10 Ciri Teman yang Terlihat Suportif tapi Sebenarnya Kompetitif, Lengkap Cara Menghadapinya

Kenali ciri teman yang terlihat suportif tetapi sebenarnya kompetitif, diam-diam suka membandingkan hingga mengecilkan pencapaian. Simak cara menghadapinya.

Diterbitkan 31 Agustus 2026, 16:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Punya teman yang selalu bilang ikut senang ketika kita mendapatkan kabar baik memang terasa menyenangkan. Namun, pernahkah Anda merasa ada sesuatu yang berbeda di balik ucapan tersebut?

Misalnya, ketika bercerita mendapat promosi, teman justru buru-buru menceritakan pencapaiannya yang dianggap lebih besar. Saat berhasil mencapai sesuatu, ia memberikan selamat, tetapi disertai komentar yang membuat pencapaian tersebut terasa biasa saja.

Situasi seperti ini bisa menjadi tanda bahwa hubungan pertemanan mulai diwarnai persaingan. Menurut Psychology Today, kompetisi di antara teman sebenarnya tidak selalu buruk. Dalam kadar tertentu, persaingan dapat menjadi motivasi untuk berkembang. Masalah muncul ketika keinginan untuk menjadi lebih unggul mulai mengalahkan rasa saling mendukung.

Lantas, seperti apa ciri teman yang terlihat suportif tetapi sebenarnya kompetitif? Berikut ulasan Liputan6.com selengkapnya merangkum dari berbagai sumber.

1. Selalu Membandingkan Pencapaian

Salah satu tanda yang cukup mudah terlihat adalah kebiasaan membandingkan pencapaian. Ketika Anda bercerita mendapatkan pekerjaan baru, misalnya, ia langsung mengatakan bahwa dirinya pernah mendapatkan pekerjaan dengan gaji lebih tinggi. Saat Anda berhasil menyelesaikan sesuatu, ia menceritakan pencapaiannya yang dianggap lebih sulit.

Menurut SELF, perbedaan penting terletak pada tujuan di balik cerita tersebut. Teman yang sekadar ingin terhubung biasanya tetap mengakui pencapaian atau perasaan Anda sebelum menceritakan pengalamannya. Sebaliknya, teman yang kompetitif cenderung langsung mengubah percakapan menjadi ajang menunjukkan siapa yang lebih unggul.

Jika hal ini terjadi berulang kali, pertemanan bisa terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai.

2. Memberi Selamat, tetapi Selalu Disertai Sindiran

Teman kompetitif tidak selalu menunjukkan rasa iri secara terang-terangan. Kadang-kadang, justru muncul melalui pujian yang terdengar manis tetapi meninggalkan rasa tidak nyaman.

Contohnya:

“Wah, akhirnya kamu dapat juga.”

“Atasanmu baik banget ya, sampai kamu bisa naik jabatan.”

“Bagus sih bajunya. Aku pribadi nggak akan berani pakai.”

Komentar semacam ini sering disebut backhanded compliment, yaitu pujian yang sekaligus mengandung sindiran atau penilaian negatif.

SELF menyebut pujian pasif-agresif seperti ini sebagai salah satu tanda yang patut diperhatikan dalam pertemanan yang terlalu kompetitif.

Bukan berarti setiap candaan otomatis merupakan tanda persaingan. Yang perlu diperhatikan adalah polanya. Apakah Anda hampir selalu merasa direndahkan setelah menerima “pujian” darinya?

3. Sulit Benar-Benar Ikut Bahagia atas Keberhasilan Anda

Teman yang suportif biasanya memberikan ruang bagi Anda untuk menikmati keberhasilan. Sebaliknya, teman yang kompetitif mungkin terlihat ikut senang, tetapi responsnya terasa hambar. Anda mendapatkan kabar baik, tetapi ia hanya menjawab singkat lalu segera mengalihkan pembicaraan.

Mengutip dari Bolde, kurangnya kegembiraan yang tulus terhadap keberhasilan teman sebagai salah satu tanda yang perlu diperhatikan. Lama-kelamaan, Anda bahkan bisa merasa tidak nyaman menceritakan keberhasilan karena sudah bisa menebak respons yang akan diterima.

4. Selalu Berusaha “Mengalahkan” Cerita Anda

Anda mengatakan baru saja menyelesaikan lomba lari 5 kilometer.

“5 kilometer? Aku dulu pernah 10 kilometer.”

Anda bercerita baru saja liburan ke tempat impian.

“Aku pernah ke sana. Tapi sebenarnya ada tempat yang jauh lebih bagus.”

Pola one-upmanship seperti ini menjadi salah satu tanda yang disebut SELF ketika membahas teman yang diam-diam kompetitif.

Sekali-dua kali, perilaku tersebut mungkin hanya kebetulan. Namun, jika hampir setiap percakapan berubah menjadi pembuktian bahwa ia pernah melakukan sesuatu yang lebih besar, lebih sulit, atau lebih baik, hubungan tersebut mungkin sudah mulai terasa seperti kompetisi.

5. Tiba-Tiba Mengikuti Hal yang Anda Lakukan, Lalu Berusaha Lebih Unggul

Teman memang bisa saling terinspirasi. Anda mulai olahraga, lalu teman ikut olahraga juga. Anda belajar memasak, ia pun tertarik mencoba. Hal tersebut sebenarnya wajar.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika mengikuti pilihan Anda selalu dibarengi keinginan untuk melampaui Anda.

Misalnya, Anda mulai berlari untuk kesehatan, kemudian ia ikut berlari dan terus membandingkan jarak, kecepatan, atau hasil latihan. Anda mengikuti kursus tertentu, lalu ia mengambil kursus serupa sambil berusaha menunjukkan bahwa hasilnya lebih baik.

SELF membedakan pengaruh positif antarteman dengan perilaku kompetitif yang menjadikan teman sebagai semacam “alat ukur” untuk menentukan siapa yang berada di depan.

6. Prestasi Anda Justru Dicari Kekurangannya

Anda baru mendapatkan promosi. Alih-alih bertanya bagaimana rasanya mendapat tanggung jawab baru, ia berkata, “Tapi bukannya jam kerjanya jadi lebih panjang?”

Anda membeli rumah.

“Bagus sih, tapi lokasinya jauh.”

Anda berhasil menurunkan berat badan setelah menjalani pola hidup lebih sehat.

“Paling nanti naik lagi.”

Membantu teman melihat sisi realistis dari suatu keputusan sebenarnya tidak salah. Namun, jika setiap kabar baik selalu dicari sisi negatifnya, Anda patut memperhatikan polanya.

SELF juga mencatat bahwa kebiasaan mengecilkan keberhasilan teman dapat muncul ketika pencapaian tersebut membuat seseorang merasa tidak nyaman atau terancam.

7. Kurang Membantu ketika Anda Membutuhkan Dukungan

Teman yang kompetitif bisa terlihat sangat suportif ketika situasi tidak mengancam posisinya. Namun, ketika Anda mulai mendapatkan kesempatan besar, dukungannya tiba-tiba berkurang.

Misalnya, ketika Anda meminta saran tentang pekerjaan baru, ia justru membuat Anda ragu tanpa alasan yang jelas. Ketika mendapatkan kesempatan mengikuti proyek penting, ia tidak memberikan informasi yang sebenarnya bisa membantu.

Mengutip dari STEKOM, perilaku menahan informasi karena takut kehilangan keunggulan sebagai salah satu tanda hubungan mulai bergerak ke arah kompetitif. Hal seperti ini bisa membuat Anda bertanya-tanya apakah teman tersebut benar-benar ingin melihat Anda berkembang.

8. Terlihat Peduli, tetapi Senang ketika Anda Gagal

Ini merupakan tanda yang lebih serius. Ketika Anda gagal mendapatkan pekerjaan, misalnya, ia terlihat terlalu bersemangat. Ketika hubungan Anda berakhir, ia justru tampak lega. Atau ketika proyek Anda bermasalah, ia menggunakan kesempatan tersebut untuk menunjukkan bahwa keputusannya selama ini lebih benar.

Menurut Bolde, kegembiraan terhadap kegagalan teman dapat menjadi salah satu tanda hubungan yang lebih kompetitif daripada suportif.

Teman yang baik tentu boleh membantu Anda mengevaluasi kesalahan. Namun, membantu memperbaiki keadaan berbeda dengan menikmati kegagalan Anda.

9. Mulai Membuat Anda Meragukan Diri Sendiri

Persaingan yang terus-menerus dapat membuat seseorang tanpa sadar mengukur dirinya berdasarkan pencapaian temannya.

“Kenapa dia sudah sukses, sementara aku belum?”

“Kenapa hidupnya kelihatan lebih baik?”

“Jangan-jangan aku memang tidak sehebat dia?”

Truity mencatat bahwa pertemanan yang terlalu kompetitif dapat memicu perasaan cemas, tidak kompeten, atau merasa tidak cukup dibandingkan dengan kehidupan teman.

STEKOM juga menyebut comparison anxiety, sikap terlalu keras terhadap diri sendiri, dan menurunnya kepercayaan dalam hubungan sebagai salah satu dampak ketika persaingan antarteman tidak dikelola dengan baik.

10. Hubungan Terasa Seperti Perlombaan, Bukan Tempat Pulang

Pada akhirnya, tanda paling mudah dikenali mungkin justru perasaan Anda sendiri. Setelah bertemu dengannya, apakah Anda merasa bersemangat atau justru lelah?

Apakah Anda bisa bercerita dengan bebas, atau selalu berhati-hati karena takut dibandingkan?

Apakah keberhasilan Anda terasa seperti sesuatu yang harus disembunyikan agar hubungan tetap baik?

Dalam pertemanan yang sehat, keberhasilan satu orang tidak harus berarti kekalahan bagi orang lain. Penelitian mengenai kompetisi dalam pertemanan yang dirangkum dalam The Psychology of Friendship menunjukkan bahwa kompetitivitas sebagai gaya interaksi yang menetap dapat memiliki konsekuensi sosial, termasuk kesulitan mempertahankan pertemanan dekat dan berkualitas.

Cara Menghadapi Teman yang Terlihat Suportif tetapi Sebenarnya Kompetitif

1. Jangan Ikut Masuk ke Dalam Perlombaan

Jika ia selalu membandingkan pencapaian, Anda tidak harus membalas dengan pencapaian lain. Ketika ia mengatakan, “Aku dulu dapat promosi lebih cepat,” Anda cukup menjawab, “Wah, bagus. Aku sendiri senang dengan proses yang sedang aku jalani.”

Dengan begitu, Anda tidak memberikan bahan untuk memperpanjang kompetisi. Truity menyarankan untuk menetapkan batasan dan tidak ikut memainkan “permainan” kompetitif. Jika percakapan mulai mengarah ke adu pencapaian, topik dapat dialihkan ke hal lain.

2. Perhatikan Polanya, Bukan Satu Kejadian

Jangan buru-buru menyimpulkan seseorang iri hanya karena sekali memberikan komentar yang kurang menyenangkan.

Coba perhatikan dalam beberapa situasi:

  • Apakah ia sering mengecilkan pencapaian Anda?
  • Apakah hampir semua obrolan berubah menjadi perbandingan?
  • Apakah ia hanya mendukung ketika Anda tidak berada di posisi yang lebih unggul?
  • Apakah Anda merasa harus mengecilkan diri ketika bersamanya?

SELF menyarankan melihat apakah tanda-tanda tersebut hanya kejadian sesekali atau sudah menjadi pola yang konsisten.

3. Sampaikan Perasaan tanpa Langsung Menuduh

Jika hubungan tersebut masih penting bagi Anda, bicarakan masalahnya. Hindari kalimat seperti, “Kamu sebenarnya iri sama aku, kan?”

Lebih baik gunakan kalimat yang berfokus pada pengalaman Anda.

Misalnya:

“Aku kadang merasa setiap kali cerita soal sesuatu yang membuatku senang, obrolannya berubah jadi perbandingan. Aku jadi kurang nyaman. Menurutmu, memang terasa seperti itu juga?”

Pendekatan semacam ini sejalan dengan saran para terapis yang dikutip SELF, yakni menggunakan pernyataan “saya” atau I statement daripada langsung memberikan label kepada teman.

4. Tetapkan Batasan pada Topik yang Sensitif

Tidak semua hal harus dibagikan kepada semua teman. Jika Anda mengetahui topik tertentu selalu memicu kompetisi, Anda bisa mengurangi pembahasan mengenai hal tersebut.

Menjaga batasan bukan berarti bermusuhan. Ini merupakan cara menjaga kenyamanan dalam hubungan.

5. Jangan Merendahkan Diri agar Teman Tidak Merasa Tersaingi

Kadang-kadang, orang memilih menyembunyikan keberhasilan agar temannya tidak merasa buruk. Padahal, Anda tidak perlu mengecilkan pencapaian sendiri hanya untuk membuat orang lain nyaman.

Anda boleh senang karena mendapatkan pekerjaan baru. Anda boleh bangga karena berhasil mencapai target. Anda juga boleh menikmati keberhasilan tanpa merasa bersalah. Persahabatan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi kedua orang untuk berkembang.

6. Lihat Responsnya setelah Anda Berbicara

Ini bagian yang sangat penting. Seseorang mungkin tidak menyadari bahwa perilakunya terasa kompetitif. Jika setelah diajak bicara ia mendengarkan, mencoba memahami, dan mengubah perilakunya, hubungan tersebut masih memiliki ruang untuk diperbaiki.

Sebaliknya, jika ia justru terus mengejek, membalikkan kesalahan kepada Anda, menolak mengakui perilakunya, atau sengaja mengulanginya, Anda mungkin perlu mempertimbangkan kembali batas hubungan tersebut.

7. Perluas Lingkaran Pertemanan

Jangan menjadikan satu orang sebagai satu-satunya sumber dukungan sosial. Truity menyarankan membangun pertemanan dengan orang-orang yang tidak menjadikan hubungan sebagai ajang persaingan. Lingkaran sosial yang sehat dapat membantu seseorang tetap memiliki ruang untuk berkembang tanpa terus-menerus membandingkan diri.

Memiliki teman lain juga membuat Anda tidak terlalu bergantung pada satu hubungan yang mungkin sudah terasa melelahkan.

8. Pertimbangkan Menjauh Jika Polanya Sudah Merugikan

Tidak semua pertemanan harus dipertahankan dengan cara apa pun. Jika Anda sudah berusaha berkomunikasi, menetapkan batasan, dan memberikan kesempatan untuk berubah tetapi perilaku kompetitif terus berulang hingga mengganggu kepercayaan diri atau kenyamanan, mengambil jarak bisa menjadi pilihan.

Tujuannya bukan untuk “menang” dari teman tersebut. Justru sebaliknya, Anda berhenti menjadikan hubungan tersebut sebagai perlombaan. Seperti dirangkum Truity, ada kalanya hubungan yang terlalu kompetitif lebih baik dibiarkan berjarak ketika dinamika tersebut terus merusak kesejahteraan dan harga diri.

Pada dasarnya, memiliki teman yang ambisius bukanlah masalah. Bahkan, persaingan ringan dapat membuat dua orang saling memotivasi. Yang perlu diwaspadai adalah ketika keberhasilan salah satu pihak selalu terasa seperti ancaman bagi pihak lain.

Pertemanan yang sehat tidak mengharuskan seseorang menjadi yang paling sukses, paling kaya, paling menarik, atau paling unggul. Keduanya tetap bisa bertumbuh tanpa harus menjatuhkan satu sama lain.

Pertanyaan Seputar Ciri Teman yang Kompetitif

1. Apakah teman yang kompetitif selalu berarti iri?

Belum tentu. Sikap kompetitif bisa muncul karena rasa tidak aman, kebiasaan membandingkan diri, kebutuhan akan pengakuan, atau lingkungan yang mendorong persaingan. Karena itu, sebaiknya perhatikan pola perilakunya, bukan langsung menyimpulkan bahwa ia iri.

2. Bagaimana membedakan teman yang kompetitif dengan teman yang ingin memotivasi?

Teman yang memotivasi biasanya ikut senang atas pencapaian Anda dan memberikan dorongan tanpa harus menjadikan dirinya sebagai pembanding. Sementara itu, teman yang terlalu kompetitif cenderung mengubah pencapaian Anda menjadi ajang adu keunggulan atau membuat Anda merasa pencapaian tersebut tidak cukup.

3. Apakah harus memutus pertemanan dengan teman yang kompetitif?

Tidak selalu. Jika hubungan masih sehat, Anda bisa mencoba membicarakan perasaan, menetapkan batasan, dan menghindari percakapan yang selalu berubah menjadi kompetisi. Namun, jika perilaku tersebut terus berulang dan membuat Anda kehilangan kepercayaan diri atau merasa tertekan, menjaga jarak dapat menjadi pilihan.