Jurus BI Bentengi Rupiah dari Gejolak Dolar AS

Kurangi ketergantungan pada dolar AS, BI perkuat transaksi mata uang lokal dan bauran kebijakan demi jaga rupiah dari gejolak global.

Diterbitkan 09 September 2026, 16:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) terus menggenjot penggunaan transaksi mata uang lokal (local currency transaction/LCT) bersama sejumlah negara mitra. Langkah strategis ini diambil demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global dan dinamika geopolitik.

Kepala Grup Makroekonomi Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Jardine A. Husman, menegaskan pentingnya diversifikasi perdagangan internasional agar pasar tak melulu bergantung pada dolar AS. 

Jardine menyebut perluasan LCT merupakan bagian dari strategi BI memperdalam pasar uang dan valuta asing, sekaligus memperkokoh benteng ketahanan sektor eksternal nasional. Hingga saat ini, Indonesia telah menjalin kerja sama LCT dengan Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, dan Singapura. 

Selain mengandalkan LCT, BI menerapkan serangkaian kebijakan lain untuk memagari rupiah, di antaranya:

  • Intervensi Pasar: Melakukan intervensi valuta asing di pasar domestik maupun luar negeri.
  • Kalibrasi & Instrumen Moneter: Menyesuaikan suku bunga dan mengoptimalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik modal asing serta menjaga ketersediaan likuiditas. 
  • Pengawasan Ketat: Memastikan kecukupan likuiditas perbankan dan memperketat pemantauan atas transaksi pembelian dolar AS dalam skala besar.
  •  Guna menopang pertumbuhan ekonomi nasional, BI juga menjalin sinergi erat bersama pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan.

"Kami berkoordinasi sangat erat dengan pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan. Kami membeli surat berharga pemerintah di pasar sekunder untuk menyediakan likuiditas yang memadai bagi pasar," ujar Jardine dikutip dari Antara, Rabu (9/9/2026).

Dukungan Sektor Riil dan Ketahanan Ekonomi

Tak berhenti di situ, BI memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial guna mendoronng penyaluran kredit perbankan ke sektor riil, sembari mengakselerasi digitalisasi sistem pembayaran.

Dari sisi fondasi, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat sangat aman di angka 146,5 miliar dolar AS—setara 5,4 bulan impor atau jauh melampaui standar kecukupan internasional selama 3 bulan.

Meski ekonomi dunia masih dibayangi pertumbuhan yang lemah, inflasi persisten, serta kebijakan moneter ketat, perekonomian Indonesia dinilai tetap tangguh dengan inflasi dan posisi eksternal yang terjaga.

"Hal ini sangat penting bagi kami untuk menjaga stabilitas sekaligus secara bersamaan mendukung pertumbuhan ekonomi," pungkas Jardine.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6