Liputan6.com, Jakarta - Cara menanam sawi dari sisa batang di wadah air dapat menjadi pilihan sederhana untuk memanfaatkan kembali bagian sayuran yang biasanya dibuang. Pangkal sawi yang masih segar dapat ditumbuhkan kembali dengan perawatan mudah tanpa membutuhkan lahan luas.
Bagi yang ingin mencoba cara menanam sawi dari sisa batang di wadah air, cukup siapkan bonggol sawi, wadah bening, dan air bersih. Letakkan pangkal dengan bagian bawah menyentuh air, lalu simpan di tempat yang mendapat cahaya cukup.
Selain praktis, cara menanam sawi dari sisa batang di wadah air memungkinkan pertumbuhan tunas dan akar diamati setiap hari. Ganti air secara rutin agar tetap bersih. Setelah tanaman berkembang, sawi dapat dipindahkan ke tanah atau dilanjutkan dengan nutrisi hidroponik.
Advertisement
Berikut Liputan6.com merangkum dari berbagai sumber tentang cara menanam sawi dari sisa batang di wadah air, Selasa (1/9/2026).
Â
Bahan yang Diperlukan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337028/original/019350800_1788229468-sawi_2.jpg)
- Sisa pangkal atau bonggol sawi yang masih segar
- Wadah bening, seperti gelas atau mangkuk kecil
- Air bersih
- Nutrisi hidroponik, jika diperlukan
Advertisement
1. Pilih Sisa Batang Sawi yang Masih Segar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337029/original/061385600_1788229468-Pilih_Sisa_Batang_Sawi_yang_Masih_Segar.jpeg)
Langkah pertama adalah memilih sisa pangkal sawi yang masih dalam kondisi baik. Gunakan bonggol sawi yang masih segar, tidak busuk, dan sebaiknya masih memiliki sedikit akar putih di bagian bawahnya. Hindari menggunakan pangkal yang sudah lembek, berlendir, berubah warna, atau memiliki aroma tidak sedap karena akan lebih mudah membusuk saat diletakkan di dalam air.
Saat mengolah sawi, potong bagian daun dan sisakan sekitar sepertiga bagian pangkal atau sekitar 3–5 cm dari bagian bawah tanaman. Usahakan bagian tengah bonggol tetap utuh karena area tersebut menjadi tempat munculnya tunas baru. Semakin baik kondisi pangkal yang digunakan, semakin besar peluang tunas baru untuk tumbuh dengan baik.
2. Bersihkan Pangkal Sawi dengan Air
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337030/original/005675600_1788229469-Bersihkan_Pangkal_Sawi.jpeg)
Sebelum ditanam kembali, bilas bonggol sawi menggunakan air bersih untuk menghilangkan sisa tanah atau kotoran yang menempel. Jika terdapat bagian daun yang sudah membusuk atau rusak, sebaiknya bersihkan terlebih dahulu agar tidak mempercepat proses pembusukan saat pangkal diletakkan di dalam air.
Setelah dibilas, diamkan sebentar hingga bagian pangkal tidak terlalu basah. Hindari mencuci akar terlalu keras karena dapat merusak bagian akar yang masih tersisa. Cukup bilas secara perlahan dan singkat agar akar tetap dalam kondisi baik dan siap untuk menumbuhkan akar baru.
Advertisement
3. Letakkan Pangkal Sawi di Dalam Wadah Berisi Air
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337031/original/053700600_1788229469-Letakkan_Pangkal_Sawi.jpeg)
Siapkan wadah bening, seperti gelas atau mangkuk kecil, kemudian isi dengan air bersih secukupnya. Letakkan pangkal sawi di dalam wadah dengan posisi akar berada di bagian bawah dan bagian tunas menghadap ke atas. Pastikan wadah yang digunakan cukup stabil agar bonggol tidak mudah terbalik.
Pastikan hanya bagian akar atau bagian paling bawah pangkal sawi yang terkena air. Jangan merendam seluruh bonggol karena kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko pembusukan. Ketinggian air cukup untuk menyentuh bagian bawah pangkal dan akar. Wadah bening juga dapat memudahkan Anda untuk memantau perkembangan akar serta melihat kondisi air setiap hari.
4. Simpan di Tempat yang Mendapatkan Cahaya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337032/original/002141600_1788229470-Simpan_di_Tempat_Cahaya.jpeg)
Letakkan wadah berisi pangkal sawi di tempat yang mendapatkan cahaya cukup, seperti dekat jendela, balkon, atau teras yang teduh. Cahaya membantu mendukung proses pertumbuhan tunas dan daun baru sehingga tanaman dapat berkembang dengan lebih baik.
Namun, hindari meletakkan sawi di bawah sinar matahari terik secara langsung dalam waktu lama. Panas berlebihan dapat membuat air cepat menghangat dan menguap, serta meningkatkan risiko pangkal tanaman menjadi layu atau membusuk. Pilih tempat yang terang dengan cahaya tidak langsung atau sinar matahari pagi yang lebih lembut.
Advertisement
5. Ganti Air Secara Rutin
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337033/original/075837200_1788229470-Ganti_Air_Secara_Rutin.jpeg)
Perawatan sawi dengan metode regrow cukup sederhana, yaitu dengan mengganti air secara rutin setiap 1–2 hari sekali. Air yang bersih membantu menjaga kondisi akar tetap segar dan mengurangi risiko air menjadi keruh atau berbau.
Saat mengganti air, buang air lama dan bilas wadah terlebih dahulu sebelum mengisinya kembali dengan air bersih. Periksa pula kondisi pangkal dan akar sawi untuk memastikan tidak ada bagian yang mulai membusuk. Penggantian air secara teratur juga dapat membantu mencegah pertumbuhan bakteri serta mengurangi kemungkinan wadah menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
6. Tunggu Tunas Baru Tumbuh dan Lanjutkan Perawatannya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337034/original/032578700_1788229471-Tunggu_Tunas_Baru_Tumbuh.jpeg)
Dalam beberapa hari, tunas baru biasanya mulai muncul dari bagian tengah bonggol sawi. Akar baru juga dapat mulai berkembang di bagian bawah. Sekitar hari ke-5 hingga ke-7, daun baru umumnya sudah mulai terlihat lebih jelas, meskipun waktu pertumbuhan dapat berbeda tergantung kondisi awal batang, cahaya, suhu, dan lingkungan tempat tanaman diletakkan.
Selama proses pertumbuhan, tetap jaga kebersihan air dan pastikan pangkal sawi berada di tempat yang mendapatkan cahaya cukup. Jika akar sudah tumbuh semakin banyak, panjang, dan kuat, sawi dapat dipindahkan ke pot berisi tanah untuk melanjutkan pertumbuhannya. Media tanah yang digunakan sebaiknya gembur dan memiliki drainase yang baik agar akar dapat berkembang dengan optimal.
Apabila ingin tetap menanamnya di dalam air, Anda dapat menambahkan nutrisi hidroponik sesuai kebutuhan agar tanaman memperoleh unsur hara untuk mendukung pertumbuhan daun. Namun, metode regrow dari sisa batang memiliki keterbatasan dan umumnya tidak menghasilkan pertumbuhan sebanyak tanaman yang ditanam sejak awal dari benih.
Cara ini lebih cocok untuk memanfaatkan kembali sisa sayuran sekaligus menikmati proses munculnya tunas baru di rumah. Untuk hasil panen yang lebih optimal dan pertumbuhan yang berkelanjutan, penanaman sawi dari benih baru tetap menjadi pilihan yang lebih baik.
Pertanyaan Seputar Cara Menanam Sawi dari Sisa Batang di Wadah Air
Apakah semua jenis sawi bisa ditanam kembali dari sisa batang?
Sebagian besar sawi yang masih memiliki bonggol sehat dapat dicoba untuk ditumbuhkan kembali. Pilih pangkal sawi yang masih segar, tidak busuk, dan jika memungkinkan masih memiliki sedikit akar.
Berapa lama tunas baru sawi mulai tumbuh?
Tunas baru biasanya mulai terlihat dalam beberapa hari setelah bonggol diletakkan di dalam air. Pada kondisi yang sesuai, daun baru dapat mulai tampak sekitar hari ke-5 hingga ke-7, meskipun kecepatannya dapat berbeda pada setiap tanaman.
Seberapa sering air untuk menanam sawi harus diganti?
Air sebaiknya diganti setiap 1–2 hari sekali agar tetap bersih dan tidak mudah keruh atau berbau. Saat mengganti air, bersihkan wadah dan periksa kondisi pangkal serta akar untuk memastikan tidak ada bagian yang membusuk.
Apakah bonggol sawi harus terendam seluruhnya di dalam air?
Tidak. Sebaiknya hanya bagian bawah bonggol atau akar yang menyentuh air. Jika seluruh pangkal terendam, risiko pembusukan dapat meningkat. Pastikan bagian atas bonggol tetap berada di atas permukaan air agar tunas dapat tumbuh dengan baik.
Apakah sawi dari sisa batang bisa dipanen kembali?
Bisa ditumbuhkan kembali, tetapi hasilnya umumnya tidak sebanyak tanaman yang ditanam dari benih. Jika akar dan daun baru sudah berkembang dengan baik, bonggol dapat dipindahkan ke media tanah atau dilanjutkan dengan sistem hidroponik menggunakan nutrisi yang sesuai.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5552691/original/021118100_1775819655-Dedi_Mulyadi_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333506/original/017979900_1787792443-ev9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336533/original/011425200_1788164909-cek_fakta_pppk_kemenag.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5573660/original/028626000_1777948829-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-05-05T093819.531.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337027/original/012126200_1788229468-HL_Sawi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303056/original/005328500_1784617374-HL_Sawi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289115/original/097913400_1783392585-Gemini_Generated_Image_famfxcfamfxcfamf.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326492/original/091841800_1787026239-LP6uoVofXDbDKNZT0y9yQCZ0ckItppIT5z9kJnVc.jpg)