Harga Gas Eropa Melonjak ke Level Tertinggi Sejak 2023

Harga gas Eropa melonjak ke level tertinggi sejak 2023 di tengah minimnya pasokan dan ancaman krisis.

Diterbitkan 31 Agustus 2026, 16:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga gas alam Eropa melambung ke level tertinggi sejak Januari 2023 pada Senin (31/8/2026). Kenaikan harga seiring memanasnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran atas berlanjutnya gangguan ekspor gas alam cair (LNG) dari Teluk Persia.

Mengutip Anadolu, Senin (31/8/2026), kontrak gas Dutch TTF untuk bulan depan diperdagangkan pada level 69,90 euro per megawatt-jam (MWh) pada pukul 11.34 waktu setempat (08.34 GMT), melonjak 4,4% dari penutupan hari Jumat sebesar 66,97 euro.

Berdasarkan data Gas Infrastructure Europe (GIE), fasilitas penyimpanan gas di Uni Eropa saat ini baru terisi 64,7%. Angka ini menempatkan cadangan gas Eropa di bawah tingkat historis untuk periode tahun ini, sehingga memicu kecemasan terhadap upaya pengisian ulang pasokan menjelang musim dingin.

Meskipun prakiraan cuaca yang lebih hangat pada awal September diperkirakan dapat menekan permintaan jangka pendek, rendahnya volume penyimpanan serta ketidakpastian pasokan LNG dari Teluk terus mendorong kenaikan harga.

Ketegangan geopolitik kian memperberat kekhawatiran pasokan setelah militer AS menggempur dua target di Pulau Lark pada malam hari. Media Iran melaporkan adanya peluncuran rudal ke sejumlah sasaran di kawasan tersebut sebagai respons atas serangan itu.

Persaingan dengan Asia Berpotensi Memanas

Gangguan yang dipicu oleh konflik tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap ekspor LNG dari negara-negara produsen utama di Teluk, khususnya Qatar, yang pada akhirnya memperketat pasar LNG global.

Disrupsi berkepanjangan pada ekspor LNG dari kawasan Teluk dapat memaksa para pembeli di Eropa untuk bersaing lebih ketat dengan pembeli dari Asia demi mengamankan kargo yang tersedia. Kondisi ini berpotensi memberikan tekanan naik yang lebih besar terhadap harga gas di Eropa.

Para analis menilai gabungan dari risiko geopolitik, rendahnya cadangan pasokan di Eropa, serta semakin ketatnya pasokan LNG global dapat membuat kondisi pasar tetap bergejolak dalam beberapa waktu ke depan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6