Rupiah Melemah ke 17.611 per Dolar AS, Tertekan Data Inflasi Amerika

Rupiah melemah ke 17.611 per dolar AS setelah pasar merespons kenaikan PPI Amerika Serikat dan tingginya harga minyak.

Diterbitkan 11 September 2026, 17:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada penutupan perdagangan Jumat. Rupiah turun 64 poin atau 0,36 persen menjadi 17.611 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level 17.547 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga melemah ke level 17.611 per dolar AS dari sebelumnya 17.536 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi respons pasar terhadap kenaikan data Producer Price Index (PPI) AS.

“Rupiah pada perdagangan Jumat masih bergerak di bawah tekanan setelah pasar merespons data PPI AS (meningkat menjadi 5,4 persen year on year (yoy) dari 4,8 persen yoy pada bulan sebelumnya, melampaui konsensus sebesar 5,3 persen yoy) yang dirilis Kamis (10/9),” katanya dikutip dari Antara, Jumat (11/9/2026).

Kenaikan PPI menjadi 5,4 persen secara tahunan kembali memicu perhatian investor terhadap risiko inflasi di AS. Kondisi tersebut juga memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).

Imbasnya, yield obligasi AS meningkat dan permintaan terhadap dolar tetap terjaga.

 

 

Perhatian Tertuju ke Inflasi AS

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari faktor eksternal lainnya, yakni harga minyak yang masih berada di level tinggi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.

Meski demikian, sentimen dari dalam negeri memberikan sedikit penahan terhadap pelemahan rupiah. Data penjualan ritel yang dirilis Kamis (10/9/2026) menunjukkan adanya perbaikan aktivitas konsumsi domestik.

Menurut Amru, perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada data inflasi AS atau Consumer Price Index (CPI).

“Untuk perdagangan selanjutnya, fokus pasar akan bergeser pada CPI (Consumer Price Index) AS yang dirilis Jumat malam (11/9/2026). Hasil inflasi tersebut akan menjadi penentu apakah penguatan dolar dan kenaikan yield AS berlanjut menjelang keputusan The Fed pekan depan,” ungkap Amru.

Jika CPI AS berada di atas perkiraan, rupiah berpotensi kembali tertekan. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi dapat membuka ruang bagi pemulihan rupiah.

Dengan kondisi tersebut, rupiah diperkirakan bergerak cukup volatil dalam kisaran 17.500 per dolar AS hingga 17.650 per dolar AS.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6