Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan kekuatan ekonomi Indonesia jika dibandingkan dengan Vietnam. Stabilitas ekonomi secara keseluruhan menjadi salah satu keunggulan utama Indonesia.
Destry menyampaikan, ekonomi Indonesia tidak serta-merta dipandang jelek meski tingkat pertumbuhannya masih di bawah Vietnam. Menurutnya, ada kompleksitas dan karakter yang berbeda antara Indonesia dan Vietnam.
"Jadi kalau kita bandingkan negara lain, Indonesia itu sebenarnya posisinya tidak jelek. Dari sisi pertumbuhan ekonomi ya mungkin kalah dari Vietnam ya tadi disampaikan, tapi kan karakter kita beda ya dengan Vietnam, kompleksitas juga masih beda," kata Destry dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Advertisement
Sebagai informasi, ekonomi Vietnam tumbuh 8,18% pada semester I-2026, sementara Indonesia tumbuh 5,45% pada periode yang sama. Meski terpaut lebih dari 2%, Destry menyoroti stabilitas ekonomi dari sisi inflasi di kedua negara.
"Kita pertumbuhan semester pertama 5,45%, kemudian dari sisi inflasi kita juga manageable. Vietnam boleh ekonominya tinggi, tapi inflasinya di atas 4,5–5%. Kemudian juga defisit fiskal kita prudent. Pemerintah disiplin dalam menjalankan defisit fiskal, di mana pada 2025 tercatat 2,8% dan diperkirakan tahun ini sekitar 2,85%," jelas dia.
Destry mengimbau pentingnya kerja sama antarpihak guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional ke tingkat yang lebih optimal ke depannya. "Kemudian kita lihat rasio utang itu juga relatif manageable. Jadi Bapak/Ibu sekalian, memang yang diperlukan... tadi kan saya sampaikan kita bergeraknya itu masih di bawah level optimum kita. Nanti bersama-sama kita mendorong pertumbuhan ekonomi kita, tidak bisa bergerak sendiri-sendiri," bebernya.
Â
Fokus Utama BI
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338879/original/054092500_1788346586-IMG_5583.jpg)
Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan bahwa menjaga stabilitas ekonomi menjadi prioritas utama BI dalam menjalankan arah kebijakan periode 2026–2031. Langkah ini diambil mengingat tingginya gejolak dan ketidakpastian global yang berpotensi memengaruhi kebijakan jangka pendek BI.
"Kita tahu bahwa gejolak global ini masih penuh ketidakpastian. Sehingga tentunya ini akan berimplikasi juga kepada kebijakan-kebijakan kami dalam jangka pendek ini, karena tentu yang pertama harus kita jaga adalah stabilitas," kata Destry usai pelantikan Dewan Gubernur BI di Mahkamah Agung, Rabu (2/9/2026).
Menurut Destry, perekonomian yang stabil akan memberi ruang lebih luas bagi Indonesia untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. Namun, ia menyadari BI tidak bisa bekerja sendirian. Oleh karena itu, penguatan sinergi dengan pemerintah serta kementerian/lembaga terkait menjadi kunci utama, termasuk dalam mengendalikan inflasi dan menghadapi tantangan domestik.
Â
Advertisement
Strategi BI
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338661/original/077969400_1788337107-kom7.jpg)
Guna mendukung komitmen tersebut, Destry menyatakan BI akan menerapkan prinsip 3I plus S dalam setiap kebijakan, yaitu impactful, inklusif, integratif, serta mengutamakan sinergi.
"Tentunya dengan kita memiliki ekonomi yang stabil, ruang-ruang untuk pertumbuhan ekonomi menjadi semakin luas," ujarnya.
Selain menjaga stabilitas, BI juga terus menjalankan mandat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Hal ini mencakup penciptaan iklim ekonomi yang kondusif agar sektor riil dapat terus berkembang dan menyerap lebih banyak tenaga kerja.
"Kami mempunyai mandat juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan sekaligus menciptakan iklim ekonomi yang kondusif, sehingga bisa mendorong pertumbuhan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja," tutur Destry.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339337/original/011380800_1788411813-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-03T120214.684.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1462305/original/017836600_1483611820-20170105-BBM-Naik-AY5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302223/original/051263400_1784536914-cek_fakta_-_Ahok_kaesang_PSI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339448/original/094977900_1788415789-email-attachment_2026_09_03_ariefhakim-at-klyid_bos-bi-singgung-kekuatan-ri-meski-pertumbuhan-ekonomi-kalah-dari-vietnam_1000428804.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1412054/original/002847300_1479720733-vietnam.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5453611/original/095026200_1766482769-82fef968-9e62-4473-a3bf-f5a931b5c7f3.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333297/original/017190300_1787741573-gb1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338027/original/083819600_1788273977-1000427216.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6914551/original/007893700_1779685083-Ketua_Dewan_Komisioner_Otoritas_Jasa_Keuangan__OJK___Friderica_Widyasari_Dewi-25_Mei_2026c.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3181744/original/039116300_1594892567-20200716-Rupiah-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5076500/original/004014500_1735885889-000_32XK6HY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333831/original/071969400_1787808523-IMG_6669.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333760/original/010339400_1787806425-email-attachment_2026_08_27_immanuel-christian_harbolnas-2026-ditargetkan-capai-rp40-triliun-naik-10_93b5f555-95d8-46b5-a578-df84519dfe8f.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4178553/original/009309300_1664767985-Screenshot_2022-10-03-11-05-23-095_com.google.android.youtube.jpg)