Ciri Orang yang Betah Memakai Baju yang Sama Berulang Kali Menurut Psikologi, Ternyata Ada Alasannya

Kebiasaan memakai baju yang sama berulang kali ternyata berhubungan dengan identitas diri yang kuat, efisiensi mental, dan prioritas hidup, bukan sekadar kemala

Diterbitkan 01 September 2026, 14:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ciri orang yang betah memakai baju yang sama berulang kali menurut psikologi ternyata tidak selalu berkaitan dengan kemalasan atau kurang peduli pada penampilan. Kebiasaan memilih kaus, celana, atau kombinasi pakaian yang sama justru dapat berhubungan dengan kenyamanan, efisiensi, cara mengambil keputusan, hingga bagaimana seseorang membangun identitas dirinya.

Bagi sebagian orang, pakaian merupakan bagian dari ekspresi diri. Bagi yang lain, pakaian cukup dipandang sebagai sesuatu yang praktis: nyaman dipakai, mudah dipadukan, dan tidak membutuhkan banyak pertimbangan. Pilihan untuk mengulang pakaian pun dapat menjadi cara sederhana untuk mengurangi beban dari berbagai keputusan kecil dalam keseharian.

Karena itu, kebiasaan tersebut sebaiknya tidak langsung diberi label negatif. Psikologi fashion melihat pakaian sebagai sesuatu yang dapat berkaitan dengan emosi, suasana hati, rasa percaya diri, serta cara seseorang menampilkan dirinya kepada lingkungan. Berikut ulasan Liputan6.com, Selasa (1/9/2026).

1. Lebih menyukai rutinitas yang praktis

Salah satu ciri yang mungkin terlihat pada orang yang sering memakai pakaian serupa adalah kecenderungan menyukai rutinitas sederhana. Mereka tidak merasa perlu menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan penampilan setiap pagi.

Pilihan pakaian yang sudah terbukti nyaman membuat seseorang tidak perlu memulai proses dari awal. Ia sudah mengetahui ukuran yang pas, bahan yang terasa nyaman, warna yang cocok, hingga situasi apa yang sesuai dengan pakaian tersebut.

Kebiasaan ini dapat dikaitkan dengan konsep decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. American Psychological Association (APA) pernah menjelaskan bahwa terlalu banyak pilihan dapat membuat proses mengambil keputusan terasa melelahkan secara mental. Dalam kehidupan sehari-hari, menyederhanakan pilihan pakaian bisa menjadi salah satu cara untuk mengurangi keputusan kecil yang tidak terlalu penting.

Bagi orang yang memiliki jadwal padat, memilih pakaian yang sudah dikenal sering kali terasa lebih efisien daripada mencoba kombinasi baru setiap hari.

2. Cenderung menghargai kenyamanan

Orang yang betah mengenakan pakaian yang sama biasanya memiliki alasan sederhana: pakaian tersebut terasa nyaman.

Seseorang mungkin mengetahui bahwa satu kaus tertentu tidak membuat gerah, satu celana tidak membatasi gerak, atau satu model pakaian membuatnya merasa lebih percaya diri. Setelah menemukan kombinasi yang terasa tepat, tidak ada alasan kuat untuk terus mencari alternatif.

Pembahasan mengenai psikologi di balik pengulangan pakaian juga menunjukkan bahwa pakaian dapat memiliki hubungan dengan kenyamanan emosional. Ketika seseorang memiliki pengalaman positif saat mengenakan pakaian tertentu, pakaian tersebut dapat terasa semakin familiar dan menyenangkan untuk digunakan kembali.

Kenyamanan akhirnya bukan hanya persoalan bahan atau ukuran. Ada pula rasa aman yang muncul karena seseorang sudah mengetahui bagaimana dirinya akan terlihat dan merasa ketika mengenakannya.

3. Tidak terlalu membutuhkan variasi dalam penampilan

Ciri berikutnya adalah tidak menganggap variasi penampilan sebagai sesuatu yang harus selalu dipenuhi.

Bagi orang seperti ini, mengganti pakaian bukan bagian utama dari cara menunjukkan kepribadian. Identitas justru dapat dibangun melalui kebiasaan, pekerjaan, cara berkomunikasi, hobi, atau nilai yang mereka pegang.

Dalam salah satu artikel yang menjadi rujukan, Zayda Slabbekoorn menekankan bahwa pilihan pakaian tidak selalu mencerminkan kepribadian seseorang. Pekerjaan, gaya hidup, serta kebutuhan praktis juga ikut menentukan pakaian yang dikenakan.

Hal ini penting karena kebiasaan mengenakan jenis pakaian yang sama tidak otomatis berarti seseorang memiliki kepribadian monoton. Bisa saja ia memang memisahkan urusan pakaian dari aspek lain dalam kehidupannya.

4. Cenderung mengutamakan fungsi daripada tren

Orang yang betah menggunakan pakaian yang sama berulang kali juga mungkin lebih mempertimbangkan fungsi daripada tren.

Pertanyaan yang muncul dalam pikirannya bisa lebih sederhana, seperti apakah pakaian tersebut nyaman, sesuai dengan aktivitas, mudah dicuci, atau cocok digunakan dalam berbagai situasi. Tren fashion mungkin tetap diketahui, tetapi tidak selalu dianggap perlu untuk diikuti.

Rujukan yang membahas kebiasaan berpakaian berulang juga menggambarkan kecenderungan ini sebagai sikap praktis. Orang tersebut lebih memperhatikan rasa aman, nyaman, dan percaya diri daripada tuntutan untuk selalu tampil berbeda.

Pilihan seperti ini sebenarnya cukup masuk akal. Ketika sebuah pakaian sudah memenuhi kebutuhan, menggantinya hanya karena tren belum tentu dianggap sebagai sesuatu yang penting.

5. Memiliki pola berpikir yang sistematis

Memakai pakaian yang sama berulang kali dapat menjadi bagian dari sistem pribadi.

Misalnya, seseorang memiliki beberapa kaus dengan warna serupa, celana dengan model yang sama, dan sepatu yang mudah dipadukan. Dengan sistem tersebut, ia tidak perlu memikirkan kombinasi pakaian setiap pagi.

Dalam tulisan mengenai kebiasaan mengenakan pakaian serupa, sistem dan rutinitas disebut dapat membantu seseorang mengurangi energi yang digunakan untuk menghadapi ketidakpastian. Pola yang konsisten membuat proses memilih pakaian menjadi lebih mudah dan otomatis.

Kebiasaan seperti ini sebenarnya tidak hanya ditemukan dalam urusan berpakaian. Ada orang yang memiliki menu sarapan tetap, jadwal olahraga tertentu, atau rutinitas pagi yang hampir tidak berubah. Pakaian dapat menjadi bagian dari sistem yang sama.

6. Ingin menghemat energi untuk hal yang dianggap lebih penting

Memilih pakaian juga membutuhkan perhatian. Seseorang harus mempertimbangkan cuaca, aktivitas, warna, ukuran, kenyamanan, hingga situasi sosial.

Bagi orang tertentu, proses tersebut dianggap tidak terlalu penting sehingga energinya lebih baik digunakan untuk pekerjaan, keluarga, belajar, hobi, atau aktivitas lainnya.

Konsep kelelahan mengambil keputusan membantu menjelaskan kecenderungan ini. Ketika seseorang menghadapi banyak keputusan dalam satu hari, perhatian dan energi mental dapat terkuras. Menyederhanakan pilihan yang bersifat rutin menjadi salah satu cara untuk membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih ringan.

Karena itu, memiliki “seragam pribadi” tidak selalu menunjukkan kurangnya kreativitas. Bisa jadi seseorang justru sengaja menyimpan energinya untuk hal-hal yang menurutnya lebih berarti.

7. Merasa percaya diri ketika mengenakan pakaian tertentu

Pakaian yang sering diulang juga bisa berkaitan dengan rasa percaya diri.

Ketika seseorang sudah mengetahui bagaimana pakaian tertentu terlihat di tubuhnya, ia tidak perlu terlalu banyak memikirkan penampilan. Ia sudah mengenal potongannya, mengetahui apakah pakaian tersebut nyaman, dan memahami situasi yang cocok untuk mengenakannya.

Pengalaman positif sebelumnya dapat memperkuat pilihan tersebut. Seseorang mungkin pernah mengenakan pakaian tertentu ketika menghadiri acara penting dan merasa percaya diri. Pengalaman itu dapat membuat pakaian tersebut memiliki asosiasi emosional yang menyenangkan.

Dalam pembahasan tentang psikologi fashion, Carolyn Mair menjelaskan bahwa pakaian tidak hanya berkaitan dengan penampilan. Apa yang dikenakan seseorang juga dapat berhubungan dengan suasana hati, kepercayaan diri, serta cara seseorang mengekspresikan dirinya.

Tidak mengherankan jika pakaian yang sudah terbukti membuat seseorang merasa nyaman kemudian menjadi pilihan yang terus diulang.

8. Tidak terlalu terpengaruh oleh perbandingan sosial

Ada pula orang yang memang tidak terlalu memperhatikan apakah pakaiannya berbeda dari orang lain.

Mereka mungkin mengetahui tren yang sedang berlangsung, tetapi tidak merasa harus mengikutinya. Pilihan pakaian dibuat berdasarkan kebutuhan pribadi, bukan semata-mata untuk mendapatkan pengakuan.

Dalam rujukan yang membahas karakter orang dengan gaya berpakaian konsisten, kebiasaan tersebut dapat berkaitan dengan kecenderungan menjalani pilihan berdasarkan sistem nilai pribadi. Ketika seseorang sudah merasa cocok dengan gaya tertentu, tekanan untuk terus membandingkan penampilan dengan orang lain bisa menjadi lebih kecil.

Sikap ini bukan berarti seseorang sama sekali tidak peduli terhadap penampilan. Ia hanya memiliki prioritas berbeda dalam menentukan apa yang penting.

9. Menyukai kesederhanaan

Pakaian yang sederhana dapat membuat kehidupan terasa lebih mudah dikelola.

Semakin banyak pilihan, semakin besar pula kemungkinan seseorang membutuhkan waktu untuk menentukan apa yang akan dikenakan. Sebaliknya, lemari yang memiliki pola pakaian tertentu dapat membuat rutinitas menjadi lebih sederhana.

Salah satu sumber yang dirujuk dalam pembahasan ini mengaitkan gaya hidup sederhana dengan adanya lebih banyak ruang mental dan waktu untuk pengalaman lain yang dianggap penting. Dalam konteks pakaian, kesederhanaan dapat berarti memilih beberapa jenis pakaian yang benar-benar disukai dan menggunakannya secara konsisten.

Kesederhanaan ini juga tidak otomatis berarti seseorang memiliki sedikit pakaian. Bisa saja lemari mereka penuh, tetapi hanya beberapa pakaian yang benar-benar sering digunakan karena dianggap paling sesuai.

10. Memiliki keterikatan emosional dengan pakaian

Pakaian tertentu dapat menyimpan kenangan.

Sebuah kemeja mungkin pernah dikenakan ketika mendapat pekerjaan baru. Sebuah jaket mungkin berkaitan dengan perjalanan yang berkesan. Ada pula pakaian yang mengingatkan seseorang pada fase kehidupan tertentu.

Dalam kondisi seperti itu, keinginan memakai pakaian yang sama dapat muncul dari hubungan emosional dengan benda tersebut. Pakaian bukan lagi sekadar benda fungsional, tetapi menjadi bagian dari memori pribadi.

Pengulangan pakaian kemudian dapat terasa menyenangkan karena membawa kembali asosiasi atau perasaan tertentu. Mekanisme semacam ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan seseorang yang menyimpan benda lama karena memiliki nilai sentimental.

11. Bisa menjadi cara mengurangi ketidakpastian

Kehidupan sehari-hari penuh dengan hal yang tidak dapat dikendalikan. Pekerjaan dapat berubah, jadwal bisa berantakan, dan berbagai situasi sosial tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Pakaian menjadi salah satu aspek kecil yang dapat dibuat lebih mudah diprediksi.

Seseorang mungkin merasa tenang karena sudah mengetahui apa yang akan dikenakan. Rutinitas tersebut menciptakan semacam kepastian kecil di tengah aktivitas yang berubah-ubah.

Pembahasan mengenai kebiasaan memilih pakaian yang sama juga menempatkan pengulangan tersebut sebagai salah satu bentuk penyederhanaan. Ketika seseorang sudah mengetahui pakaian apa yang cocok dan nyaman, ia tidak perlu menghadapi ketidakpastian yang muncul ketika mencoba sesuatu yang baru.

12. Tidak selalu berarti ada masalah psikologis

Bagian ini penting karena kebiasaan memakai baju yang sama tidak bisa digunakan untuk mendiagnosis kondisi psikologis seseorang.

Seseorang dapat memakai pakaian yang sama berulang kali karena nyaman, praktis, hemat waktu, memiliki gaya pribadi, atau memang tidak tertarik mengikuti tren. Semua alasan tersebut dapat terjadi tanpa adanya masalah kesehatan mental.

Kewaspadaan baru diperlukan apabila perubahan dalam cara berpakaian muncul bersamaan dengan perubahan perilaku lain yang mengganggu kehidupan sehari-hari.

National Institute of Mental Health (NIMH), misalnya, menjelaskan bahwa depresi dapat melibatkan sejumlah gejala seperti kehilangan minat atau kesenangan, kelelahan, kesulitan berkonsentrasi atau mengambil keputusan, menarik diri, serta kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari. Satu kebiasaan berpakaian saja tentu tidak cukup untuk menyimpulkan seseorang mengalami depresi.

Karena itu, memakai pakaian yang sama tidak seharusnya langsung dianggap sebagai tanda gangguan psikologis. Konteks, perubahan perilaku secara keseluruhan, dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari jauh lebih penting untuk diperhatikan.

Jadi, apa sebenarnya arti memakai baju yang sama berulang kali?

Jika dirangkum, ciri orang yang betah memakai baju yang sama berulang kali menurut psikologi dapat berkaitan dengan kecenderungan menyukai kenyamanan, efisiensi, rutinitas, kesederhanaan, konsistensi, serta kemampuan menentukan prioritas.

Kebiasaan tersebut juga dapat menunjukkan bahwa seseorang sudah mengetahui apa yang cocok untuk dirinya. Ia tidak selalu membutuhkan pakaian baru untuk merasa percaya diri atau menunjukkan identitas.

Hal yang paling penting adalah tidak terburu-buru memberikan penilaian. Pakaian merupakan bagian dari kehidupan sosial sekaligus pengalaman personal. Faktor pekerjaan, budaya, gaya hidup, kebutuhan, kenyamanan tubuh, dan preferensi pribadi dapat berperan dalam menentukan pilihan seseorang.

Selama pakaian dijaga kebersihannya, layak digunakan, sesuai dengan situasi, dan tidak mengganggu kehidupan sehari-hari, mengulang pakaian favorit bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

Dalam situasi tertentu, keputusan sederhana untuk mengenakan pakaian yang sudah dikenal justru dapat menjadi cara seseorang menghemat waktu dan energi mental. Jadi, ketika melihat seseorang mengenakan kaus atau gaya berpakaian yang sama berkali-kali, belum tentu ia tidak punya pilihan. Bisa jadi, ia sudah menemukan pilihan yang paling cocok untuk dirinya.

Pertanyaan Seputar Memakai Baju yang Sama Berulang Kali

1. Apakah memakai baju yang sama berulang kali berarti orang tersebut malas?

Tidak selalu. Kebiasaan tersebut dapat muncul karena alasan praktis, kenyamanan, rutinitas, atau keinginan mengurangi keputusan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang bisa saja sangat produktif dan tetap memilih pakaian yang sama berulang kali.

2. Apakah memakai pakaian yang sama menunjukkan kepribadian tertentu?

Tidak ada satu kepribadian yang bisa dipastikan hanya dari kebiasaan berpakaian. Pilihan pakaian dipengaruhi banyak faktor, termasuk pekerjaan, gaya hidup, budaya, kebutuhan praktis, kenyamanan, dan preferensi pribadi.

3. Mengapa seseorang merasa nyaman memakai pakaian yang sama?

Pakaian yang sudah dikenal memberikan kepastian mengenai ukuran, bahan, tampilan, dan kenyamanan. Jika pakaian tersebut juga berkaitan dengan pengalaman positif, rasa familiar tersebut dapat semakin kuat.

4. Apakah memakai baju yang sama bisa berkaitan dengan kesehatan mental?

Kebiasaan tersebut saja tidak cukup untuk menunjukkan adanya gangguan mental. Perhatian lebih perlu diberikan apabila perubahan dalam berpakaian muncul bersamaan dengan gejala lain seperti kehilangan minat, kelelahan berkepanjangan, menarik diri, atau kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari.

5. Apakah memakai pakaian yang sama berulang kali merupakan hal yang buruk?

Tidak. Selama pakaian dijaga kebersihannya dan sesuai dengan aktivitas atau situasi, mengulang pakaian merupakan pilihan pribadi. Tidak semua orang membutuhkan variasi pakaian yang tinggi untuk merasa nyaman atau percaya diri.