Liputan6.com, Jakarta - Air cucian beras sering kali langsung dibuang begitu saja. Padahal, air berwarna putih keruh dari bilasan beras ini masih bisa dimanfaatkan untuk membantu perawatan tanaman.
Salah satu cara yang bisa dicoba adalah memfermentasi air cucian beras menjadi pupuk cair. Prosesnya relatif sederhana dan dapat dilakukan menggunakan bahan yang mudah ditemukan di rumah.
Fermentasi membuat air cucian beras mengalami proses penguraian oleh mikroorganisme. Hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair organik tambahan untuk tanaman.
Advertisement
Namun, perlu dipahami bahwa air cucian beras bukan pengganti pupuk utama. Kandungan haranya relatif terbatas sehingga lebih tepat digunakan sebagai pupuk pelengkap.
Berikut cara fermentasi air cucian beras untuk pupuk cair, dirangkum Liputan6.com, Kamis (27/8/2026).
Bahan Fermentasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5520107/original/098283900_1772606832-unnamed__79_.jpg)
Untuk membuat pupuk cair dari air cucian beras, siapkan:
- 1 liter air cucian beras pertama atau kedua
- 2–3 sendok makan gula merah, gula pasir, atau molase
- 1–2 sendok makan air matang atau air biasa sebagai pelarut tambahan jika diperlukan
- Wadah plastik atau botol yang memiliki tutup
Air cucian beras sebaiknya berasal dari beras yang belum dicampur bahan lain. Hindari menggunakan air cucian beras yang sudah tercampur sabun, minyak, atau bahan pembersih.
Advertisement
Cara Fermentasi Air Cucian Beras
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7605422/original/089124400_1780389671-Air_Cucian_Beras.jpeg)
1. Tampung air cucian beras
Saat mencuci beras, tampung air bilasan pertama atau kedua sebanyak sekitar 1 liter. Air cucian beras pertama biasanya masih membawa lebih banyak sisa pati dan partikel dari permukaan beras. Jika menggunakan air cucian beras kedua, tetap bisa dimanfaatkan.
2. Masukkan ke dalam wadah
Tuangkan air cucian beras ke dalam botol atau wadah plastik yang bersih. Jangan mengisi wadah sampai penuh. Sisakan ruang kosong karena selama fermentasi dapat terbentuk gas.
3. Tambahkan sumber gula
Masukkan sekitar 2–3 sendok makan gula merah yang sudah dilarutkan terlebih dahulu. Gula pasir atau molase juga dapat digunakan. Gula berfungsi sebagai sumber makanan bagi mikroorganisme selama proses fermentasi.
4. Aduk hingga tercampur
Tutup wadah dan kocok atau aduk perlahan sampai gula tercampur dengan air cucian beras. Setelah itu, tutup wadah tetapi jangan terlalu kencang jika wadah memungkinkan penumpukan gas. Salah satu pilihan yang lebih aman adalah membuka tutup sebentar secara berkala untuk mengeluarkan gas.
5. Simpan untuk proses fermentasi
Letakkan wadah di tempat teduh, tidak terkena sinar matahari langsung, dan bersuhu relatif stabil. Fermentasi dapat dilakukan selama sekitar 5–7 hari. Selama proses tersebut, perubahan aroma, warna, dan terbentuknya sedikit gas dapat terjadi.
6. Periksa hasil fermentasi
Setelah beberapa hari, periksa aromanya. Hasil fermentasi yang normal umumnya memiliki aroma asam atau fermentatif. Jika muncul bau busuk menyengat, lendir yang tidak wajar, atau pertumbuhan jamur berlebihan, sebaiknya jangan digunakan pada tanaman.
Tips agar Fermentasi Tidak Gagal
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5545325/original/011432000_1775181407-Siram_dengan_Air_Bersih_atau_Air_Leri__Air_Cucian_Beras_.jpg)
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar larutan tidak mudah rusak. Pertama, gunakan wadah yang bersih dan jangan mencampurkan bahan kimia seperti deterjen atau sabun. Kedua, jangan menutup wadah secara terlalu rapat apabila gas hasil fermentasi tidak memiliki jalan keluar.
Ketiga, simpan di tempat teduh dan jangan terpapar panas matahari langsung. Keempat, selalu periksa aroma dan kondisi larutan sebelum digunakan.
Jika hasil fermentasi berbau busuk atau menunjukkan kontaminasi yang mencurigakan, lebih baik tidak digunakan daripada berisiko mengganggu tanaman.
Advertisement
Cara Menggunakan Pupuk Cair Air Cucian Beras
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5492989/original/028207000_1770191007-Cara_Membuat_Pupuk_Cair_dari_Air_Cucian_Beras.jpg)
Pupuk cair hasil fermentasi sebaiknya tidak langsung dituangkan dalam jumlah banyak ke tanaman. Encerkan terlebih dahulu dengan air.
Sebagai penggunaan awal, campurkan sekitar 10–20 ml pupuk cair dengan 1 liter air, kemudian siramkan ke media tanam atau tanah di sekitar tanaman.
Gunakan secukupnya dan amati respons tanaman. Jika tanaman menunjukkan tanda-tanda stres, hentikan pemakaian dan gunakan larutan yang lebih encer pada penggunaan berikutnya.
Untuk tanaman dalam pot, jangan sampai larutan menggenang karena kondisi media yang terlalu basah dapat mengganggu akar.
Â
Pertanyaan Seputar Fermentasi Air Cucian Beras
1. Berapa lama air cucian beras difermentasi untuk pupuk cair?
Air cucian beras dapat difermentasi sekitar 5–7 hari. Selama prosesnya, perhatikan perubahan aroma dan kondisi larutan.
2. Apakah air cucian beras bisa langsung digunakan untuk menyiram tanaman?
Sebaiknya tidak langsung digunakan dalam konsentrasi pekat, terutama jika sudah difermentasi. Encerkan terlebih dahulu dengan air agar lebih aman untuk tanaman.
3. Apakah gula pasir bisa digunakan untuk fermentasi air cucian beras?
Bisa. Gula pasir dapat menjadi sumber makanan bagi mikroorganisme selama proses fermentasi. Selain gula pasir, gula merah atau molase juga dapat digunakan.
4. Apakah air cucian beras pertama atau kedua lebih baik?
Keduanya dapat digunakan. Air cucian pertama biasanya lebih banyak membawa sisa pati dan partikel dari permukaan beras, sedangkan air cucian kedua juga masih dapat dimanfaatkan.
5. Apakah pupuk cair air cucian beras bisa digunakan untuk semua tanaman?
Tidak ada jaminan hasil yang sama pada semua tanaman. Gunakan sebagai pupuk tambahan dalam konsentrasi rendah dan amati respons tanaman.
Â
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333889/original/091356200_1787811731-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-27T131833.691.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334046/original/006423000_1787818653-cek_fakta_demo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333970/original/076820900_1787815384-Your_paragraph_text.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333897/original/064209300_1787812486-cek_fakta_-_tebuireng.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5499854/original/092636400_1770797030-mencucui_beras.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7742398/original/065750100_1780549524-Pupuk_Cair.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4295781/original/024502500_1674106334-pupuk_organik.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334076/original/018558800_1787819646-Gemini_Generated_Image_6dg2lf6dg2lf6dg2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333952/original/051322900_1787814987-Risiko_Membuang_Air_Mendidih_ke_Wastafel.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333725/original/034956100_1787804858-Gemini_Generated_Image_ne79j9ne79j9ne79.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334128/original/017048800_1787821079-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334096/original/058254900_1787820321-3f7fd350-af6f-4216-85da-66ce892813cb.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334028/original/094576200_1787817977-wdfdsa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329494/original/010394300_1787283643-0Iv4uYpndxRFMmmQewCYDLY9p56KIojaU6fEKy5b.jpg)