Bahlil Siapkan Pabrik Pupuk dan Blue Ammonia di Blok Masela

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pastikan proyek Blok Masela didorong ke hilirisasi guna menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia Timur.

Diterbitkan 16 Juli 2026, 18:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan pengembangan Lapangan Abadi Blok Masela tidak hanya berfokus pada produksi gas mentah, melainkan juga mendorong hilirisasi melalui pembangunan industri pupuk dan blue ammonia (amonia biru) di kawasan proyek.

Bahlil mengatakan, pemerintah akan membangun kawasan industri hilirisasi terintegrasi di sekitar proyek Blok Masela. Selain pabrik pupuk, pemerintah juga menyiapkan pembangunan fasilitas produksi blue ammonia sebagai upaya nyata meningkatkan nilai tambah sumber daya alam nasional.

“Kita akan membangun hilirisasi di sini. Salah satu contohnya adalah pabrik pupuk. Selain pupuk, kita juga akan membangun blue ammonia,” ujar Bahlil saat meninjau langsung site Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7/2026).

Bahlil mengungkapkan bahwa kapasitas produksi gas Blok Masela direncanakan mencapai 1.200 million standard cubic feet per day (MMSCFD). Dari total volume tersebut, minimal 60% akan dialokasikan khusus untuk memenuhi kebutuhan domestik, sedangkan maksimal 40% sisanya dapat diekspor sesuai dengan perkembangan negosiasi ke depan.

“Hasil gas yang kita produksi itu dalam perencanaannya sebesar 1.200 MMSCFD. Dari jumlah itu, minimal 60% akan di-cover untuk kebutuhan domestik. Sementara maksimal 40% bisa diekspor sambil kita lihat perkembangan negosiasi berikutnya,” kata Bahlil.

 

Pusat Pertumbuhan Ekonomi

Menurutnya, pasokan gas domestik tersebut akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional, termasuk memasok pembangkit listrik PT PLN (Persero) dan memenuhi kebutuhan bahan baku PT Perusahaan Gas Negara (PGN) demi mendukung ekspansi industri di dalam negeri.

Ia menjelaskan, pembangunan industri turunan di sekitar wilayah proyek diharapkan mampu menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan timur Indonesia. Investasi di sektor hilirisasi ini diyakini akan memberikan efek berganda (multiplier effect) yang masif melalui keterlibatan pemasok lokal, kontraktor, hingga berbagai industri pendukung.

“Kalau industri dibangun di sini, maka akan menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru dan multiplier effect. Bukan hanya nilai investasinya yang besar, tetapi juga dampaknya terhadap supplier, kontraktor, dan berbagai industri turunannya. Pada akhirnya, investasi ini akan meningkatkan nilai tambah, pendapatan daerah, serta menciptakan lapangan pekerjaan yang luas bagi masyarakat,” pungkas Bahlil.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6