengalami kepadatan pengguna. Jalur utama yang semula memiliki lebar sekitar empat hingga lima meter akan diperluas menjadi tujuh meter di area utara dan selatan.

“Jalur utama yang biasanya lebar empat hingga lima meter akan diperlebar menjadi tujuh meter di area utara dan selatan agar tidak terjadi penumpukan atau bottleneck bagi pejalan kaki,” ujarnya.

Pedestrian Deck Dukuh Atas nantinya akan menghubungkan sejumlah moda transportasi umum sekaligus menyatukan empat kuadran kawasan Dukuh Atas yang selama ini dipisahkan oleh Jalan Jenderal Sudirman dan Sungai Ciliwung.

Kehadiran fasilitas tersebut juga akan melengkapi konektivitas kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD) yang telah dibangun sebelumnya, seperti Terowongan Kendal, jalur pedestrian Jalan Blora, dan Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) Dukuh Atas.

Pedestrian Deck Dukuh Atas dirancang berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 100 meter. Struktur sepanjang lebih dari 300 meter itu akan membentang di atas Jalan Jenderal Sudirman dan Sungai Ciliwung serta ditopang oleh empat titik tiang utama.

Pembangunan fisik proyek tersebut ditargetkan dimulai pada November 2026 dan rampung pada 2028. Saat ini, proyek masih berada dalam tahap tender dengan nilai investasi sekitar Rp361,7 miliar yang seluruhnya dibiayai oleh PT MRT Jakarta.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6