Liputan6.com, Jakarta - Kebiasaan menyalakan beberapa alarm sebelum tidur sering dilakukan untuk memastikan waktu bangun tidak terlewat. Bagi sebagian orang, satu bunyi alarm belum cukup membuat tubuh segera beranjak dari kasur.
Fenomena ini menarik perhatian dalam pembahasan perilaku tidur, terutama saat rutinitas tersebut berlangsung hampir setiap hari. Ciri orang yang memasang alarm berkali-kali setiap pagi menurut Psikologi dapat dikaitkan pada pola tidur, kondisi tubuh saat terbangun, hingga kebiasaan menjalani rutinitas harian.
Alarm berbunyi berulang kali lalu tombol snooze ditekan menjadi pemandangan umum pada pagi hari. Ada individu membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa sepenuhnya sadar setelah terbangun.
Advertisement
Ada pula individu terbiasa menunda awal aktivitas selama beberapa menit, sebelum akhirnya meninggalkan tempat tidur. Ciri orang yang memasang alarm berkali-kali setiap pagi menurut Psikologi bisa memberikan gambaran mengenai kebiasaan bangun, kualitas istirahat, pola aktivitas malam dan respons terhadap tuntutan pada pagi hari.
Jumlah alarm tidak selalu menjadi gambaran sifat malas atau kurang disiplin. Kebiasaan tersebut dapat muncul saat seseorang tidur terlalu larut, memiliki jadwal istirahat tidak teratur, mengalami kantuk berat, atau merasa belum siap memulai aktivitas.
Setiap individu juga memiliki kebutuhan tidur berbeda, sehingga kebiasaan memasang alarm perlu dilihat dari konteks kehidupan sehari-hari. Ciri orang yang memasang alarm berkali-kali setiap pagi menurut Psikologi lebih tepat dipahami sebagai pola perilaku, daripada penentu kepribadian secara mutlak.
Berikut ulasan lengkap yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Rabu (2/9/2026).
1. Sering Mengalami Sleep Inertia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3615426/original/060094800_1635393184-alarm.jpg)
Salah satu alasan seseorang memasang alarm berkali kali setiap pagi dapat berkaitan pada sleep inertia yaitu kondisi sementara saat tubuh sudah terbangun, tetapi otak belum sepenuhnya berada dalam kondisi sadar dan waspada. Pada keadaan ini, seseorang mungkin mendengar suara alarm, membuka mata, bahkan mematikan ponsel, tetapi belum mempunyai kesiapan penuh untuk segera bangun dan memulai aktivitas.
Sleep inertia dapat membuat seseorang merasa sangat mengantuk, sulit berpikir secara cepat, kurang fokus, tubuh terasa berat, serta membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa benar benar sadar. Kondisi tersebut dapat berlangsung beberapa menit dan pada situasi tertentu terasa lebih lama. Intensitasnya juga dapat berbeda pada setiap individu, tergantung kondisi tidur, waktu seseorang terbangun, serta kualitas istirahat pada malam sebelumnya.
Orang mengalami sleep inertia cukup berat mungkin merasa alarm pertama terdengar ketika tubuh masih berada dalam fase transisi dari tidur menuju kondisi terjaga. Keinginan untuk kembali memejamkan mata dapat muncul secara spontan. Tombol snooze akhirnya menjadi pilihan paling mudah sebab seseorang belum memiliki energi atau kesadaran penuh untuk meninggalkan tempat tidur.
Kebiasaan tersebut sesekali terjadi belum tentu menunjukkan adanya masalah tertentu. Akan tetapi, bila seseorang hampir setiap pagi harus memasang banyak alarm lalu tetap merasa sangat sulit bangun, kondisi tersebut layak diperhatikan. Evaluasi dapat dimulai melalui durasi tidur, waktu tidur, kualitas istirahat, kebiasaan sebelum tidur, hingga kondisi tubuh ketika bangun.
2. Kemungkinan Kurang Tidur
Memasang alarm berulang kali juga dapat menjadi tanda seseorang belum memperoleh waktu tidur cukup. Tubuh membutuhkan waktu istirahat untuk menjalankan berbagai proses pemulihan setelah menjalani aktivitas sepanjang hari. Jika waktu tidur terlalu singkat, seseorang dapat merasa masih sangat mengantuk ketika alarm mulai berbunyi pada pagi hari.
Orang dewasa umumnya membutuhkan sekitar 7 hingga 9 jam tidur setiap malam, meskipun kebutuhan setiap individu dapat berbeda. Seseorang tidur pukul dua pagi lalu harus bangun pukul enam pagi hanya memperoleh sekitar empat jam waktu tidur. Dalam situasi tersebut, memasang lima atau enam alarm tidak benar benar menyelesaikan persoalan utama. Tubuh tetap membutuhkan tambahan waktu istirahat.
Alarm pada dasarnya hanya berfungsi sebagai alat pengingat untuk membangunkan seseorang pada waktu tertentu. Alarm tidak dapat menggantikan kebutuhan biologis tubuh terhadap tidur. Ketika seseorang terus memotong waktu tidur lalu mengandalkan alarm berlapis, rasa kantuk pada pagi hari dapat tetap muncul meskipun suara alarm terdengar berkali kali.
Kebiasaan begadang, pekerjaan shift, aktivitas malam, bermain gawai sampai larut, menonton film hingga tengah malam, belajar sampai dini hari, atau jadwal tidur tidak konsisten dapat membuat seseorang semakin bergantung pada alarm. Jika pola tersebut berlangsung terus menerus, memperbaiki waktu tidur biasanya lebih bermanfaat daripada terus menambah jumlah alarm.
Advertisement
3. Memiliki Jadwal Tidur Tidak Teratur
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5503768/original/028075100_1771211648-jam_weker__2_.jpg)
Orang memiliki waktu tidur dan bangun berubah ubah setiap hari mungkin lebih sulit merasa siap ketika alarm berbunyi. Tubuh mempunyai sistem pengaturan waktu internal atau ritme sirkadian, sehingga perubahan jadwal secara drastis dapat membuat proses tidur dan bangun menjadi kurang konsisten.
Sebagai contoh, seseorang tidur pukul 22.00 pada satu malam, kemudian baru tidur pukul 01.00 pada malam berikutnya. Pada hari lain, ia mungkin tidur kembali pada pukul 23.30. Perubahan semacam ini membuat tubuh tidak memperoleh pola waktu istirahat konsisten. Akibatnya, bangun pada jam tertentu dapat terasa lebih berat.
Kondisi tersebut dapat mendorong seseorang memasang beberapa alarm sebagai strategi cadangan. Alarm pertama digunakan untuk membangunkan tubuh secara perlahan, alarm kedua menjadi pengingat tambahan, sedangkan alarm berikutnya dianggap sebagai batas terakhir agar tidak terlambat menjalani aktivitas.
Dari sisi psikologi dan kebiasaan, konsistensi rutinitas dapat membantu tubuh mengenali waktu istirahat dan waktu beraktivitas secara lebih teratur. Membiasakan waktu tidur serta waktu bangun relatif sama setiap hari dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap alarm berulang.
4. Cenderung Menunda Transisi dari Istirahat ke Aktivitas
Menekan tombol snooze dapat menjadi bentuk penundaan kecil sebelum menghadapi aktivitas harian. Ketika seseorang berada di tempat tidur, tubuh masih merasakan kondisi nyaman, hangat, tenang, dan minim tuntutan. Begitu bangun, berbagai tanggung jawab mulai menunggu sehingga transisi tersebut terkadang terasa berat.
Tempat tidur dapat menjadi ruang paling nyaman setelah seseorang melewati aktivitas panjang. Setelah alarm berbunyi, pilihan untuk tidur lima atau sepuluh menit lagi terasa jauh lebih menyenangkan daripada langsung berdiri, mandi, berpakaian, menyiapkan sarapan, lalu menjalani perjalanan menuju sekolah atau tempat kerja.
Dalam situasi tertentu, snooze dapat menjadi bentuk penundaan singkat sebelum seseorang menghadapi tuntutan hari tersebut. Jika agenda pagi sangat padat, pekerjaan sedang menumpuk, atau seseorang merasa kurang bersemangat menghadapi aktivitas, keinginan untuk mempertahankan kenyamanan di tempat tidur dapat semakin kuat.
Meski begitu, kebiasaan snooze tidak otomatis berarti seseorang sedang menghindari kehidupannya. Perilaku tersebut dapat muncul sebagai kebiasaan otomatis akibat rasa nyaman, kantuk berat, rutinitas tidur kurang baik, atau proses bangun terasa terlalu mendadak. Memahami penyebabnya menjadi langkah penting sebelum memberikan penilaian terhadap diri sendiri.
5. Membutuhkan Bantuan Eksternal untuk Bangun
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3110447/original/022481300_1587634729-white-ring-bill-alarm-clock-2277923.jpg)
Sebagian orang memang merasa lebih aman ketika memiliki beberapa alarm. Mereka tidak sepenuhnya percaya pada kemampuan tubuh untuk terbangun tepat waktu sehingga membuat beberapa pengingat sebagai bentuk perlindungan dari risiko terlambat.
Alarm pertama dapat berfungsi sebagai peringatan awal. Alarm kedua menjadi pengingat bahwa waktu tidur hampir berakhir. Alarm berikutnya dianggap sebagai jaring pengaman terakhir agar seseorang benar benar meninggalkan tempat tidur sebelum jadwal aktivitas dimulai.
Kebiasaan tersebut dapat muncul akibat pengalaman sebelumnya. Seseorang mungkin pernah terlambat bekerja, sekolah, kuliah, mengikuti ujian, menghadiri rapat, atau mengejar transportasi akibat tidak mendengar alarm. Pengalaman semacam itu dapat membuat munculnya kekhawatiran bahwa kejadian serupa akan terulang.
Secara psikologis, memasang beberapa alarm dapat memberikan rasa aman dan kepastian. Selama kebiasaan tersebut tidak mengganggu kualitas tidur atau aktivitas sehari hari, penggunaan beberapa alarm tidak harus dianggap sebagai masalah. Akan tetapi, bila seseorang merasa tidak mampu bangun tanpa banyak alarm, pola tidur sebaiknya mulai diperhatikan.
6. Terbiasa Menggunakan Tombol Snooze
Menekan snooze berkali kali juga dapat terbentuk melalui proses pembiasaan. Ketika seseorang mengulangi pola alarm berbunyi, menekan snooze, tidur kembali, lalu mengulangi proses tersebut setiap pagi, rangkaian perilaku tersebut lama kelamaan dapat menjadi rutinitas otomatis.
Pada tahap tertentu, seseorang bahkan dapat menekan tombol snooze tanpa benar benar menyadari tindakannya. Tangan secara spontan mencari ponsel ketika mendengar suara alarm. Setelah alarm berhenti, mata kembali terpejam dan tubuh kembali mencari posisi nyaman untuk tidur.
Kebiasaan semacam ini membuat masalah bangun pagi bukan hanya berkaitan pada satu alarm. Ada pola perilaku berulang antara suara alarm, respons otomatis, rasa nyaman setelah snooze, dan keputusan untuk kembali tidur. Semakin sering siklus tersebut dilakukan, semakin familiar pula pola tersebut bagi tubuh.
Mengubah kebiasaan dapat dilakukan secara bertahap. Seseorang dapat mengurangi jumlah alarm, memperpanjang waktu tidur, meletakkan ponsel jauh dari jangkauan tangan, atau membuat rutinitas pagi lebih menarik. Tujuannya bukan memaksa tubuh bangun secara mendadak, tetapi membangun pola baru lebih konsisten.
Advertisement
7. Lebih Sulit Bangun pada Pagi Hari
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2889333/original/020322100_1566457413-bruce-mars-wBuPCQiweuA-unsplash.jpg)
Ada orang secara alami merasa lebih aktif pada malam hari dibandingkan pagi hari. Perbedaan kecenderungan waktu aktivitas ini sering dikaitkan pada chronotype, yaitu pola preferensi biologis seseorang terhadap waktu tidur dan waktu aktif.
Individu memiliki kecenderungan aktif pada malam hari dapat merasa lebih sulit bangun sangat pagi. Jika jadwal kehidupan menuntut mereka bangun ketika tubuh masih berada dalam fase mengantuk, alarm pertama mungkin terasa sangat mengganggu. Mereka kemudian membutuhkan beberapa alarm agar dapat benar benar terjaga.
Kondisi ini tidak otomatis menunjukkan kemalasan. Perbedaan ritme biologis dapat membuat waktu produktif seseorang tidak selalu sama. Ada individu merasa sangat aktif pada pagi hari, sementara individu lain baru memperoleh energi maksimal menjelang siang atau malam.
Meski demikian, tuntutan pekerjaan, sekolah, dan kehidupan sosial sering mengharuskan seseorang mengikuti jadwal tertentu. Penyesuaian waktu tidur secara bertahap, paparan cahaya pagi, rutinitas malam konsisten, dan waktu bangun teratur dapat membantu tubuh beradaptasi pada jadwal lebih pagi.
8. Sering Merasa Pagi Hari sebagai Bagian Hari Paling Berat
Bagi sebagian orang, pagi hari menjadi bagian paling sulit dalam rutinitas harian. Mereka membutuhkan waktu cukup lama untuk memperoleh energi, membangun konsentrasi, dan merasa siap menjalani berbagai aktivitas. Alarm berbunyi berkali kali akhirnya menjadi bagian dari proses untuk keluar dari kondisi tersebut.
Perasaan berat pada pagi hari dapat dipengaruhi banyak hal. Kualitas tidur buruk, tekanan pekerjaan, stres, jadwal padat, rutinitas monoton, kurang aktivitas fisik, atau kebiasaan tidur terlalu larut dapat membuat seseorang sulit memperoleh semangat setelah membuka mata.
Jika seseorang sudah membayangkan banyak tugas segera setelah bangun, keinginan untuk tetap berada di tempat tidur dapat menjadi lebih kuat. Lima menit tambahan terasa seperti kesempatan untuk menghindari transisi mendadak dari kondisi nyaman menuju rutinitas penuh tuntutan.
Snooze akhirnya menjadi bentuk penundaan singkat sebelum menghadapi aktivitas tersebut. Meski begitu, perasaan berat pada pagi hari perlu dibedakan dari masalah kesehatan mental. Tidak setiap orang sulit bangun pagi mengalami gangguan psikologis. Kondisi tersebut dapat menjadi respons normal terhadap kurang tidur atau rutinitas kurang sesuai.
9. Mengalami Stres atau Beban Pikiran
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5503767/original/012496900_1771211647-jam_weker.jpg)
Stres dapat memengaruhi pola tidur seseorang. Ketika pikiran dipenuhi pekerjaan, masalah keluarga, persoalan finansial, hubungan sosial, tugas akademik, atau berbagai kekhawatiran lain, proses menuju tidur dapat menjadi lebih sulit.
Seseorang mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur, terbangun beberapa kali pada malam hari, tidur terasa tidak nyenyak, atau bangun pada pagi hari tanpa merasa segar. Walaupun jumlah jam tidur terlihat cukup, kualitas istirahat belum tentu optimal.
Ketika kualitas tidur menurun, suara alarm pada pagi hari dapat terasa lebih mengganggu. Tubuh dan pikiran masih membutuhkan pemulihan sehingga seseorang cenderung menunda waktu bangun. Tombol snooze memberikan kesempatan singkat untuk kembali berada dalam kondisi nyaman sebelum menghadapi hari.
Jika kebiasaan memasang banyak alarm muncul bersamaan pada kecemasan, perubahan suasana hati, kelelahan berkepanjangan, sulit tidur dalam waktu lama, atau rasa tidak berdaya, kondisi tersebut sebaiknya tidak dianggap hanya sebagai persoalan disiplin. Perubahan pola tidur dapat menjadi salah satu tanda tubuh sedang menghadapi tekanan tertentu.
10. Mengandalkan Alarm untuk Mengompensasi Kebiasaan Tidur
Ada pula orang sadar bahwa dirinya sering tidur terlalu larut, tetapi tetap memasang banyak alarm agar dapat bangun sesuai jadwal. Strategi tersebut memang dapat membantu mencegah keterlambatan, tetapi tidak menyelesaikan penyebab utama mengapa tubuh sulit bangun.
Pola semacam ini dapat diibaratkan seperti menambal masalah pada bagian akhir tanpa memperbaiki sumber persoalan. Alarm membantu membangunkan seseorang pada pagi hari, tetapi tidak dapat menggantikan waktu tidur hilang pada malam sebelumnya.
Jika seseorang terus menerus tidur larut lalu mengandalkan alarm berlapis setiap pagi, langkah lebih efektif adalah memperbaiki waktu tidur secara bertahap. Perubahan dapat dimulai melalui waktu tidur lebih konsisten, pengurangan aktivitas berat menjelang malam, pembatasan penggunaan gawai sebelum tidur, serta pemberian waktu cukup bagi tubuh untuk beristirahat.
Pada akhirnya, jumlah alarm bukan satu satunya hal perlu diperhatikan. Hal lebih penting adalah memahami alasan seseorang membutuhkan alarm berkali kali. Jika penyebabnya berkaitan pada kurang tidur, jadwal tidak teratur, stres, atau kebiasaan snooze, perbaikan pada akar masalah dapat membantu proses bangun menjadi lebih mudah dan alami.
Advertisement
Cara Mengurangi Kebiasaan Memasang Alarm Berkali-kali
Jika ingin mengurangi ketergantungan pada banyak alarm, perubahan dapat dimulai secara perlahan.
- Usahakan memiliki waktu tidur dan bangun relatif sama setiap hari. Konsistensi membantu tubuh membentuk pola tidur-bangun lebih teratur.
- Jangan menjadikan alarm sebagai cara untuk mengganti waktu tidur. Prioritaskan durasi istirahat sesuai kebutuhan tubuh.
- Menaruh ponsel atau jam alarm di sisi lain kamar dapat membuat seseorang perlu bangun secara fisik untuk mematikannya.
- Paparan layar dan aktivitas digital menjelang waktu tidur dapat membuat rutinitas malam menjadi lebih panjang. Cobalah membuat periode tenang sebelum tidur.
- Rutinitas pagi tidak selalu harus langsung berisi pekerjaan. Menyiapkan sarapan favorit, berjalan sebentar, membaca buku, atau menikmati minuman hangat dapat membuat transisi dari tidur ke aktivitas terasa lebih menyenangkan.
- Jika ingin mengubah waktu bangun, lakukan secara bertahap. Memajukan jadwal tidur secara perlahan biasanya lebih realistis daripada memaksa perubahan drastis dalam satu malam.
Pertanyaan Seputar Ciri Orang yang Memasang Alarm Berkali-kali
Apa arti kebiasaan memasang alarm berkali-kali setiap pagi?
Kebiasaan tersebut dapat menunjukkan seseorang merasa membutuhkan beberapa pengingat agar berhasil bangun sesuai jadwal. Penyebabnya bisa berkaitan pada kurang tidur, sleep inertia, jadwal tidur tidak teratur, atau sekadar kebiasaan.
Apakah memasang banyak alarm berarti seseorang malas?
Tidak. Jumlah alarm tidak cukup untuk menentukan seseorang malas. Kondisi tidur, rutinitas harian, beban aktivitas, dan kebiasaan sebelum tidur juga dapat memengaruhi kemudahan seseorang bangun.
Mengapa seseorang membutuhkan banyak alarm untuk bangun?
Beberapa orang sulit langsung sadar setelah alarm berbunyi. Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh rasa kantuk berat, kurang tidur, waktu tidur tidak konsisten, atau kebiasaan menekan tombol snooze.
Apa hubungan alarm berulang dan psikologi?
Alarm berulang dapat berkaitan pada pola kebiasaan, pengendalian rutinitas, respons terhadap tuntutan pagi, serta cara seseorang menghadapi transisi dari tidur menuju aktivitas.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7669455/original/089727000_1780463646-Ahok_cek_fakta_dana_bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338745/original/090258200_1788339990-cek_fakta_-_mahfud.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4882760/original/022793700_1720064683-anak_korban_perang_gaza.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328649/original/001837900_1787203589-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-20T122532.000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5551201/original/045409600_1775720561-pexels-miriam-alonso-7622504.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5486437/original/020989100_1769586669-WhatsApp_Image_2026-01-28_at_14.40.04.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4598161/original/051002500_1696403454-ello-AEU9UZstCfs-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337811/original/041041600_1788258020-2fa0227f-7d29-4bba-9658-fc27b60491e5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337488/original/023797100_1788247509-Menghitung_Uang_Kembalian.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337440/original/038192700_1788245804-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4952899/original/035752000_1727258014-pexels-liza-summer-6347515.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5227870/original/095342200_1747824429-steptodown.com663981.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4790256/original/021674400_1711940355-pexels-cottonbro-studio-3419692.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317506/original/083864000_1786016624-2149283345.webp)