Liputan6.com, Jakarta - Hampir setiap rumah tangga menyimpan peralatan dapur yang mengandung mikroplastik tanpa disadari pemiliknya. Panci antilengket, wadah plastik, sendok, hingga kantong teh menjadi bagian rutinitas memasak sehari-hari. Padahal benda-benda itu bisa melepaskan partikel plastik berukuran mikro setiap kali terkena panas, gesekan, atau air, lalu ikut masuk ke dalam makanan yang disantap setiap hari.
Sejumlah riset bahkan menyebut manusia menelan puluhan ribu partikel mikroplastik setiap tahun, dan sebagian besar berasal dari aktivitas dapur sendiri. Satu kantong teh plastik saja bisa melepaskan miliaran partikel ketika diseduh air panas. Angka itu memang terdengar mengejutkan, tapi bukan berarti harus panik berlebihan. Ada cara sederhana untuk mengenali sumbernya satu per satu.
Artikel ini merangkum delapan peralatan dapur yang mengandung mikroplastik, mulai dari panci hingga bumbu kemasan, berdasarkan sejumlah kajian ilmiah terbaru. Selain mengenali sumbernya, akan dibahas pula tips praktis mengurangi paparannya di rumah. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini agar dapur tetap aman digunakan untuk keluarga sehari-hari.
Advertisement
Apakah Mikroplastik Berbahaya bagi Kesehatan?
Pertanyaan soal bahaya mikroplastik bagi tubuh manusia masih terus diteliti para ilmuwan hingga saat ini. Badan Lingkungan Eropa (EEA) menyebutkan bahwa data soal keberadaan mikroplastik di lingkungan sudah banyak tersedia, tetapi pengetahuan mengenai dampak kesehatannya masih terbatas. Meski begitu, sejumlah penelitian awal sudah menunjukkan adanya keterkaitan dengan gangguan pada tubuh manusia.
Review ilmiah oleh Ghulam Abbas, Usama Ahmed, Muhammad Arsalan Ahmad yang dipublikasikan oleh MDPI menyebutkan bahwa mikroplastik dapat memicu peradangan pada sistem pernapasan dan pencernaan, mengganggu fungsi imun, serta meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan neurotoksisitas. Efek tersebut sebagian besar dikaitkan dengan kemampuan mikroplastik mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh, yang berpotensi memicu gangguan reproduksi.
Sementara itu, review dari PubMed Central mencatat bahwa paparan mikroplastik pada hewan uji dikaitkan dengan stres oksidatif, gangguan pencernaan, hingga masalah genetik, meski bukti kausal langsung pada manusia masih terbatas. Artikel ini bukan pengganti konsultasi medis. Konsultasikan ke dokter atau ahli gizi untuk penjelasan lebih lanjut soal dampaknya bagi kesehatan pribadi.
Advertisement
1. Panci dan Wajan Antilengket
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337577/original/019447500_1788250667-55799.jpg)
Panci dan wajan antilengket berlapis Teflon menjadi salah satu sumber utama mikroplastik di dapur. Lapisan PTFE pada permukaannya mudah terkelupas seiring pemakaian, apalagi jika sering tergores spatula logam. Retakan kecil pada permukaan panci saja disebut bisa melepaskan jutaan partikel mikroplastik ke dalam makanan yang sedang dimasak.
Semakin sering panci dipakai dan semakin tua usianya, semakin banyak pula partikel yang terlepas, terutama saat suhu memasak tinggi. Riset menyebut satu goresan pada panci antilengket bisa melepaskan ribuan partikel hanya dalam hitungan detik. Mengganti panci yang sudah tergores dalam bisa jadi langkah bijak.
2. Wadah Plastik Penyimpan Makanan
Wadah plastik untuk menyimpan atau menghangatkan makanan juga rawan melepaskan mikroplastik, terutama saat dipanaskan di microwave. Panas tinggi mempercepat kerusakan struktur plastik sehingga partikelnya ikut bercampur dengan makanan. Wadah plastik sekali pakai dari layanan antar makanan juga masuk kategori berisiko yang sama.
Penelitian menunjukkan proses memanaskan makanan dalam wadah plastik bisa melepaskan ratusan ribu partikel mikroplastik dalam sekali pakai. Semakin sering wadah dipakai ulang dan dipanaskan, permukaannya semakin rapuh dan makin banyak partikel yang terlepas. Kebiasaan ini umum terjadi pada masyarakat yang sering memesan makanan siap saji.
Advertisement
3. Sendok dan Spatula Plastik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337578/original/024186900_1788250667-7487c737-230c-465b-b32c-af69e27003df.jpg)
Sendok, spatula, dan alat masak plastik lain kerap dipakai untuk mengaduk makanan panas tanpa disadari risikonya. Gesekan dengan panci serta suhu tinggi membuat permukaan plastik terkikis sedikit demi sedikit. Sebagian alat masak berwarna hitam bahkan diketahui mengandung bahan daur ulang dari limbah elektronik.
Bahan kimia tambahan pada alat masak plastik berwarna gelap tersebut bisa ikut larut ke dalam makanan saat proses memasak berlangsung. Alat masak sekali pakai berbahan plastik pun tidak luput dari risiko serupa meski hanya dipakai satu kali. Beralih ke bahan kayu atau stainless steel dapat mengurangi risiko ini.
4. Kantong Teh Berbahan Plastik
Kantong teh berbahan plastik termasuk sumber mikroplastik yang sering luput dari perhatian banyak orang. Suhu air panas saat menyeduh teh mempercepat peluruhan serat plastik pada kantong tersebut ke dalam air seduhan. Sejumlah penelitian bahkan mencatat angka pelepasan partikel yang mencapai miliaran per satu kantong teh.
Bahan polipropilena yang biasa dipakai untuk merekatkan kantong teh menjadi penyebab utama peluruhan partikel saat terkena panas. Semakin lama kantong direndam dalam air panas, semakin banyak partikel yang ikut terseduh bersama teh. Teh daun lepas dengan saringan logam jadi alternatif yang lebih aman.
Advertisement
5. Talenan Plastik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337579/original/031162100_1788250667-pexels-iupilon-3979414.jpg)
Talenan plastik yang dipakai memotong bahan makanan setiap hari juga melepaskan mikroplastik lewat gesekan pisau. Sayuran keras seperti wortel bahkan diketahui menghasilkan lebih banyak partikel dibanding bahan makanan yang lunak. Semakin banyak bekas sayatan pada permukaan talenan, semakin besar pula jumlah partikel yang terlepas.
Partikel dari talenan plastik ini kemudian menempel pada daging, ikan, atau sayuran yang sedang dipotong di atasnya. Talenan berbahan polipropilena tercatat melepaskan partikel lebih banyak dibanding bahan polietilena dalam kondisi pemotongan yang sama. Talenan kayu atau bambu jadi pilihan yang lebih minim risiko.
6. Blender dan Food Processor Plastik
Blender dan food processor berbahan plastik turut menyumbang paparan mikroplastik, khususnya saat menghaluskan bahan yang keras seperti es batu. Gesekan antara pisau berputar dan dinding wadah plastik memicu pelepasan partikel dalam jumlah besar. Proses ini bisa terjadi hanya dalam waktu singkat setiap kali blender dinyalakan.
Penelitian mencatat proses blending selama tiga puluh detik saja mampu melepaskan miliaran partikel mikroplastik ke dalam campuran minuman atau makanan. Semakin keras bahan yang dihaluskan, semakin besar gesekan yang terjadi pada wadah plastik. Memilih blender berwadah kaca bisa menjadi solusi untuk mengurangi risiko ini.
Advertisement
7. Botol dan Galon Air Minum Kemasan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5539349/original/062575900_1774597951-cropped-baf479a8-87f2-4ecb-bd52-5b0cca710b67.jpg)
Air minum kemasan botol plastik menjadi salah satu sumber mikroplastik yang paling sering dikonsumsi manusia setiap hari. Proses pengemasan, penyimpanan jangka panjang, dan paparan suhu membuat partikel plastik dari botol ikut larut ke dalam air. Studi global mencatat hampir seluruh sampel air kemasan yang diuji mengandung mikroplastik.
Semakin lama air disimpan dalam botol plastik, semakin besar pula potensi pelepasan partikelnya ke dalam air minum tersebut. Proses membuka dan menutup tutup botol berulang kali turut mempercepat kerusakan pada bagian tutupnya. Air minum dalam kemasan kaca atau galon isi ulang relatif lebih rendah risikonya.
8. Bumbu Dapur dalam Kemasan Plastik
Bumbu dapur yang dikemas dalam toples atau kantong plastik juga berpotensi mengandung mikroplastik dari kemasannya sendiri. Gesekan saat tutup toples dibuka tutup berulang kali mempercepat kerusakan permukaan plastik di sekitarnya. Kondisi ini membuat partikel plastik berpindah ke dalam bumbu yang tersimpan di dalamnya.
Penelitian menemukan kandungan mikroplastik pada hampir semua kemasan bumbu berbahan plastik yang pernah diuji, terlepas dari jenis bumbunya. Semakin sering kemasan dibuka dan terkena gesekan udara, semakin besar pula plastik yang terkikis ke dalamnya. Menyimpan bumbu dalam wadah kaca dapat menekan risiko ini.
Advertisement
Tips Mencegah Paparan Mikroplastik di Dapur
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337580/original/040652900_1788250667-7258__1_.jpg)
Mengurangi paparan mikroplastik di dapur tidak perlu dilakukan sekaligus atau secara ekstrem. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten justru lebih mudah dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Berikut sejumlah tips praktis yang dapat langsung diterapkan di rumah.
- Ganti Panci yang Sudah Tergores: Panci dan wajan antilengket yang permukaannya sudah tergores sebaiknya segera diganti. Goresan membuat lapisan Teflon lebih mudah terkelupas dan bercampur dengan makanan saat proses memasak berlangsung. Memilih alat masak berbahan stainless steel atau besi cor bisa jadi pengganti yang lebih tahan lama.
- Hindari Memanaskan Makanan dalam Wadah Plastik: Hindari memanaskan makanan langsung di dalam wadah plastik, terutama menggunakan microwave. Panas tinggi mempercepat kerusakan struktur plastik sehingga partikelnya mudah lepas ke makanan. Pindahkan makanan ke wadah kaca atau keramik sebelum dipanaskan agar risikonya berkurang.
- Kurangi Pemakaian Sendok dan Spatula Plastik: Sendok dan spatula plastik, apalagi yang berwarna hitam, sebaiknya mulai dikurangi pemakaiannya di dapur. Bahan tersebut mudah terkikis saat bergesekan dengan panci panas setiap hari. Kayu dan stainless steel jadi alternatif yang lebih aman untuk mengaduk makanan.
- Pilih Teh Daun Lepas Ketimbang Kantong Teh Plastik: Ganti kebiasaan menyeduh teh dari kantong plastik dengan teh daun lepas dan saringan logam. Kantong teh berbahan plastik melepaskan partikel dalam jumlah besar saat terkena air panas. Cara ini juga membuat rasa teh lebih terasa alami tanpa campuran plastik.
- Gunakan Talenan Kayu atau Bambu: Gunakan talenan berbahan kayu atau bambu untuk memotong bahan makanan sehari-hari di rumah. Talenan kayu terbukti tidak melepaskan partikel plastik seperti yang terjadi pada talenan berbahan polipropilena atau polietilena. Rawat talenan kayu secara rutin agar tetap higienis dan awet dipakai.
- Pilih Blender Berwadah Kaca: Pilih blender atau food processor dengan wadah berbahan kaca dibanding plastik biasa. Gesekan antara pisau dan dinding wadah kaca jauh lebih minim melepaskan partikel plastik ke makanan. Bersihkan blender secara rutin agar sisa bahan tidak menumpuk dan mempercepat kerusakan.
- Simpan Air Minum dalam Botol Kaca atau Galon Isi Ulang: Beralih ke air minum dalam kemasan kaca atau galon isi ulang yang lebih jarang dibuka tutup. Semakin lama air tersimpan dalam botol plastik, semakin besar partikel yang ikut terlarut di dalamnya. Simpan air minum di tempat sejuk dan jauhkan dari paparan sinar matahari langsung.
- Simpan Bumbu Dapur dalam Wadah Kaca: Simpan bumbu dapur dalam toples kaca ketimbang kemasan plastik bawaan dari toko. Gesekan saat membuka tutup kemasan plastik berulang kali mempercepat pelepasan partikel ke dalam bumbu. Pindahkan bumbu ke wadah kaca begitu kemasan asli dibuka agar lebih aman disimpan.
Seputar Peralatan Dapur yang Mengandung Mikroplastik
Apa saja peralatan dapur yang mengandung mikroplastik? Beberapa peralatan dapur yang diketahui mengandung atau melepaskan mikroplastik antara lain panci antilengket, wadah plastik, sendok dan spatula plastik, kantong teh, talenan plastik, blender berwadah plastik, botol air kemasan, serta bumbu yang dikemas dalam plastik.
Apakah mikroplastik di dapur berbahaya bagi kesehatan? Penelitian menunjukkan mikroplastik berpotensi memicu peradangan, gangguan hormon, dan stres oksidatif pada tubuh. Namun bukti dampak jangka panjangnya pada manusia masih terus diteliti para ilmuwan hingga saat ini. Konsultasikan ke dokter untuk penjelasan lebih lanjut soal kesehatan pribadi.
Bagaimana cara mengurangi mikroplastik dari peralatan dapur? Cara paling sederhana adalah mengganti alat masak plastik dengan bahan kayu, kaca, atau stainless steel. Hindari memanaskan makanan dalam wadah plastik dan kurangi penggunaan kantong teh plastik. Mengganti alat masak yang sudah tergores juga membantu menekan pelepasan partikel.
Apakah panci antilengket aman digunakan? Panci antilengket masih aman dipakai selama permukaannya belum tergores atau rusak. Begitu muncul goresan, lapisan Teflon lebih mudah terkelupas dan melepaskan partikel mikroplastik ke makanan. Panci yang sudah rusak sebaiknya diganti demi mengurangi risiko paparan.
Apakah air minum kemasan mengandung mikroplastik? Sejumlah studi global menemukan hampir seluruh sampel air minum kemasan botol plastik yang diuji mengandung partikel mikroplastik. Semakin lama air disimpan dalam botol plastik, semakin besar potensi partikel yang ikut terlarut di dalamnya.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463536/original/058765400_1767636182-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331557/original/037451000_1787549916-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-24T123722.755.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337309/original/008779100_1788240212-cek_fakta_-_pinjol_ojk.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7961905/original/013698500_1780798434-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-07T090929.694.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337576/original/010645500_1788250667-5499__1_.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/826048/original/054479300_1426048718-Daun-Kelor-2-20150311-Johan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5553146/original/001461500_1775901327-gigit_mainan.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5199385/original/089960100_1745580189-kimchi-ready-eat-black-plate_1150-35692.jpg)