7 Tanda Empati Anak Berkembang, Begini Cirinya untuk Proyeksi Karier Bagus di Masa Depan

Kenali tanda empati anak berkembang sejak dini, mulai dari cara berbagi sampai bekal kariernya di masa depan.

Diterbitkan 28 Agustus 2026, 13:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tanda empati anak berkembang bisa dikenali sejak usia dini, mulai dari cara anak merespons emosi orang lain sampai caranya berbagi tanpa diminta. Kemampuan ini tidak muncul dalam satu waktu, melainkan tumbuh bertahap seiring anak belajar mengenali perasaan diri sendiri dan orang di sekitarnya.

Riset yang dimuat di Journal of Child Psychology and Psychiatry menyebut, anak yang terbiasa berempati dan berperilaku prososial punya peluang lebih besar untuk sukses dalam hubungan sosial maupun jalur karier di masa depan. Sebaliknya, anak yang jarang menunjukkan empati lebih rentan pada perilaku agresif dan sulit bekerja sama dengan orang lain.

Sebagian orang tua menganggap empati sebagai bawaan lahir. Padahal, kemampuan ini terbentuk lewat interaksi anak dengan lingkungan, terutama lewat hubungan yang aman dengan orang tua sejak bayi. Semakin sering anak melihat contoh empati di rumah, semakin terlatih pula caranya merespons perasaan orang lain di luar rumah.

Lantas bagaimana tandanya bahwa anak memiliki empati yang kuat? Simak informasi selengkapnya, dihadirkan Liputan6, Jumat (28/8).

1. Anak Ikut Merasakan Emosi Orang Lain

Tanda paling awal empati muncul saat anak ikut menangis atau gelisah ketika mendengar orang lain menangis. Reaksi ini disebut emotion contagion atau penularan emosi.

Jurnal Research on Child and Adolescent Psychopathology mencatat, kemampuan ini muncul sejak bayi belum bisa membedakan dirinya dengan orang lain, sehingga emosi orang lain terasa seperti emosinya sendiri.

Seiring bertambah usia, reaksi ini berkembang menjadi kemampuan mengenali bahwa emosi tersebut milik orang lain, bukan dirinya. Tahap ini menjadi dasar sebelum anak bisa merespons perasaan orang lain lewat tindakan nyata.

2. Anak Melihat Reaksi Orang Tua di Situasi Baru

Sebelum bisa berempati sepenuhnya, anak lebih dulu belajar membaca reaksi orang di sekitarnya. Sejak usia sekitar enam bulan, bayi mulai melihat wajah orang tua untuk menilai keadaan di depannya.

Perilaku ini disebut social referencing. Contohnya, bayi memperhatikan wajah ayah saat menyambut tamu, lalu ikut tenang jika orang tua terlihat tenang.

Dalam catatan penelitian disebutkan bahwa kebiasaan ini menjadi fondasi awal anak memahami dunia sosial dan perasaan orang lain, sebelum kemampuan empati yang lebih kompleks muncul.

3. Anak Sadar saat Orang Lain Sedih

Tanda yang mudah diamati orang tua adalah ketika anak memperhatikan perubahan emosi orang lain, misalnya menyadari temannya menangis karena sedih.

Ulasan yang dipublikasikan di jurnal Nature mencatat, anak mungkin belum tahu harus berbuat apa, tetapi ia sudah menunjukkan perhatian atau bertanya tentang keadaan temannya.

Kemampuan mengenali dan merespons emosi orang lain ini menjadi bagian perkembangan empati anak sejak usia dini, sekaligus bekal untuk kariernya kelak, karena memahami orang lain dibutuhkan di hampir semua profesi.

4. Anak Berusaha Menghibur Orang yang Sedih

Anak yang mulai berempati tidak berhenti pada sadar bahwa orang lain sedih. Ia mencoba membuat orang tersebut merasa lebih baik lewat pelukan, mengambilkan barang, atau menawarkan mainan.

Bentuk hiburan ini tidak selalu berupa kata-kata. Anak bisa duduk di dekat orang yang menangis tanpa bicara apa pun, sekadar menemani. Perilaku menghibur ini termasuk perilaku prososial yang tumbuh seiring anak belajar memahami emosi orang lain.

5. Anak Mau Berbagi Tanpa Diminta

Anak yang bersedia memberikan sebagian miliknya kepada orang lain, tanpa disuruh, menunjukkan perkembangan kemampuan sosial dan empati.

Kemampuan anak memahami pikiran dan kondisi mental orang lain berkaitan dengan perilaku membantu, bekerja sama, berbagi, dan menghibur.

Kebiasaan berbagi ini turut melatih anak memahami bahwa kebutuhan orang lain sama pentingnya dengan keinginannya sendiri.

6. Anak Memahami Sudut Pandang Orang Lain

Anak belajar bahwa orang lain bisa memiliki pikiran atau keinginan berbeda darinya. Ia mulai paham, sesuatu yang menurutnya menyenangkan belum tentu membuat temannya senang. Kemampuan ini sebagai theory of mind, yang biasanya muncul di usia 18 sampai 24 bulan.

Kemampuan melihat masalah dari sisi orang lain, atau perspective-taking, menjadi bagian proses empati, meski anak belum selalu tepat memahami perasaan orang lain di tahap ini.

Orang tua dapat membantu lewat pertanyaan sederhana, misalnya menanyakan bagaimana perasaan teman saat mainannya diambil.

7. Anak Peduli saat Orang Lain Diperlakukan Tidak Baik

Empati juga muncul ketika anak melihat temannya diejek atau disakiti. Anak bisa membela temannya, merasa tidak nyaman, atau mendekati orang yang sedang sendirian.

Respons ini menunjukkan anak mulai mengenali situasi yang tidak adil, bukan sekadar emosi sedih atau senang.

Kemampuan memahami sudut pandang orang lain membantu anak mengenali ketika seseorang berada dalam situasi sulit, lalu mendorong munculnya tindakan menolong.

Pertanyaan Seputar Tanda Empati Anak Berkembang

Kapan anak mulai menunjukkan tanda empati?

Tanda paling awal, seperti ikut menangis mendengar tangisan orang lain, bisa muncul sejak bayi. Tanda yang lebih kompleks, seperti memahami sudut pandang orang lain, biasanya muncul di usia 18 sampai 24 bulan.

Apakah semua anak berkembang empatinya dengan kecepatan sama?

Tidak. Kemampuan empati berbeda pada tiap anak sesuai usia, karakter, dan pengalaman sosialnya. Orang tua tidak perlu langsung khawatir jika anak belum menunjukkan semua tanda di atas.

Bagaimana cara orang tua melatih empati anak?

Orang tua bisa membicarakan perasaan bersama anak, menjadi contoh saat berinteraksi dengan orang lain, serta memvalidasi emosi anak ketika sedih atau kecewa. Membacakan cerita tentang perasaan tokoh juga membantu anak mengenali beragam emosi.

Apakah empati anak berhubungan dengan kariernya nanti?

Riset di Journal of Child Psychology and Psychiatry mencatat, anak yang terbiasa berempati dan berperilaku prososial punya peluang lebih besar sukses dalam hubungan sosial maupun jalur karier di masa depan.

Apa beda simpati dan empati pada anak?

Simpati adalah rasa iba terhadap kondisi orang lain, sedangkan empati mencakup usaha memahami dan ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain, lalu meresponsnya lewat tindakan.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6