Bahlil Targetkan Harga Gas Blok Masela US$ 6

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebut harga gas Blok Masela masih dinegosiasikan. Khusus industri pupuk, pemerintah patok harga kompetitif demi hilirisasi.

Diterbitkan 16 Juli 2026, 19:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan bahwa pemerintah masih menegosiasikan harga gas hasil produksi Lapangan Abadi Blok Masela. Meski demikian, pemerintah menargetkan harga gas untuk industri pupuk berada di kisaran US$ 6–7 per MMBtu agar tetap kompetitif dan mampu mendukung program hilirisasi.

Bahlil menjelaskan, skema harga gas tersebut masih dibahas karena sangat dipengaruhi oleh sistem penyaluran, baik melalui jaringan pipa maupun fasilitas liquefied natural gas (LNG). Menurutnya, rencana pembangunan pipa bawah laut sepanjang sekitar 180 kilometer menjadi salah satu faktor penentu dalam perhitungan struktur harga.

“Harga gasnya lagi negosiasi, tergantung. Kalau kita pakai pipa, pipanya itu kan 180 kilometer,” kata Bahlil saat meninjau langsung site Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7/2026).

Ia menambahkan, pemerintah juga menyiapkan skema distribusi melalui fasilitas LNG yang akan dipadukan dengan pasokan gas dari pipa guna menjaga efisiensi penyaluran ke industri.

“Dengan LNG nanti, storage-nya ada sebagian yang kita tarik dari laut sehingga bisa kita blending,” ujarnya.

 

Untuk Dalam Negeri

Meskipun negosiasi harga secara keseluruhan masih berjalan, Bahlil memastikan pemerintah telah mengunci kisaran harga gas khusus untuk industri pupuk di angka US$ 6–7 per MMBtu. Angka ini dinilai cukup ideal untuk mendukung daya saing industri pupuk nasional.

“Yang jelas, untuk pupuk itu kemarin kita sudah dapat kurang lebih sekitar US$ 6–7 per MMBtu. Cukup, benar-benar cukup,” tegas Bahlil.

Sementara itu, untuk penjualan LNG, Bahlil menyebut formulasinya akan mengikuti pergerakan harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP).

Kendati demikian, ia menekankan agar mayoritas bahan baku gas tetap diproses di dalam negeri demi menciptakan nilai tambah dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

“LNG memang akan memakai formulasi ICP, tetapi yang saya inginkan adalah proses bahan bakunya dilakukan dari sini. Sehingga, multiplier effect dan nilai tambahnya benar-benar terjadi di Indonesia,” pungkas Bahlil.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6