Liputan6.com, Jakarta - Perubahan iklim membuat sektor pertanian menghadapi tantangan air yang kian berat. Di tengah krisis itu, negara dengan sistem pertanian kuno yang masih bertahan, justru terbukti mampu bertahan ratusan hingga ribuan tahun tanpa bergantung pada teknologi modern.
Kekeringan, pola hujan yang tidak menentu, hingga banjir membuat sistem irigasi tak lagi cukup hanya berfungsi menyalurkan air ke lahan. World Bank menilai kebutuhan terhadap irigasi tahan iklim (climate-resilient irrigation) semakin mendesak, karena pengelolaan air yang lebih baik dapat mengurangi tekanan sumber daya sekaligus memperkuat ketahanan petani terhadap guncangan cuaca.
Jauh sebelum sensor, aplikasi digital, dan sistem otomatis berkembang, masyarakat di berbagai belahan dunia sudah menciptakan cara mengelola air sesuai kondisi alam masing-masing. Berikut Liputan6.com merangkum dari berbagai sumber enam negara dengan sistem pertanian kuno yang masih beroperasi hingga sekarang.
Advertisement
Kenapa Irigasi Tahan Iklim Makin Mendesak?
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/4936764/original/095846900_1725473551-Persawahan_Kutai_Kartanegara.jpeg)
Tekanan terhadap air pertanian terlihat jelas dari data global. Dalam FAO AQUASTAT Water Data Snapshot 2025 yang menggunakan data 2022, sekitar 72% pengambilan air dunia digunakan untuk sektor pertanian, jauh di atas kebutuhan industri (15%) maupun municipal (13%). Di Asia Selatan porsinya bahkan mencapai 91%, sementara Asia Tenggara sekitar 85%.
Produktivitas lahan dengan irigasi tahan iklim disebut bisa lebih dari dua kali lipat dibanding pertanian tadah hujan. Dengan populasi dunia terus bertambah dan kebutuhan pangan meningkat, pengelolaan air pertanian menjadi persoalan yang tidak bisa ditunda.
Menariknya, prinsip-prinsip yang kini disebut irigasi tahan iklim sebenarnya bukan hal baru. Sejumlah masyarakat kuno telah menerapkannya jauh sebelum istilah ini populer, dan sebagian sistem tersebut masih beroperasi hingga hari ini.
Advertisement
Aflaj, Oman: Mengalirkan Air Gurun dengan Gravitasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339358/original/019532900_1788413361-Irigation-Aflaj1.jpg)
Berbeda dari China, tantangan utama Oman adalah kelangkaan air dan tingkat penguapan yang tinggi. Sistem aflaj mengambil air dari sumber bawah tanah, mata air, atau aliran permukaan, lalu membawanya menuju permukiman dan lahan pertanian melalui jaringan kanal.
Sebagian kanal dibangun di bawah tanah untuk melindungi sumber air dari panas gurun sekaligus mengurangi kehilangan air akibat evaporasi. Air kemudian bergerak mengikuti kemiringan tanah dengan gravitasi, sehingga tidak membutuhkan pompa untuk terus mengalirkannya ke lahan pertanian.
Sekitar 3.000 aflaj masih berfungsi di Oman dan menyediakan 30-50% kebutuhan air di negara tersebut. Setiap petani memperoleh jatah aliran berdasarkan waktu, sehingga sumber air yang terbatas tidak digunakan sekaligus oleh seluruh pengguna.
Dujiangyan, China: Mengatur Sungai Tanpa Bendungan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339359/original/079670500_1788413361-stocksnap-dams-2627421.jpg)
Sistem irigasi Dujiangyan mulai dibangun sekitar 256 sebelum Masehi di Sungai Minjiang, Provinsi Sichuan. Berbeda dari bendungan besar, sistem ini tidak menghentikan aliran sungai, melainkan membagi dan mengarahkannya dengan memanfaatkan topografi serta karakter alami aliran air.
Tiga struktur utama bekerja bersama untuk menjalankan fungsi ini. Yuzui membagi aliran sungai menjadi dua cabang, Feishayan membuang kelebihan air dan sedimen saat debit tinggi, sementara Baopingkou mengatur jumlah air yang masuk ke jaringan irigasi persawahan.
Lebih dari 2.200 tahun setelah dibangun, Dujiangyan masih mengairi sekitar 668.700 hektare lahan pertanian di Dataran Chengdu. Sebagian besar alirannya memanfaatkan gravitasi dan kondisi alami sungai, sehingga sistem ini tetap berfungsi tanpa bergantung pada pompa berskala besar.
Advertisement
Subak, Bali: Air Dikelola Bersama Petani
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2969771/original/040716200_1573978849-subak.jpg)
Indonesia memiliki Subak, sistem irigasi tradisional yang telah digunakan lebih dari seribu tahun dan masih berfungsi hingga sekarang. Air dari sungai dan mata air dialirkan melalui bendung, kanal, dan terowongan menuju persawahan, termasuk sawah terasering yang mengikuti kontur alami lahan.
Kekuatan Subak tidak hanya terletak pada infrastrukturnya, tetapi juga tata kelola air secara kolektif. UNESCO mencatat sekitar 1.200 kelompok Subak mengatur pembagian air bagi petani, sehingga penggunaan satu sumber air dapat dikoordinasikan dari hulu hingga ke lahan pertanian.
Sistem ini memungkinkan petani menyesuaikan pembagian air ketika ketersediaannya berubah akibat cuaca. Pengelolaan bersama juga mengurangi risiko petani di bagian hulu mengambil terlalu banyak air, sehingga lahan di bagian hilir tetap kebagian jatah yang cukup.
Qanat, Iran: Terowongan Bawah Tanah Berusia 2.800 Tahun
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339360/original/085666700_1788413361-_102509638_8831c11c-8760-45d7-bab5-46be32daa4fb1.jpg)
Sistem irigasi kuno qanat telah menjadi fondasi kehidupan di wilayah kering Iran selama ribuan tahun. Melansir Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) serta dokumen warisan dunia UNESCO, teknologi ini telah digunakan sejak sekitar 800 sebelum Masehi, sehingga usianya kini mencapai 2.800 tahun.
Qanat dibangun dengan menggali terowongan horizontal yang mengikuti lapisan akuifer di kaki pegunungan. Sistem ini bekerja tanpa pompa karena air mengalir ke dataran rendah lewat kemiringan terowongan, sementara sumur-sumur vertikal berfungsi sebagai ventilasi sekaligus jalur penggalian.
Di wilayah Kashan, sekitar 75% kebutuhan air dipasok dari qanat, mengairi sekitar 7.350 hektare lahan dan menopang sekitar 20.000 petani. Sistem ini juga efisien karena mengurangi penguapan dan mengambil air dari bagian atas akuifer, sehingga cadangan air tanah tetap terjaga.
Advertisement
Waru Waru, Peru: Bedengan Basah Penangkal Beku dan Kekeringan
Di dataran tinggi Andes sekitar Danau Titicaca, masyarakat Aymara pra-Inca mengembangkan sistem waru waru sejak lebih dari 2.000 tahun lalu. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO) lewat program Globally Important Agricultural Heritage Systems (GIAHS), sistem ini berupa bedengan tanah yang ditinggikan dan dikelilingi kanal air, digunakan untuk menanam kentang, quinoa, hingga cañihua.
Keunikan waru waru terletak pada fungsi kanal airnya. Air di sekeliling bedengan menyerap panas pada siang hari dan melepaskannya kembali pada malam hari, menciptakan efek mikro-iklim yang melindungi tanaman dari embun beku pegunungan sekaligus menjaga kelembapan saat musim kering.
Setelah sempat lama ditinggalkan, sejumlah komunitas di wilayah Puno seperti Acora, Huatta, dan Coata kembali menghidupkan sistem ini untuk menghadapi cuaca yang makin tak menentu. Kombinasi penyimpanan panas alami dan desain bedengan berongga membuat waru waru kini dipandang sebagai model pertanian tahan iklim di dataran tinggi Andes.
Ifugao Rice Terraces, Filipina: Sengkedan yang Menaklukkan Gunung
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339361/original/092972700_1788413361-kanenori-rice-terraces-23890231.jpg)
Di Pulau Luzon utara, masyarakat Ifugao membangun sawah terasering yang mengikuti kontur pegunungan Cordillera. Menurut UNESCO, sistem yang dikenal sebagai Rice Terraces of the Philippine Cordilleras ini telah digunakan lebih dari 2.000 tahun dan ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia sejak 1995.
Cakupannya sangat luas untuk sebuah sistem pertanian tradisional. Menurut catatan American Society of Civil Engineers (ASCE), luas terasering ini mencapai sekitar 20.000 hektare, dengan jaringan irigasi yang menangkap air langsung dari hutan di puncak pegunungan lalu mengalirkannya secara bertingkat ke setiap petak sawah di bawahnya.
Tantangan pelestariannya pun tidak kecil. UNESCO mencatat sebagian sawah terasering ini sempat ditinggalkan akibat perubahan penggunaan lahan dan berkurangnya minat generasi muda meneruskan tradisi bertani di terasering, sehingga upaya konservasi terus dilakukan agar sistem irigasi kuno ini tidak hilang.
Berikut ringkasan keenam sistem pertanian kuno tersebut:
| Negara | Nama Sistem | Perkiraan Usia | Fungsi Utama Saat Ini |
|---|---|---|---|
| China | Dujiangyan | ± 2.280 tahun | Mengairi 668.700 hektare lahan tanpa bendungan |
| Oman | Aflaj | Ribuan tahun | Memasok 30-50% kebutuhan air nasional |
| Indonesia | Subak (Bali) | > 1.000 tahun | Mengatur pembagian air sawah terasering secara kolektif |
| Iran | Qanat | 2.800 tahun | Memasok 75% air di Kashan tanpa pompa |
| Peru | Waru Waru | > 2.000 tahun | Melindungi tanaman dari beku dan kekeringan di Andes |
| Filipina | Ifugao Rice Terraces | > 2.000 tahun | Mengairi 20.000 hektare sawah terasering pegunungan |
Meski dibangun di kondisi alam yang berbeda-beda, keenam sistem ini punya benang merah yang sama: tidak melawan alam sepenuhnya, melainkan menyesuaikan diri dengannya, dan terus dipelihara secara kolektif oleh masyarakat dari generasi ke generasi.
Indonesia sendiri terus memodernisasi irigasinya, tapi prinsip lama dari Dujiangyan hingga Ifugao ini tetap relevan sebagai fondasi menghadapi ketidakpastian iklim ke depan.
Advertisement
Tanya Jawab Seputar Negara dengan Sistem Pertanian Kuno yang Masih Bertahan
Apa itu irigasi tahan iklim (climate-resilient irrigation)? Irigasi tahan iklim adalah sistem pengelolaan air pertanian yang mampu beradaptasi dengan kekeringan, hujan tak menentu, dan banjir, sehingga produktivitas lahan tetap terjaga di tengah tekanan perubahan iklim.
Sistem pertanian kuno mana yang paling tua? Qanat di Iran menjadi salah satu yang tertua, dengan usia sekitar 2.800 tahun berdasarkan catatan FAO dan UNESCO, mengalirkan air tanah dari pegunungan ke lahan pertanian tanpa pompa.
Kenapa sistem irigasi kuno ini masih dipakai sampai sekarang? Sistem-sistem ini bertahan karena dirancang mengikuti kondisi alam setempat, bukan melawannya, dan terus dipelihara secara kolektif oleh masyarakat dari generasi ke generasi.
Apakah Indonesia punya sistem pertanian kuno yang masih berfungsi? Ya, Subak di Bali adalah sistem irigasi tradisional berusia lebih dari seribu tahun yang masih mengatur pembagian air sawah terasering hingga kini, dan diakui UNESCO sebagai warisan budaya.
Berapa besar porsi penggunaan air dunia oleh sektor pertanian? Menurut FAO AQUASTAT 2025, sekitar 72% pengambilan air global digunakan untuk pertanian, bahkan mencapai 91% di Asia Selatan dan 85% di Asia Tenggara.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339337/original/011380800_1788411813-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-03T120214.684.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1462305/original/017836600_1483611820-20170105-BBM-Naik-AY5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302223/original/051263400_1784536914-cek_fakta_-_Ahok_kaesang_PSI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4839484/original/036127000_1716354916-Irigasi.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339347/original/079813000_1788412806-d97e8163-5e1f-471a-8be2-f31efbcecf16.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339297/original/070017100_1788410494-Apple-John-Ternus.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339368/original/093725600_1788413392-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339277/original/000665000_1788409806-b3f5359b-7528-4d4f-97f9-3a1ca461170b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339241/original/083462200_1788407639-cc2d8648-8435-47d8-96bb-bfbb7785e6eb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5493291/original/071272400_1770200738-unnamed__17_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5514204/original/076801600_1772083359-Depositphotos_45989551_L.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339259/original/084460100_1788408225-54026270-83b6-401a-8b2e-4192e628fb67.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324057/original/022396400_1786689053-DB5ZDlCQ4WDEqMgDgvWHRD1Qz1pqNOgKM9NwJqR0.jpg)