Harga Bitcoin Hari Ini Melesat Setelah Rilis Data Inflasi AS Terbaru

Harga bitcoin (BTC) dan ethereum (ETH) menguat usai rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).

Diterbitkan 12 September 2026, 09:57 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga bitcoin (BTC) dan ether (ETH) mengalami kenaikan setelah rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) terbaru. Analis menilai angka Indeks Harga Konsumen (IHK) yang sebagian besar sesuai harapan tidak banyak mengubah perkiraan mengenai arah kebijakan suku bunga the Federal Reserve (the Fed), sehingga tren kenaikan kripto secara keseluruhan tetap terjaga.

Mengutip the block, Sabtu (12/9/2026), harga bitcoin sempat hampir menyentuh US$ 79.000 atau Rp 1,39 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.610) sebelum stabil di kisaran US$ 77.800 atau Rp 1,36 miliar. Berdasarkan data coinmarketcap.com, harga bitcoin naik 0,56% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga bitcoin turun 2,88%.

Saat ini, harga bitcoin berada di posisi US$ 77.309 atau Rp 1,36 miliar. Sementara itu, harga ether naik melampaui US$ 2.500 atau Rp 44,01 juta seiring kenaikan Indeks Harga Konsumen 0,4% pada Agustus, yang membawa tingkat inflasi tahunan ke 3,4%, menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja AS.

Harga energi menjadi faktor pendorong utama. Harga bensin melonjak lebih dari 25% secara tahunan.

Menurut para analis, data tersebut tidak memberikan banyak informasi baru bagi pasar kripto untuk memperhitungkan dampaknya terhadap keputusan The Fed September. Hal ini membuat pergerakan Bitcoin dan aset digital lainnya lebih bergantung pada permintaan dasar serta kondisi keuangan secara umum dibandingkan pada angka IHK itu sendiri.

"Situasinya tidak terlihat suram karena secara historis, BTC mencatatkan imbal hasil rata-rata naik 2,13% dalam periode 30 hari setelah rilis data IHK inti yang lebih tinggi dari perkiraan. Hal ini memperkuat argumen bahwa tren kenaikan akan berlanjut jika The Fed mempertahankan suku bunga tetap stabil," ujar Analis Senior 21Shares, Matt Mena, dikutip dari the block.

 

Menguji Ketahanan Pergerakan Bitcoin

CIO Sygnum Bank, Fabian Dori, menyoroti risiko lonjakan tak terduga pada inflasi inti dapat memaksa penyesuaian kembali ekspektasi pasar terhadap The Fed dan menantang reli Bitcoin yang kini semakin didorong oleh alokasi institusional, bukan oleh leverage spekulatif.

"Angka inflasi inti yang lebih tinggi dari perkiraan merupakan salah satu risiko pembalikan arah pasar yang nyata yang telah kami antisipasi menjelang reli ini," kata Dori.

"Dengan probabilitas kenaikan suku bunga bulan September mendekati 70%, kejutan kenaikan angka inflasi tidak hanya mengubah penilaian pasar terhadap pertemuan tersebut, tetapi juga, setidaknya untuk sementara, menguji ketahanan pergerakan Bitcoin yang dibangun berdasarkan alokasi aset, bukan leverage,” Dori menambahkan.

Analis Bitget, Lewis Huang, mencatat adanya divergensi antara inflasi umum (headline inflation) yang meningkat akibat faktor energi dan inflasi inti yang terus melandai. Menurut dia, kondisi ini memberikan ruang bagi The Federal Reserve (the Fed) untuk tidak terlalu bereaksi terhadap kenaikan inflasi umum, sehingga keputusan September akan bergantung pada keseimbangan faktor inflasi, pasar tenaga kerja, dan kondisi keuangan secara keseluruhan.

"Bagi pasar kripto, data ini kurang memberikan katalis arah pergerakan yang bersumber dari kebijakan suku bunga," ujar Huang.

"Bertahannya harga Bitcoin di atas US$ 76.270 mengindikasikan bahwa permintaan dasar tetap kuat meskipun ada ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga,” ia menambahkan.

Pasar kripto melihat sinyal suku bunga yang terbatas dari data CPI.

 

Efek Kenaikan Suku Bunga

Menurut Kepala Strategi Investasi di Arbitrum Foundation, Brendan Ma, suku bunga yang lebih tinggi tidak selalu berdampak negatif bagi kripto.

Ia menunjukkan, imbal hasil jangka pendek (front-end yields) yang lebih tinggi dapat mendukung sebagian infrastruktur kripto, khususnya stablecoin dan Treasury yang ditokenisasi, meskipun suku bunga tinggi juga dapat membebani aset berisiko dan aktivitas perdagangan.

"Terkait tokenisasi, suku bunga tinggi bukanlah faktor penghambat seperti yang diperkirakan banyak orang," lanjut Ma.

"Sisi perdagangan di pasar ini memang sensitif terhadap suku bunga, namun sisi agunan justru mendapat keuntungan dari suku bunga,” ia menambahkan.

 

Kuartal Akhir 2026 Jadi Periode Terbesar

Solana (SOL) juga menunjukkan performa yang kuat. Harganya tampak akan bertahan di atas level resistensi US$ 100 dan mengincar target US$ 130. Mena menyatakan, skenario ini semakin mungkin terjadi menjelang kuartal keempat, didukung oleh data ETF dan aktivitas on-chain.

"ETF SOL telah mencatatkan arus masuk bersih lebih dari $500 juta pada tahun 2026, dan Solana mencetak rekor bulan lalu dengan lebih dari 5 miliar transaksi," ujar analis tersebut.

"Ekosistem Ethereum juga menunjukkan kekuatan; jaringan Layer-2 'Robinhood Chain' miliknya menjadi jaringan tercepat yang mencapai pendapatan harian US$ 1 juta dan aktivitas perdagangan US$ 1 miliar, semuanya dalam waktu dua bulan sejak peluncuran."

Secara keseluruhan, Mena menyebut, kuartal terakhir 2026 berpotensi menjadi salah satu periode terbesar bagi pasar kripto sejak terpilihnya Trump.

"Dan jika RUU CLARITY disahkan, sesuatu yang belum diperhitungkan oleh sebagian besar pedagang, BTC tampaknya siap menargetkan level US$ 100.000, ETH US$ 3.000, serta SOL US$ 130 dan seterusnya," pungkasnya.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.