Rupiah Menguat ke 17.511 per Dolar AS, Tersengat Derasnya Capital Inflow

Nilai tukar rupiah menguat ke level 17.511 per dolar AS sore ini berkat derasnya arus modal masuk ke pasar obligasi pemerintah.

Diterbitkan 09 September 2026, 17:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada penutupan perdagangan pada Rabu (9/9/2026). Mata uang Garuda tercatat melonjak hingga 121 poin atau setara 0,69% ke level 17.511 per dolar AS.

Sejalan dengan penguatan di pasar reguler, acuan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia pada hari ini juga mencatatkan tren positif. Kurs JISDOR BI menguat ke level 17.552 per dolar AS, membaik dari posisi sebelumnya di level 17.618 per dolar AS.

Mata uang domestik ini berhasil rebound cukup signifikan jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.632 per dolar AS.

Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengungkapkan bahwa kinclongnya performa rupiah sore ini tidak lepas dari dorongan faktor internal. Menurutnya, pasar keuangan dalam negeri tengah dibanjiri modal asing yang masuk (capital inflow), khususnya di pasar surat utang negara.

“Rupiah pada perdagangan hari ini menguat dipengaruhi oleh faktor domestik arus modal masuk yang deras ke pasar obligasi pemerintah,” ucapnya dikutip dari Antara.

Berdasarkan data pasar, aliran dana segar yang masuk ke pasar obligasi pemerintah tercatat mencapai US$ 90,5 juta. Masuknya modal asing secara masif ini terdorong oleh perbaikan kondisi fiskal dalam negeri, terutama makin membaiknya defisit anggaran serta capaian penerimaan pajak nasional.

 

 

 

Sikap Kehati-Hatian Investor

Selain itu, daya tarik pasar obligasi Indonesia makin kuat lantaran yield spread (selisih imbal hasil) yang ditawarkan masih cukup lebar jika dibandingkan dengan obligasi pemerintah AS (US Treasury). Kenaikan inflasi yang terus berlanjut di AS membuat obligasi paman sam tersebut dinilai kurang memikat bagi para pemodal global.

Di sisi lain, pergerakan mata uang global juga dipengaruhi oleh sikap kehati-hatian investor yang tengah menantikan rilis data inflasi terbaru AS pada Kamis (10/9/2026). Tingginya harga minyak dunia yang bertahan lama ditengarai menjadi pemicu utama bayang-bayang inflasi tersebut.

Secara konsensus, tingkat inflasi AS diproyeksikan berada di angka 0,4% secara bulanan (monthly) dan 0,2% secara tahunan (year-on-year). Sementara itu, inflasi inti tahunan AS diperkirakan bergerak di kisaran 2,4%.

Proyeksi inflasi tersebut dinilai dapat memicu manuver baru dari bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

“Dengan angka-angka inflasi tersebut di atas membuat tidak nyaman bagi The Fed, dan berakibat ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga minggu depan menjadi 60 persen lebih tinggi dari sebelumnya 35 persen,” ungkap Rully.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6