10 Ciri Orang yang Jarang Mengangkat Telepon Menurut Psikologi, Bukan Berarti Cuek

Ciri orang yang jarang mengangkat telepon menurut psikologi ternyata berkaitan dengan kecemasan, introver, dan kebiasaan digital. Cek penjelasan lengkapnya.

Diterbitkan 30 Agustus 2026, 16:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ponsel berdering, layar menyala, nama penelepon muncul, tapi ada orang yang justru membiarkannya sampai getarannya berhenti sendiri. Bukan berarti sombong atau tidak peduli, sebab menurut psikologi, kebiasaan menghindari panggilan telepon punya alasan lebih dalam daripada sekadar malas mengangkat. Perilaku ini membahas secara khusus berjudul ciri orang yang jarang mengangkat telepon menurut psikologi, sebuah pola yang kini banyak dikaji di dunia akademik maupun kesehatan mental global.

Melansir dari Psychology Today, kecemasan terhadap telepon atau telephone anxiety dapat memicu perilaku menghindar seperti menolak panggilan, menunda membalas, atau lebih memilih berkomunikasi lewat pesan teks. Fenomena ini semakin relevan seiring meningkatnya kebiasaan berkomunikasi lewat pesan instan di kalangan masyarakat Indonesia masa kini. Berikut ulasan Liputan6.com tentang ciri orang yang jarang mengangkat telepon menurut psikologi dari berbagai sumber Minggu (30/8/2026).

1. Merasa Cemas Berlebihan

Bunyi dering yang tiba-tiba kerap memicu reaksi tubuh yang tidak nyaman, mulai dari jantung berdebar, tangan berkeringat, hingga pikiran langsung dipenuhi bayangan buruk tentang siapa yang menelepon dan apa yang akan dibicarakan. Kondisi ini dikenal dengan istilah telephobia, yaitu rasa takut atau enggan menerima maupun melakukan panggilan telepon yang termasuk dalam spektrum kecemasan sosial. Gejalanya bisa berupa napas memburu, jantung berdegup lebih cepat dari biasanya, sampai rasa mual ringan yang muncul begitu saja setiap kali nada dering terdengar.

Sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Family Medicine and Primary Care oleh Bairwa, Udayaraj, dan Manna (2024) pada 320 mahasiswa kedokteran menemukan bahwa 42 persen responden menunjukkan gejala telephobia, dengan sekitar 9 persen mengalami tingkat sedang hingga berat. Artinya, rasa cemas saat telepon berdering bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan pola yang cukup umum terjadi, bahkan pada kalangan terdidik dan mereka yang sehari-hari terbiasa berhadapan dengan orang banyak sekalipun.

2. Lebih Suka Menentukan Kapan dan Cara Merespons

Orang dengan ciri ini biasanya tidak benar-benar menolak berkomunikasi, mereka hanya ingin menentukan sendiri waktu dan caranya. Panggilan tak terduga dianggap sebagai "tuntutan tampil" secara instan tanpa persiapan, sehingga banyak yang memilih membiarkan panggilan masuk ke pesan suara lalu menelepon balik setelah siap secara mental.

Kebiasaan ini ternyata jauh lebih umum daripada yang dibayangkan. Survei Pew Research Center terhadap lebih dari 10.000 orang dewasa di Amerika Serikat menemukan bahwa delapan dari sepuluh responden tidak biasa mengangkat panggilan dari nomor tak dikenal, dan hanya sekitar 19 persen yang mengaku rutin menjawabnya. Dengan kata lain, menyaring panggilan justru menjadi kebiasaan mayoritas, bukan pengecualian, sehingga tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang aneh atau menyimpang.

3. Termasuk Pribadi Introvert

Bagi kalangan introver, interaksi sosial, termasuk percakapan telepon dadakan—dapat menguras energi psikis lebih cepat dibanding bagi orang yang lebih ekstrover. Telepon yang datang tanpa pemberitahuan sering dianggap mengganggu waktu pemulihan energi yang mereka butuhkan untuk tetap merasa stabil sepanjang hari.

Beberapa pola yang biasa terlihat pada kelompok ini antara lain:

  • Lebih memilih membalas pesan singkat dibanding terlibat percakapan panjang secara langsung.
  • Butuh waktu sendiri setelah bertemu banyak orang sebelum siap menerima interaksi baru.
  • Merasa lega ketika panggilan berakhir cepat atau tidak jadi diangkat sama sekali.

4. Tidak Menyukai Situasi Serba Mendadak

Sebagian orang merasa tertekan saat harus merespons sesuatu tanpa tahu topik pembicaraan lebih dulu. Ketidakpastian semacam ini, menurut pakar psikologi Bryan E. Robinson sebagaimana dikutip YourTango, dapat memicu kecemasan terutama bagi mereka yang terbiasa dengan rutinitas dan menyukai kendali atas situasi yang dihadapi.

Karena itu, panggilan telepon yang muncul tiba-tiba terasa seperti ujian dadakan: tidak ada waktu menyusun kata, tidak ada kesempatan berpikir ulang sebelum menjawab. Berbeda dengan pesan teks yang memberi ruang untuk mengedit kalimat sebelum dikirim, telepon menuntut respons instan yang sulit dikendalikan sepenuhnya, dan itulah yang membuat sebagian orang lebih memilih menghindarinya sampai mereka benar-benar siap.

5. Lebih Nyaman Berkomunikasi Lewat Chat daripada Telepon

Fenomena ini erat kaitannya dengan salah satu teori komunikasi yang paling banyak dirujuk, yaitu hyperpersonal model yang dikembangkan oleh ahli komunikasi Joseph Walther. Teori ini menjelaskan mengapa banyak orang justru merasa lebih leluasa dan lebih "menjadi diri sendiri" saat berkomunikasi lewat tulisan dibanding bertatap muka atau bersuara langsung.

Melalui pesan teks, seseorang punya waktu untuk menyusun kalimat, memilih kata yang tepat, bahkan menghapus dan menulis ulang sebelum akhirnya terkirim—sesuatu yang mustahil dilakukan saat telepon berlangsung. Kondisi inilah yang membuat generasi yang tumbuh bersama gawai pintar cenderung menjadikan chat sebagai pilihan komunikasi utama, dan menyimpan telepon hanya untuk situasi yang benar-benar mendesak.

6. Sedang Berada dalam Deep Work

Tidak semua orang yang mengabaikan panggilan sedang cemas, sebagian justru tengah berada dalam kondisi konsentrasi tinggi yang sulit dipecah begitu saja. Kondisi yang dikenal dengan istilah flow ini membuat interupsi sekecil apa pun, termasuk dering telepon, terasa sangat mengganggu alur pikiran yang sedang dibangun.

Bagi kelompok ini, menjawab telepon berarti kehilangan momentum kerja yang sudah susah payah dibangun, dan butuh waktu tambahan untuk kembali fokus seperti semula. Karena itu, membiarkan panggilan tidak terjawab saat sedang bekerja bukan bentuk pengabaian, melainkan cara menjaga produktivitas agar tidak terus-menerus terpecah oleh gangguan dari luar, terutama bagi mereka yang pekerjaannya menuntut konsentrasi tinggi dalam waktu lama.

7. Sensitif terhadap Suara

Sebagian orang memang memiliki respons sensorik yang lebih kuat terhadap suara mendadak, termasuk bunyi dering ponsel. Dr. Pawel Jastreboff, ahli yang mempopulerkan istilah misofonia, menjelaskan bahwa suara tertentu dapat membuat lingkungan sehari-hari terasa mengancam bagi orang dengan kepekaan sensorik tinggi.

Reaksi semacam ini bukan soal sopan santun, melainkan respons tubuh yang muncul otomatis terhadap rangsangan suara yang dianggap mengganggu. Karena itu, sebagian orang memilih mengatur ponsel dalam mode getar atau senyap sepanjang hari, bukan untuk menghindari orang lain, tetapi untuk melindungi diri dari ketidaknyamanan sensorik yang sebenarnya nyata mereka rasakan setiap hari.

8. Pengalaman Buruk yang Membuat Telepon Terasa Menakutkan

Bagi sebagian orang, telepon pernah menjadi "pembawa kabar buruk" di masa lalu, entah itu berita duka, masalah pekerjaan, atau konflik pribadi yang datang tanpa aba-aba. Psikolog Lindsay Scharfstein, yang banyak menangani kasus kecemasan sosial, menjelaskan bahwa rasa takut terhadap telepon umumnya bukan soal takut pada perangkatnya, melainkan takut pada penilaian atau kabar yang mungkin dibawanya.

Pengalaman semacam itu bisa membekas cukup lama, sehingga setiap kali ponsel berdering tanpa pemberitahuan, muncul kembali perasaan waspada yang sama seperti saat kejadian pertama kali terjadi. Pola ini membuat seseorang secara tidak sadar mengasosiasikan panggilan mendadak dengan sesuatu yang mengancam, meski panggilan yang masuk sebenarnya tidak selalu membawa hal buruk seperti yang dibayangkan.

9. Sedang Menetapkan Batasan yang Sehat

Tidak menjawab telepon terkadang justru menjadi bentuk kesadaran diri, bukan penghindaran. Orang dengan ciri ini memahami bahwa mereka berhak memilih kapan mau "tampil" dalam sebuah percakapan, alih-alih selalu siap sedia menjawab kapan pun orang lain menghubungi.

Cara menetapkan batasan ini biasanya terlihat lewat kebiasaan berikut:

  • Menonaktifkan notifikasi telepon saat waktu istirahat atau bersama keluarga.
  • Membalas pesan terlebih dulu untuk memastikan panggilan tersebut penting sebelum diangkat.
  • Tidak merasa bersalah ketika sebuah panggilan terlewat dan memilih menelepon balik di waktu yang lebih nyaman.
 

10. Memilih Mengurangi Interaksi Instan

Di tengah derasnya notifikasi, pesan, dan panggilan yang datang silih berganti, banyak orang mulai merasa kewalahan dan memilih membatasi interaksi yang sifatnya mendadak. Survei di kalangan pekerja kantoran di Inggris pada 2019 menemukan bahwa 76 persen generasi milenial dan 40 persen generasi baby boomer mengalami pikiran cemas setiap kali ponsel mereka berdering.

Sebagai respons dari kelelahan ini, sebagian orang sengaja mengambil jeda dari ponsel atau menunda menjawab panggilan bukan karena menghindar dari orang lain, melainkan untuk memberi ruang bagi diri sendiri agar tidak terus-menerus berada dalam mode "siap merespons". Cara ini dianggap membantu banyak orang merasa lebih tenang tanpa harus benar-benar memutus komunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Apakah Jarang Mengangkat Telepon Berarti Gangguan Kesehatan Mental?

Penting dipahami bahwa tidak semua kebiasaan menghindari telepon berarti seseorang mengalami gangguan kesehatan mental. Telephobia sendiri belum menjadi diagnosis tersendiri di DSM-5-TR, melainkan lebih sering dikategorikan sebagai bagian dari gangguan kecemasan sosial atau fobia spesifik. Bedanya terletak pada apakah kebiasaan ini sekadar preferensi pribadi atau sudah mengganggu aktivitas harian, pekerjaan, maupun hubungan dengan orang lain di sekitarnya.

Jika rasa cemas terhadap telepon sampai memicu gejala fisik yang berat, menghambat pekerjaan, atau membuat seseorang menghindari komunikasi penting dalam jangka panjang, ada baiknya mempertimbangkan konsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental terdekat. Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis maupun konsultasi profesional secara langsung.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ciri Orang yang Jarang Mengangkat Telepon

Apakah kebiasaan jarang mengangkat telepon selalu berarti seseorang punya gangguan kecemasan?

Tidak selalu. Menghindari panggilan bisa jadi sekadar preferensi komunikasi, misalnya lebih nyaman lewat pesan teks atau sedang fokus bekerja. Kebiasaan ini baru mengarah ke gangguan kecemasan apabila disertai gejala fisik yang mengganggu, seperti jantung berdebar kencang, sulit bernapas, atau rasa takut berlebihan yang membuat seseorang menghindari komunikasi penting dalam waktu lama.

Mengapa generasi muda tampak lebih sering mengabaikan panggilan dibanding generasi yang lebih tua?

Generasi yang tumbuh bersama pesan instan dan media sosial terbiasa dengan komunikasi yang bisa disusun dan diedit sebelum dikirim, sehingga panggilan yang menuntut respons spontan terasa lebih menekan. Pola komunikasi tertulis ini membuat sebagian dari mereka mengembangkan kebiasaan menyaring panggilan sebagai cara menjaga kenyamanan, bukan karena tidak peduli pada lawan bicara yang menghubungi mereka.

Bagaimana cara mengurangi rasa cemas saat harus menerima atau melakukan panggilan telepon?

Salah satu pendekatan yang umum digunakan adalah desensitisasi bertahap, yaitu membiasakan diri menerima atau melakukan panggilan singkat secara perlahan hingga rasa cemas berkurang seiring waktu. Menyiapkan poin pembicaraan sebelum menelepon, memberi jeda napas sejenak sebelum mengangkat, serta tidak memaksakan diri langsung menghadapi panggilan yang terasa berat juga bisa membantu proses ini berjalan lebih nyaman dan bertahap. Memahami pola-pola perilaku ini bisa membantu kita semua lebih bijak dalam menilai orang di sekitar, alih-alih buru-buru menuduh mereka cuek hanya karena jarang mengangkat telepon tepat waktu.

Â